
-Sadeva-
Kondisi Teo memburuk. Demamnya tidak juga turun. Keringat dingin membasahi dahinya. Mulutnya putih pucat. Bahkan tidak ada rona kemerahan di pipinya.
Kaivan sampai di rumah sekitar sepuluh menit setelah kondisi Teo drop. Rombongan dokter terbaik di Roma sudah didatangkan, tapi tetap saja mereka tidak bisa berbuat banyak. Sepertinya ada sedikit komplikasi yang menjadikan kesehatan Teo semakin buruk. Tak ada cara lain, setelah diberikan obat, kita hanya bisa menanti perkembangannya hingga beberapa jam ke depan.
Mungkin karena terlalu tertekan, Kyla collapse beberapa waktu yang lalu. Kaivan membawanya ke kamar untuk beristirahat. Sedari tadi, wanita itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Menganggap semua yang terjadi adalah kesalahannya. Sementara Evellyn, dia sama terpuruknya. Tak beranjak dari sisi Teo sedetikpun. Wanita itu terus menggenggam tangan si kecil, terkadang mengusap wajahnya menyeka keringat dingin yang keluar dari tubuhnya.
"Evellyn, makanlah dulu" Aku menyodorkan nampan berisi makanan ke hadapannya.
"Aku tidak berselera, Deva" jawabnya malas.
"Kalau kau tidak mau makan, kau akan sakit. Apakah kau masih bisa menjaga Teo jika sakit? Tidak kan? Makanya buka mulutmu." Aku menyendok nasi dengan sedikit sayur dan daging kemudian membawanya ke depan mulut Evellyn.
"Aku bisa makan sendiri" ujarnya sebelum mengambil alih sendok di tanganku.
Aku selalu berpikir bahwa sains bisa menjawab semua masalah hidup manusia. Tapi aku salah. Terkadang hal-hal yang tidak logis lebih bermakna daripada bukti ilmiah.
Dulu, setiap bersama Kyla, telingaku selalu dipenuhi dengan cerita-cerita dongeng tentang dewa dewi yang bahkan hanya hidup di dalam khayalan. Padahal aku seorang scientis, hanya percaya pada hal-hal nyata yang terbukti secara ilmiah. Bukan mitos-mitos tidak jelas yang beredar dari mulut ke mulut. Tapi ada satu cerita yang aku sukai, cerita tentang Kotak Pandora.
"Kau tau kenapa wanita diciptakan?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku, membuat gadis di depanku menghentikan sebentar kunyahannya.
"Karena Adam yang meminta?" Evellyn menebak asal.
Aku tersenyum. Jawabannya sangat realis, tidak seperti Kyla yang akan mulai berceramah tentang kisah-kisah aneh yang belum pernah aku dengar. "Jangan jawab berdasarkan Kitab Kejadian. Kau sudah tinggal di Roma cukup lama, apa tidak pernah mendengar kisahnya?"
"Kisah apa?"
"Kotak Pandora"
"Bagaimana kisahnya?"
Konon ceritanya, seorang manusia mencuri api dari Gunung Olympus. Mengetahui hal itu, Zeus berniat menghukum manusia dengan memerintahkan anaknya, Hefaistos, dewa pandai besi, untuk menciptakan manusia dalam wujud perempuan.
Maka terciptalah manusia perempuan pertama di dunia. Athena mengajarinya menenun dan menjahit serta memberinya pakaian yang indah, Aphrodite memberinya kecantikan dan hasrat, para Kharis memakaikannya perhiasan, para Hoirai memberinya mahkota, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Poseidon memberinya kalung mutiara, Hera memberinya rasa penasaran yang besar, Hermes memberinya kepandaian berbicara serta menamainya Pandora, yang artinya 'mendapat banyak hadiah'.
"Lalu, apa yang terjadi?" Evellyn menyimak ceritaku dengan antusias.
"Zeus memberikan Pandora pada Epimetheus untuk dinikahi"
"Mereka menikah?"
"Laki-laki mana yang bisa menolak wanita cantik?"
Di hari pernikahan, para dewa memberikan hadiah berupa sebuah kotak yang sangat indah, kotak yang tidak boleh dibuka oleh siapapun. Namun, karena rasa penasaran yang tinggi, Pandora membuka kotak tersebut. Begitu di buka, aroma menakutkan tiba-tiba memenuhi udara. Terdengar suara kerumunan di dalam kotak yang dengan cepat terbang ke luar. Pandora sadar bahwa ia telah melepaskan sesuatu yang mengerikan dan dengan segera menutupnya. Tapi dia terlambat.
"Terlambat?" Evellyn menyelesaikan suapan terakhinya sebelum mengambil air putih dan menegaknya.
"Iya. Terlambat" jawabku.
"Apa yang terlepas dari kotak itu?"
"Teror untuk kehidupan manusia. Masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya telah bebas. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkit umat manusia."
Evellyn terdiam sebentar. "Pandora pasti menyesal"
"Dia sangat terkejut dan menyesal. Tapi kau tahu, Pandora kemudian melihat kembali ke dalam kotak dan ternyata masih ada satu hal yang tertinggal."
"Apa?"
***