Shinara Nebula

Shinara Nebula
7



***Gedung itu menjulang tinggi di tengah kota, di mana impian para orang-orang untuk berkariel dan mencapai impian nya menjadi desainer terkenal dunia Salah satu gedung yang memiliki karakteristik yang mewah dan elegan.


 Gadis itu hanya bisa menatap gedung itu dari balik kaca mata hitam nya, setiap hari dirinya akan berada di sana hanya untuk melihat desain gedung dan tak lama ia akan pergi dari sana dengan kehampaan yang mendalam.


 Gadis yang seharus nya bermain dan memakai pakaian layak nya remaja biasa hal itu tidak berlaku dengan dirinya yang harus menelan kepahitan untuk tak pernah berurusan dengan hal seperti itu.


 Kaki itu berpijak pada lantai Mall yang tak jauh dari gedung yang selalu menjadi impian di lubuk hatinya yang terdalam. Tekad dan cita-cita nya hanya bisa menjadi sebuah angan dalam hembusan angin yang terbang membawa harapan dan keinginan gadis itu.


  Gadis itu kini tengah termenung di salah satu toko baju yang berada di dalam Mall terbesar di kota Tokyo. Menatap deretan gaun yang indah tak membuat hati nya tergerak untuk mencoba atau membeli satu gaun pun.


 Ia menyandarkan punggungnya pada sofa di belakang nya. Memejamkan mata nya membiarkan beberapa orang berbisik kearah nya karna terlalu lama diam tanpa membeli atau memilih barang yang ada di sana.


 Perlahan kelopak mata itu terbuka menampakan iris Ruby yang redup dan menyimpan banyak kekosongan.


 Laki-laki bertubuh bongsor dan tegap itu berdiri di belakang sofa, shinara mendongkrak menatap iris silver yang beradu dengan warna mata Akai milik nya.


 Pemuda itu berjalan menuju ke arah salah satu menejer disana, dan melihat deretan gaun indah yang terpampang disana.


“ Sudah berapa lama dia berada di sini?" Tunjuk pemuda itu kearah menejer wanita itu dengan pandangan dingin.


“ Setengah hari tuan!!"


“ Tck. Bisakah kau bawakan beberapa model gaun yang indah untuk gadis seumuran nya! Dan bawakan beberapa sepatu kalo bisa dengan beberapa aksesoris Bren," Ucap pemuda itu kearah wanita yang menganguk dan pergi dari sana.


10 menit kemudian pelayan itu muncul dengan beberapa gaun dan high heels yang sangat tinggi, Pemuda itu menyered gadis itu masuk ke ruang ganti dan memberikan beberapa gaun untuk nya.


 Dengan tampang acuh ia memakai semua gaun itu di bantu oleh beberapa pelayan yang di suruh pemuda tadi untuk menemani nya.


 Shinara menatap pantulan dirinya di cermin saat para pelayan itu mengepang dan menyisir rambut nya pelan seakan tak ingin ada satu helaian pun yang hilang dari kulit kepala nya, Mereka memasangkan beberapa aksesoris seperti bunga aster pada rambut nya membuat kesan dan hawa elegan terlihat.


“ Nona kalung ini pemberian tuan tadi! Kata nya nona harus memakai nya," ucap wanita itu kearah shinara yang memandang kalung cooker bread tiga lapis itu.


" Hmm" ucap nya singkat.


 Suara langkah kaki terdegar pemuda itu menoleh ke arah sumber suara, melihat seorang gadis bagaikan putri dalam dongeng Cinderella yang sangat cantik dan rupawan.


 Tapi mengapa setiap melihat wajah cantik itu hati nya serasa sakit. Seperti ada sebuah jarum yang menusuk nya untuk melontarkan kata-kata pujian Ataupun memberikan kesan baik terhadap nya itu sangat sulit.


“ Lumayan! Kerja kalian bagus," Ucap pemuda itu acuh tanpa menatap shinara yang diam memegang gaun nya.


 Hancur, kesal, marah, shinara merasakan hawa aneh mencuat dari tubuh nya ingin sekali ia mengamuk.membakar semua mall yang ada di dunia ini, menjadi seorang pembunuh yang sadis dan membantai semua orang yang mendandani nya seperti ini tapi bagaimana ia tak bisa karna nyawa para anggota UQ holder akan berada di ambang batas jika ia memusnahkan semua nya.


“ Kenapa kau diam ayo kita akan ketinggalan pesawat jika kau tetap diam seperti ini," ujar nya polos dan menarik shinara pergi meningalkan mall itu.


 Mereka memasuki pesawat pribadi milik Anggota uq holder bahkan hampir seluruh anggota telah berada di sana terkecuali dua orang yang baru datang.


“ Kau lama sekali shinara," Ucap Yunho kearah nya.


“ Dimana zero!" Tanya shinara tanpa menghiraukan ucapan mereka.


“ Zero sudah berada di sana! Jadi tuan putri sekarang duduk lah jangan mengacau lagi," Ledek pria berambut pirang itu kearah nya dengan sedikit menjulurkan lidah nya siapa lagi kalo bukan Rian.


 Shinara lebih memilih masuk kedalam kamar nya, ia lebih tenang dari pada berada bersama anggota UQ holder yang mungkin 


 Sekarang mereka masih bersama, tapi tak ada jaminan mereka bisa bersama setelah kembali dari sana.


  Shinara memasangkan beberapa jarum pada baju nya, jarum beracun dan yang paling mematikan di dunia adalah racun buatan nya " Akagaku" adalah nama yang ia berikan untuk racun ciptaan yang berharga.


 Ia melilitkan sebuah tali hitam pada paha nya dan menaruh beberapa pistol ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Kevin tengah berada di ambang Pintu.


“ Ada apa?" Tanya sinis shinara kearah Kevin dengan pandangan sulit diartikan.


“ Shinara! Aku ingin mengucapkan beberapa kata untuk mu! Sejak aku bergabung dengan UQ holder kau selalu menemaniku tapi kenapa sekarang kau seperti menghindari ku seperti ini. 


Hatiku sakit saat kau selalu mengacuhkan ku padahal kita selalu bersama beberapa tahun ini mengerjakan misi bersama. Tapi kenapa setelah keberadaan Lester kau menjadi berbeda padaku padahal sejak kecil kita selalu bersama ..." Seru Kevin dengan nada penuh harap akan sebuah jawaban yang memuaskan.


“ Karna kita tak tau kapan kita akan mati


“ Seperti nya aku telah mendapatkan jawaban mu! Oh! Shinara aku menyukai mu Waktu yang kita habiskan terima kasih," ia pergi dari sana.


 Shinara memandang tubuh pemuda itu yang telah menjauh pergi dari sana.


 Ia memegang dada nya kenapa rasa nya sakit, sejak beberapa Minggu lalu selalu saja dada nya merasa kan sakit yang menyiksa ini.


Perasaan yang paling menyakitkan adalah saat aku melihat teman ku mati di hadapan ku sejak saat itu aku memutuskan untuk tak mengukir sesuatu yang tabu karena akan meninggal kan luka yang dalam.


 


ISTANBUL . . .


 Pesawat lepas landas. Pemandangan negara itu tak berubah banyak hal yang berada di negara ini sesuatu yang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata.


 Yunho mengandeng lengan shinara menuruni pesawat mereka menuju ke helikopter yang telah di siapkan sepanjang perjalanan tak ada kata yang terucap dari orang-orang disana.


 Tak berselang lama mereka sampai di sebuah kastil yang berada di tengah hutan berantara. Kastil yang megah nan indah namun memiliki ancaman yang menakutkan.


 Shinara berjalan dengan anggun di ikuti ke 4 pemuda itu di belakang nya, dia berada di tengah dikawal pada pemuda tampan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Alasan shinara berada di tengah adalah agar dirinya tak banyak terespon oleh orang- disana yang kebanyakan adalah musuh di balik tirai.


 Yunho dengan sigap menghalangi wajah shinara saat ada seorang wanita yang ingin mendekat kearah nya. Yunho menyarungkan jas nya pada kepala shinara dan pergi dari sana tatapan orang-orang begitu menyeramkan saat melihat kedatangan grup itu.


 Mereka kini tengah berada di sebuah ruangan dengan meja bulat berlapis emas yang tersimpan uang dan berbagai berlian yang indah di depan nya.pria paruh baya yang tengah memperhatikan kelima orang yang berada di depan nya dengan seksama.


 


Pria paruh baya itu membawa sebuah buku kearah shinara. Ia memegang dagu nya membuat gadis itu sedikit menegandah keatas iris Ruby itu terlihat kosong membuat pria paruh baya itu ingin sekali mencungkil nya dan memberikan nya pada museum sebagai sebuah pajangan yang indah dengan harga tinggi.


“ Mata merah yang indah! Konon dalam sejarah perang cawan suci siapa yang memiliki mata merah adalah sosok yang paling kuat dan mulia hanya saja mata merah ini memiliki kemauan tumbal yang amat banyak," Ucap nya menatap lekat-lekat wajah gadis dihadapannya.


“ Kau lepaskan dia," Geram Kevin kearah pria paruh baya itu.


“ Dalam sejarah ada tujuh monster roh dan master yang akan menyeimbangkan kekuatan untuk mendapatkan cawan suci! Setiap orang akan mendapatkan sosok roh sebagai perlindungan tuan nya apa mungkin kau juga terpilih! Tapi melihat dirimu yang seperti ini sangat disayangkan jika masuk dalam peradaban peran cawan suci yang legendaris dalam kematian," Jelas nya panjang lebar membuat Shinara mendongkrak ketas.


“ Lepaskan tangan kotor mu dari dagu ku," Balas shinara di balas dengan tawa khas yang mengeleger.


“ Untuk mu! Pesta ini adalah jebakan kalian cepat lah pergi," ucap pria paruh baya itu kearah mereka berlima yang menganguk dan pergi dari sana.


“ Shinara!" Pangil Kevin memegang lengan nya. Gadis itu menoleh ke arah nya.


“ Kenapa, kita harus keluar sebelum ada penyerangan," Balas nya singkat.


" Ais, baju ini merepotkan,'


" Berewek ...."


 Suara baju yang di sobek oleh shinara membuat ke 4 pemuda itu tercengar


Gaun indah tadi menjadi sebuah baju compang-camping, Shinara merasakan ada sesuatu yang aneh.


 Ia mengambil pistol nya, benar saja sebuah pisau mendarat hampir mengenai Rian sebelum shinara mendorong nya ke belakang.


" Awasss ...."


" CLANG "


 Pisau itu terjatuh bersamaan dengan tubuh Tian “ Kalian cepat keluar pangil bala bantuan," ucap shinara tegas.


“ Tapi nona!!" 


“ SEKARANG BUKAN WAKTUNYA KALIAN LEMBEK CEPAT PERGI! SETIDAKNYA LINDUNGI ZERO "


 Triak shinara membuat ke empat pemuda itu menganguk dan pergi dari sana. Sekarang tingal shinara yang berada di ruangan itu bersama dengan beberapa orang jahat***.