Shinara Nebula

Shinara Nebula
33



***Shoot


 Whoos


 Ia menghindar ke belakang sebuah panah hampir saja mengenai wajah nya, ia memegang anak panah itu dan mengengam kuat seketika anak panah itu retak gadis itu menunduk.


" CLANG "


 Suara benda tajam jatuh.


 Gadis itu mendongkrak wajah nya seketika berepresi datar dengan mata yang menyala kosong, ia mengambil pedang dari pungung nya melepaskan sarung pedang dengan ukiran indah membuang nya ke sembarang arah, ia mengerakan satu kaki nya ke arah depan lalu berjalan sesekali terdengar tebasan yang membuat bulu kunduk berdiri.


Langit kini sudah mulai meredup awan yang cerah mulai tergantikan dengan kabut hitam. Senja menghiasi langit yang luas warna merah nya darah menghiasi sekeliling tempat itu 


Angin sepoi-sepoi menerpa helaian rambut hitam tergerai panjang yang berterbangan.


" AAAAAAAAA ” Mata nya menyala tak menghentikan kegiatan nya menyakiti orang di bawah telapak kaki nya yang kini tengah merontak-rontak kesakitan meminta ampun.


“ Nona kumohon tolong aku. Aku tak tau anak itu adalah adik mu kumohon nona Arggg," Ucap sosok itu kesakitan saat sepatu hitam milik nya lebih kuat menekan kepala nya ke tanah.


KLANG


 Pedang di tangan nya seketika terjatuh


Tangan nya bergetar melihat sosok itu kini tengah berlumuran darah menjadi sebuah tubuh tanpa adanya nyawa.


“ Nona Bagaimana keadaan mu?" Tanya para bawahan nya yang baru saja datang menghampiri nya bersama dengan Lily yang kini bersembunyi di balik tubuh kakak nya. Gadis itu menoleh ke kanan dengan lemah“  Target telah terkunci!!" Ia berkata dengan wajah horor.


“ Shi______-"


“ Ka-kak i-tu  mah-luk a-p-a?" Tanya Lily mencengkram lengan yoyo ketakutan melihat shinara yang menatap nya tanpa epresi ke hadapan nya.


“ Aku ini mahluk apa?" Ulang nya dengan nada yang sedu dan muram ke arah langit.


 Kaki nya bergetar sunguh ketakutan


Ia mengengam kepala nya menjambak kasar rambut hitam nya perlahan mata nya mulai memburam dan berkunang-kunang sunguh ia tak tau apa yang harus ia jawab pada gadis kecil di depan nya.


  Pukul 18.00


 Gadis itu perlahan membuka kelopak mata nya perlahan kelopak mata itu menampakan iris merah yang redup 


Menjambak rambut nya kepala berdenyut sakit sebenarnya apa yang terjadi pada nya.


 Mata nya seketika tertuju pada langkah kaki yang mendekat ke arah nya


Kaname muncul membawa nampan berisi bubur hangat untuk nya.


Tap


Tap 


Tap


“ Ayolah shinara jangan terlalu galak dan cuek pada ku!" Ia mengelus rambut nya pelan.


" *********** Sialan kau *******” caci maki nya tanpa henti ke arah Kaname.


 Langit sudah mulai menghitam


Bintang berkelap-kelip memaparkan cahaya nya sendiri


Cahaya rembulan masuk menerobos ke gordeng warnah putih rumbai-rumbai kamar itu memaparkan cahaya Mentari yang lembut.


 Shinara memegang setangkai mawar yang ia ambil dari pot di samping nya ia mencium bunga itu menghirup lekat-lekat aroma harum yang tercium.


 Tak ada yang mengerti perasaan ku


Apa yang aku rasakan tak bisa di rasakan yang lain nya memang manusia tak akan bisa saling mengerti satu sama lain nya.


Mereka hanya bisa saling bertentangan


Mencari ke untungan untuk diri nya masing-masing, kadang aku selalu berfikir apa manusia itu mahluk yang baik atau buruk yang mereka capai dan inginkan tak ada habis nya selalu menginginkan hal yang sulit untuk di dapatkan mengapai semua hal dengan berbagai cara ntah itu cara halus atau cara kotor.


Mereka selalu mementingkan keperluannya mereka saja tahta dan jabatan adalah hal yang mereka incar selalu dan terus menerus, tatapan aneh


Melihat ke arah rembulan


sembari memikirkan jawaban yang di tanyakan gadis tadi.


“ KA-KAK I-TU MAH-LUK A-P-A?"


 Di saat lamunan ku tengah berada di puncak nya suara jendela terbuka membuyarkan lamunan ku, aku menatap sosok yang kini tengah berjalan sempoyongan dengan luka di lengan nya


Ia menatap shinara dengan senyuman menahan sakit.


“ Pergilah, aku tak ingin kau melihat ku tengah seperti ini?" Ucap nya singkat.


Gadis itu masih asik mengotak-atik kotak P3K di hadapan nya.


Merasa teracuhkan Yoyo menarik tangan nya membuat Shinara yang tengah membalut perban menautkan mata nya.


ARGH


Rintih Kyo karna dengan sengaja ikatan itu di kencangkan “ Kalo Masih punya tenaga untuk berkata seperti itu, kenapa tak melawan mereka seorang laki-laki begitu lemah bahkan terluka parah lebih rendah dari derajat seorang wanita seperti ku saja," umpat nya kesal ke arah yoyo yang terdiam mencerna ucapan nya.


“ Karna kau bukan manusia seperti kami!!" Ucap yoyo melihat dengan nya yang kini kotor oleh darah yang mulai mengering membuat Shinara diam membeku.


 Shinara beranjak pergi dari sana ke arah meja rias nya, memgambil segelas teh yang tersimpan di sana memberikan nya pada yoyo,“  Aku masih belum tau jawaban nya angap saja aku sebuah mesin atau robot saja!" Jawab nya singkat.


 Yoyo memegang cangkir teh nya dengan erat apa ucapan nya terlalu kejam untuk nya apalagi pertanyaan Lily yang menurut nya akan sangat membekas mungkin membuat trauma untuk kedepan nya***.