
Deva mengalah. Dia membiarkanku pulang bersama Kaivan dengan Jet pribadinya. Selama perjalanan kita hanya terdiam, tak ada yang mengeluarkan satu patah katapun. Situasi ini sangat canggung. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. Tapi yang jelas dia mendiamkanku. Sejak kita masuk ke dalam mesin terbang ini dia hanya sibuk menggeser layar iPad Pro 10.5 silvernya tanpa ekspresi sama sekali. Matanya memang tertuju pada benda kotak sebesar nampan itu, namun aku tahu pikirannya sedang menggelandang entah kemana.
"Kai" aku berkata lirih. Takut jika menganggu kesibukannya.
Gerakan jemari lelaki itu berhenti sesaat, "Hm? " hanya itu yang keluar dari bibir tebalnya.
"Kamu marah?"
Dia terdiam, "Menurutmu?" Jemarinya kembali menari-nari di atas layar.
"Maaf.. " aku menunduk, tidak mampu melanjutkan.
"Diamlah.. Aku sedang berpikir"
Mulutku terkatup. Tidak ada yang lebih menyeramkan daripada Kaivan yang mendiamkanku seperti ini. Kami kembali dilingkupi keheningan hingga akhirnya Kaivan menekan tombol turn off di sisi kanan benda pipih dalam genggamannya itu.
"Stella.." dia menyebut namaku lirih.
Aku menelan ludah, apapun yang akan dikatakan Kaivan sepertinya bukanlah hal yang bagus.
"Ya"
Ada jeda sebentar sebelum dia meneruskan kalimatnya. "Lelaki itu.. Apa kau mencintainya?"
"Deva?" aku memastikan siapa yang ditanyakan Kaivan.
Dia mengangguk.
Aku tidak tau Kaivan. Tapi jika harus memilih antara kau dan dia, aku akan memilihmu.
"Dia orang yang berarti bagiku Kai" justru kalimat itu yang keluar dari mulutku.
"Jangan mencintainya. Jangan kembali padanya. Tetaplah di sisiku" Tangan Kaivan menangkup kedua tanganku. "Aku akan berikan semua yang aku punya. Hanya saja, jangan tinggalkan aku."
Andai saja kau tau, aku tak berniat sedikitpun jauh darimu. Kau dan Teo, kalian berdua adalah duniaku.
"Stella.."
Ini dia.. Ini yang sebenarnya ingin dia katakan.
"Kau masih muda.. Kau masih punya banyak kesempatan. Ditambah lagi, Teo.. Dia membutuhkanmu. Anak kita membutuhkan donor secepatnya Stella, dia tidak bisa menunggu terlalu lama." Matanya memandang lurus ke arahku, jakunnya bergerak turun, dengan hati-hati dia merangkai kalimat yang ingin di utarakannya sejak tadi, "Bagaimana jika.. janin dalam perutmu itu.."
Tanpa harus diteruskan, aku mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Jika aku minta kau memilih antara aku dan Teo, siapa yang akan kau pilih?" kalimatnya ku potong.
"Stella, bagaimana bisa aku memilih satu di antara kalian berdua."
Kaivan mengacak rambutnya kasar. Guratan frustasi tercetak jelas di wajahnya.
"Jika kau tidak menginginkanku lagi aku tidak masalah. Kita bisa-" bibir tebal Kaivan membungkamku. Dapat kurasakan ada percikan amarah dalam gerakan bibirnya. Aku biarkan dia mendominasi, menyalurkan setiap api emosi dan kekecewaan yang merongrong batinnya. Dia butuh pelampiasan.
Kita sama-sama kehabisan nafas. Namun amarah dalam matanya perlahan mereda. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Wajahnya bersembunyi di ceruk leherku. Dia memelukku erat, sangat erat, seolah aku bisa menghilang darinya kapan saja.
"Maafkan aku.." nada bicaranya memelas. "Jangan tinggalkan aku, Stella" dia seperti bayi besar yang merengek kepada ibunya.
Aku merengkuh tubuh besar lelaki itu, tangan kananku mengusap lembut rambutnya. Ku turunkan wajahku dan ku kecup keningnya lembut. "Bagaimana aku bisa pergi, jika kau selalu menjadi tempat untukku kembali"
Dengan kalimat itu, Kaivan semakin menenggelamkan wajahnya ke pelukanku, menikmati aroma lavender dari parfum Vera Wang Bouqet yang biasa aku pakai.
"Aku suka wangimu?" celotehnya tiba-tiba.
"Jangan bohong. Kau bilang wangi parfum membuatmu pusing"
Kaivan terkekeh "Ah. Kau memang sulit dirayu"
Ku angkat wajah Kaivan hingga sejajar dengan wajahku "Apa maumu bayi besar?"
"Cium aku"
Cup.
"Lagi"
Cup.
"Lebih banyak lagi"
Cup. cup. cup. cup.
Aku menerbangkan ciuman kecil-kecil diseluruh permukaan wajah lelaki itu. Dia terkekeh menahan geli.
"Stella, kau membuatku geli"
"Kau yang minta sendiri tadi "
"Kau menantangku?" Kaivan mengangkat alisnya.
"Siapa takut?"
"Baik. Akan aku beri pelajaran mulut nakalmu itu. Kemari"