
Aku melihatnya dari balik kaca. Anak sulungku tertidur pulas dengan bermacam-macam selang ditubuhnya. Sebuah inhalator terpasang di hidung kecilnya. Kotak elektrokardiogat bertengger di samping kanan. Dia sendirian di sana, di sebuah ruangan steril yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang, bahkan aku, ibunya. Aku tidak bisa mendekat ke sisinya, mengusap lembut rambutnya, dan menyenandungkan nada-nada indah di telinganya. Aku hanya bisa berdiri di sini, di balik kaca, berharap dia akan segera membuka mata.
"Operasinya sudah dilaksanakan. Tetapi, tubuh Teo menunjukkan reaksi penolakan terhadap donor yang diterimanya" jelas Kaivan.
Air mata mengalir turun tanpa bisa aku tahan. "Teo... anakku.. bayi kecilku" lirihku meratap ke arah makhluk kecil itu.
Kaivan membawa kepalaku bersandar di dadanya, "Jangan menyerah sayang. Masih ada harapan untuk Teo. Aku akan melakukan apa saja untuk kesembuhan anak kita"
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanyaku di sela-sela isak tangis.
"Tidak ada operasi yang menjamin seratus persen berhasil sayang. Tapi tim dokter sedang mencoba semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Teo. Mereka orang-orang yang handal. Teo juga anak yang kuat. Kita harus yakin bahwa Teo akan sembuh. Dia akan kembali di tengah-tengah kita. Aku, kau, Teo, dan Xavier. Kita berempat pasti bisa melewati ini semua."
"Aku ingin masuk dan berada di samping Teo"
Kaivan mendesah, "Tidak bisa Stella"
"Tidak bisa? Tapi aku ibunya. Teo pasti membutuhkanku sekarang"
"Kau bukan hanya ibu bagi Teo, tapi juga Xavier. Kau harus tetap steril untuk bisa menyusui Xavier sayang. Jika kau masuk dan terkena paparan radiasi dari pengobatan Teo, bagaimana dengan Xavier?"
Kenapa aku harus dihimpit oleh keadaan seperti ini? Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Xavier menanggung resiko yang lebih besar. Bisa-bisanya hidup mempermainkanku dengan kejam.
"Aku belum pernah menyusui Xavier" tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
"Kau tenang saja. Pihak rumah sakit masih bisa memberikan pengganti untuk asupan Xavier."
"Tapi tetap saja, apapun itu tidak bisa lebih baik daripada ASI."
"Iya memang. Tapi kondisi tubuhmu juga penting Stella. Apa kau sudah yakin bisa menyusui Xavier?"
"Aku baik-baik saja Kaivan. Aku yakin bisa menyusuinya"
"Baik. Ayo kembali ke kamar. Aku akan menyuruh petugas mengantar Xavier ke ruanganmu"
***
Aku menggeleng. Rasanya sungguh sangat ingin menangis dan menyalahkan diriku sendiri.
"Rileks sayang. Jangan membuatmu merasa terbebani. Kau mengalami pendarahan hebat, wajar jika tubuhmu belum bisa mengeluarkan ASI"
Aku menghirup nafas panjang menenangkan diriku sendiri.
Kaivan mendekapku dari belakang, menciumi pucuk kepalaku. Lelaki itu mengajakku bercanda, berusaha membuat pikiranku lebih tenang. Dan benar saja, lima belas menit berlalu, tetesan pertama cairan berwarna putih itu keluar dari putingku. Tanpa menunggu lama, aku segera mendekatkannya ke mulut si kecil. Aku tersenyum, insting bayinya membuat mulut kecil itu bergerak mencari-cari sumber makanannya.
Lima menit berlalu. Nampaknya Xavier sudah cukup kekenyangan. Tetapi kemudian aku merasakan kain penutup Xavier di bagian bawah basah dan terasa agak hangat. Dia buang air kecil.
"Biar aku saja" Kaivan berinisiatif untuk membersihkan air seni Xavier.
"Kau mau membersihkannya?" mulutku menganga melihat apa yang dilakukan Kaivan. Seingatku, dia selalu beralasan macam-macam ketika aku meminta tolong untuk membersihkan kotoran Teo. Tapi sekarang, tanpa diminta pun dia melakukannya untuk Xavier.
"Aku belum bisa sehandal dirimu. Tapi aku tidak akan lari lagi jika kau menyuruhku membersihkan kotoran bayi. Tidak hanya membersihkan kotorannya, aku juga akan memandikan, membuatkan makanan, dan begadang untuknya jika perlu."
Aku mengernyit bingung, kenapa dia tiba-tiba menjadi ayah idaman seperti ini.
"Kau sudah berjuang sangat keras Stella. Aku tidak ada di sampingmu ketika kau melahirkan Teo, tapi saat kau melahirkan Xavier, aku melihat semuanya. Bagaimana rasa sakit yang harus kau lalui, bagaimana perjuanganmu mengantarkan dia ke dunia, rasanya dengan seribu kebaikan pun aku tidak akan bisa membalasnya. Aku hanya bisa membalas dengan hal-hal kecil seperti ini."
Seutas senyum terukir di sudut bibirku, "Saat ini kau benar-benar terlihat seperti ayah dua anak. Sangat... emmm... keren sekali."
"Hati-hati. Jangan jatuh cinta padaku. Ibu dari anak-anakku sangat galak" candanya sambil mengganti kain penutup Xavier.
"Dia pasti juga sangat cantik" timpalku mengikuti candaanya.
"Tentu saja. Wanita paling cantik di dunia"
Kami sama-sama terkikik, namun tiba-tiba suara pintu dibuka mengalihkan perhatian kami.
***
Tampak beberapa orang berseragam polisi memberi hormat sebelum mengatakan,
"Tuan Kaivan Alromano Baird, Anda ditangkap atas kasus perijinan illegal dan perusakan lingkungan yang melibatkan perusahaan Anda. Anda punya hak untuk diam, apapun yang Anda katakan bisa dipakai sebagai bukti di muka pengadilan."