
Pernah mendengar istilah filsafat kebohongan? Yaitu seni berbohong yang mengunakan kebohongan lain untuk menutup satu kebohongan. Iya, sekali kita berdusta maka kita akan membutuhkan kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi kebohongan itu. Aku bukan tipikal orang yang suka menutupi fakta dalam menjalani sebuah hubungan, tapi teori itu tidak berlaku belakangan ini.
"Kau kemana saja Kylla?" Sadeva menemukanku seusai acara.
"Ah.. hanya sekedar berkeliling. Tempat ini memiliki koleksi seni yang menarik" Benar kan? Aku berbohong lagi. Padahal baru saja aku bercinta dengan bos besarnya.
"Acaranya sudah selesai. Ayo kita pulang" tanpa menunggu jawaban dariku, Deva menggandeng tanganku menuju basement, tempat dimana mobilnya terpakir.
"Mama akan tiba besok pagi di bandara." sambil melajukan mobilnya Sadeva memberi tahu aku perihal kedatangan ibunya.
"Perlu aku temani jemput di bandara?" tanyaku basa-basi.
"Kamu tidak masuk kerja?"
"Aku bisa minta ijin sebentar"
"Oke. Aku jemput jam tujuh."
"Ini apa?" tiba-tiba atensiku tertuju pada secarik kertas yang terselip di dashboard mobilnya.
Sadeva menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal ketika aku dengan perlahan membuka kertas yang terlipat itu.
"Undangan?" ucapanku tidak dijawab Deva, tapi begitu membaca apa yang tertera dalam sepucuk surat itu mata aku membulat sempurna.
"Ini.." pandanganku beralih ke pemuda yang sekarang sedang mengemudikan mobil di sampingku itu, "bukannya dia.. Clara?"
Tanpa melepas pandangannya dari jalanan di depan Sadeva mengangguk, "Dia akan menikah"
"Tidak masalah, asalkan kau menemaniku"
"Kau bilang dulu dia mengkhianatimu?"
"Lebih tepatnya cinta yang belum selesai, Kyla."
Clara, wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Sadeva dulu akan menikah. Aku dan Deva bertemu saat kita sama-sama terpuruk. Setelah Kaivan pergi dan aku meninggalkan Teo di panti asuhan untuk mengambil beasiswa di Roma, saat itulah aku bertemu Deva. Kondisi Deva tidak kalah terpuruknya dariku. Pada hari H pernikahannya dengan Clara, tiba-tiba gadis itu membatalkannya sepihak begitu saja. Meninggalkan Deva yang sudah berdiri di depan altar, pergi dengan mantan kekasihnya.
Ah! Kalau dipikir-pikir apa bedanya aku dengan Clara? Pernikahanku dan Deva sudah di depan mata, tapi aku malah menghianatinya, bercinta dengan lelaki lain. Inilah mengapa aku belum berani mengungkapkan tentang Kaivan dan Teo, aku takut dia terluka dengan cara yang sama untuk kedua kalinya. Aku tau cepat atau lambat Deva akan mengetahuinya, tapi aku butuh cara agar tidak menyakiti pria itu terlalu dalam.
"Kita sudah sampai" Deva menginjak rem sebelum mobilnya terhenti tepat di depan apartemenku.
"Aku masuk dulu" baru saja tanganku ingin menggapai pintu mobil, Deva menarikku dan mencuri satu ciuman di bibirku.
Cup.
"Kau jarang menciumku akhir-akhir ini" ucapnya setelah melepaskan bibirku. "Kau juga semakin sibuk, kita hampir tidak punya waktu untuk sekedar berduaan"
"Ada banyak yang harus aku selesaikan sebelum mengambil cuti untuk menikah." Satu kebohongan lagi untuk menutup kebohongan lainnya.
"Aku merindukanmu, Kyla" Deva memajukan wajahnya lagi.
Entah mengapa, secara refleks aku mendorong dadanya ke belakang, membuat dahi lelaki berkulit pucat itu sedikit mengerut, mungkin dia menyadari ada yang tidak biasa dariku. "Buona notte (good night)" ucapku lembut sebelum membuka pintu mobil dan menggelandang masuk ke dalam apartemen. Aish, kenapa kau harus bersikap sepeti itu padanya, Kyla.