
"Bagaimana Teo sewaktu kau berjumpa dengannya pertama kali?" tanyaku pada Evellyn sambil menunggu Teo selesai mengunyah makanannya.
"Kau sebaiknya tidak usah tau."
"Seburuk itukah?"
Mulut Teo sudah kembali terbuka lebar, menanti suapan yang ketiga. Dengan senang hati aku mengulurkan satu sendok ke mulutnya, "Anak pintar" pujianku dibalas dengan satu kikikan. Manis sekali.
"Teo menangis dan terus menangis. Tubuhnya kurus dan penampilannya tidak terurus. Hanya itu yang bisa aku ingat. Dia sangat sulit sekali didekati."
Aku menyimak cerintanya sambil terus menyuapi bayi kecilku. Kita berjalan-jalan kecil mengelilingi taman bunga di halaman rumah Kaivan.
"Hingga suatu hari, Kaivan mengajaknya berkeliling taman ini. Dia juga menyenandungkan sebuah lagu, ah entah apa, aku tidak ingat lagunya. Hanya saja Teo tampak senang memainkan bunga-bunga baby breath di taman ini. Di taman ini pula untuk pertama kali Teo memperbolehkanku menggendongnya." Ada setitik senyum di ujung bibir Evellyn.
"Kenapa kau mau mengurus Teo? Maksudku, bukannya kau ingin menikahi Kaivan?"
Gadis itu tersenyum kecut, "Kau pasti mengira aku mendekati Teo untuk merebut hati Kaivan. Ya, memang benar aku ingin merebut hati ayahnya. Namun rasa sayangku pada anak ini tulus. Terserah kau mau percaya tidak. Tapi aku menyayangi anak ini."
"Kenapa?"
Evellyn mengalihkan pandangannya ke mataku, "Karena Teo mengingatkanku kepada seseorang"
"Seseorang?"
"Adikku, Clara"
"Clara?"
"Sepertinya aku baru berumur sembilan atau sepuluh tahun waktu itu. Memoriku tidak terlalu tajam, tapi aku masih ingat betul apa yang aku rasakan waktu itu."
"Apa yang terjadi?"
"Aku meninggalkannya. Adikku. Waktu itu aku marah. Setelah bercerai dari ayahku, ibuku hanya tinggal di rumah yang bahkan tak layak huni. Keluarga ayahku tidak membiarkan ibuku menerima uang sepeserpun dari perceraiannya dengan ayahku. Ego ibuku juga cukup tinggi untuk menerima uang itu. Akhirnya aku, ibuku, dan adikku harus hidup serba kekurangan. Teman-temanku meledekku karena aku miskin. Di setiap sudut, orang-orang membicarakan keluargaku dan menyebut ibuku sebagai pelacur. Bahkan mereka menyebutku anak jalang, anak hasil hubungan gelap."
Aku menelan ludah, tidak tahu bahwa kisahnya seburuk itu.
"Aku tidak menyangka kau mengalami hal seperti itu"
"Setelah beberapa tahun berpisah, ayahku mencari kami lagi. Dia ingin mengambilku dan Clara dari ibuku. Clara tidak mau, dia ingin tetap bersama ibuku. Tapi aku, aku pikir aku akan hidup lebih baik jika bersama ayahku. Bisa berpakaian bagus, makan makanan enak, dan tinggal di tempat yang nyaman. Oleh karena itu aku meninggalkan Clara. Dia menangis saat aku memasuki mobil ayah dan meninggalkannya. Dia memohon padaku untuk jangan meninggalkan ibuku. Tapi aku bersikeras. Dia bahkan mengejar mobil yang aku tumpangi sampai terjatuh."
Evelly menarik nafas dalam, menahan dirinya agar tidak menjatuhkan air mata, "Saat pertama kali melihat Teo, aku teringat pada Clara. Bagaimana anak sekecil ini harus hidup terpisah dari keluarganya dalam kondisi yang serba kekurangan. Karena itu, aku mengulurkan tanganku pada Teo. Mencoba mengobati rasa bersalahku pada Clara dengan merawat anak ini. Tapi tanpa aku sadari, semakin hari aku semakin menyayanginya. Dia benar-benar seperti ayahnya, bisa membuat wanita manapun jatuh cinta."
Aku tersenyum pahit, "Meskipun aku tidak suka perasaanmu ke Kaivan, tapi... terimakasih, sudah mengurus Teo selama ini"
Dia balas tersenyum, "Mau mencoba menggendong Teo?"
"Benarkah?"
Evellyn mengangguk. "Letakkan dulu mangkoknya di bangku itu."
Aku menurut.
"Rileks. Pasang senyummu. Jangan tegang."
Setelah itu Evellyn mengajak Teo sedikit bercanda, "Teo sayang... mau digendong Mama Teo? Mau ya.. Anak tampan pasti mau.. iya kan?" Wanita itu sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Teo ke kanan dan kiri. Sesekali dia memutar tubuhnya sendiri di tempat membuat Teo merasa diayun-ayunkan, tawa renyah keluar dari mulut si kecil. "Hap. Teo sama Mama.." dengan sekali gerak, tangan wanita itu terulur ke arahku, meletakkan si bayi kecil dalam gendonganku.
Evellyn membantuku membuat Teo merasa nyaman dalam gendonganku dengan mengayun-ayunkan lenganku. Aku tidak menyangka saat-saat ini akan datang begitu cepat, Teo yang tertawa girang dalam gendonganku, mendekap ke tubuh hangatku, dan merangkul leherku erat. Dia tidak menangis lagi ketika aku mendekatinya, dia bahkan menerima kehadiranku di sampingnya. Dia memakan masakanku, dia membiarkan aku menyuapinya, bahkan dia mau mendekap tubuhku. Andai saja waktu bisa berhenti di sini, tapi tidak, jarum jam terus melaju dan tidak ada yang namanya kebahagiaan abadi.
"Kyla" Evellyn berkata lirih. "Aku akan memberikan Teo untukmu, tapi..."
Wajahku mendongak, menanti kalimat apa yang akan terucap dari bibir merahnya.
"Berikan Kaivan untukku"
Maaf Evellyn, meskipun aku banyak berhutang padamu karena kau telah merawat Teo, tapi kali ini aku ingin menjadi egois. "Kau tidak pernah memiliki mereka berdua Evellyn. Teo adalah milikku. Kaivan juga milikku. Tak ada yang pernah menjadi milikmu. Jadi, tanpa kau beri, sejak awal mereka sudah menjadi milikku."
"Kau salah Kyla. Hak asuh Teo... Nyonya Margareth memberikannya padaku. Sekarang, dia adalah anakku"