
***Shinara merasa jengah melihat orang-orang kini mengelilingi mereka, membuat gadis itu kini bagaikan sebuah tontonan gratis yang tak boleh di lewatkan, shinara berjalan begitu saja meningalkan kejdian tadi ia tak boleh kehilangan kendali dan membunuh semua awak kapal bisa saja kaname akan membunuh nya nanti.
Tidak aku harus pergi sekarang karna jika aku kehilangan kendaliku maka semua nya akan tewas aku haya ingin mengenal ibuku saja!
Sudah beberapa hari sejak kejadian di dapur yang mengeparkan seluruh penghuni kapal. Kini shinara ataupun sosok Zuan tak pernah keluar dari ruangan nya masing-masing setelah sampai di dermaga kecil yang jauh dari kata ramai hanya ada rerumputan dan hutan di sekitar dermaga dengan rumah kayu yang hampir brokbrok.
Zuan maupun shinara selalu menghindar satu sama lain nya, membuat para personil kapal merasa aneh namun mereka tak terlalu menghiraukan ke anehan itu apalagi mengigat banyak hoby gadis bernama shinara yang menurut mereka terlalu ekstrim dan menyeramkan. Selain itu, para personil kapal menyadari hoby aneh dari gadis itu di siang hari,
Dia akan menuju ke lautan di sana gadis itu akan berenang ke dasar lautan tanpa alat bantu apapun hanya sebuah bambu kecil
Mereka kadang memergoki gadis itu tengah terdiam di batu karang yang jauh dari daratan melihat ombak-ombak yang menerjang ke arah batu karang yang ia duduki.
Sampai sore hari gadis itu tidak akan beranjak dari sana setelah senja tergantikan dengan sang rembulan gadis itu akan kembali ke kamar nya.
Namun ketika tengah malam, dia akan berjalan ke arah halaman dan memanjat pohon duduk di salah satu dahan yang paling kokoh. Tempat yang ia pilih adalah sebuah tempat yang paling gelap bahkan cahaya rembulan pun tak menyinari nya . . . Serem!
Para personil kadang merasa hoby gadis itu terlalu aneh apalagi dirinya yang seorang perempuan seharus nya lebih suka tempat bercahaya.
Kaname sendiri kadang menengur shinara namun balasan yang ia dapatkan hanyalah sebuah gumanan kasar " Kisama " adalah kata yang selalu di lontarkan pada nya.
Malam ini, shinara seperti biasa akan memanjat ke dahan pohon ia mendudukkan dirinya. Menikmati atmosfer kegelapan malam yang tenang, Dalam suasana kegelapan ini. Hanya samar-samar cahaya rembulan yang sedikit menerobos memasuki celah-celah dedaunan Dalam hati shinara selalu muncul banyak pertanyaan tentang siapa dan bagaimana ia bisa merasakan kehadiran aura aneh di sekeliling nya.
Memang benar tempat teraman hanyalah
sebuah tempat yang memiliki kegelapan paling tebal hanya saja kadang kegelapan bagaikan sebuah mantra yang menyesatkan seluruh kaum manusia menuju jalan yang sesat.
Shinara mengerang. Ia menundukkan kepala nya di antara kedua lutut nya Kedua lengan nya memeluk kedua kaki nya dengan erat sunguh ia terlalu bingung sekarang.
* BLAMM *
Suara pintu di tutup kasar, shinara mendongkrak menatap seseorang tengah berada di hadapan nya tatapan mata nya menantang ke arah dirinya.
“ Siapa kau?" Tanya shinara sambil menghindari serangan yang datang secara beruntun ke arah nya.
“ Yo! Lama tak bertemu Bagaimana kabar mu?"
“ Ais, dasar orang menyebalkan!!" Shinara mengambil pedang dari belakang punggung nya, ia melompat sambil menghindari serangan dari Zuan tanpa pikir panjang ia menyerang ke arah leher Zuan hanya saja dia secepat kilat menghindar ke samping membiarkan shinara hanya bisa menebas udara kosong.
“ Sialan!!"
“ Shinara . . . Itu nama mu kan apa orang tua mu tak berpikir saat menamai mu ( Shinara adalah semacam tumbuhan kayu yang di gunakan sebagai bumbu masak ) Seharus nya kau diam saja di rumah!!' Cibir nya dengan menjulurkan lidah nya.
Perapatan segitiga terlihat di kening nya
Shinara memegang lengan zuan lalu membanting tubuh nya mengunakan kuda-kuda.
" BRAKK "
Zuan menerjang beberapa pohon, ia meringis sakit ini kedua kali nya dirinya di permalukan oleh gadis kecil. Jiwa sebagai seorang tentara elit membuat dirinya sedikit merosot dengan cepat.
DOR DOR DOR
Shinara menghindar dari serangan beruntun zuan, ia mengeles ke belakang tanpa ia sadari sebuah jarum beracun mengenai leher nya.
" Shoot "
" Whoos "
" Cub "
Shinara mulai sempoyongan tubuh nya makin lemas, kaki nya bergetar sunguh racun apa yang ia gunakan membuat kepala nya berdenyut sakit.
Zuan menyered tubuh shinara pergi dari sana, ia mengusur rambut panjang shinara yang tak sadarkan diri. zuan bergegas ke dermaga lalu melemparkan tubuh mungil itu ke laut.
" BYURRR "
Tubuh itu perlahan tengelam zuan tertawa penuh kemenangan Sunguh kemenangan yang membuat harga dirinya kembali menaik setelah di injak-injak gadis bau kencur itu, setidak nya ia bisa membalas kata-kata gadis itu.
“ Ais ! Aku tak sabar menunggu saat kremasi tubuh mu!!"
“ Bagaimana jika aku memilih beberapa gadis seusia nya lumayan imut juga sebagai hiburan . . Ais lengan ku sunguh sakit bener...."
Zuan mengerakan kedua lengan nya berganti ia sunguh merasa pengal karna serangan mendadak saat di dapur kapal membuat nya kehilangan sedikit darah biru paling berharga milik nya.
Ke esokan pagi nya.
Kapal persiar itu kembali berlayar di samudra mereka harus secepatnya nya mentransaksikan barang dagang nya, mereka sunguh tak sabar setelah berdiam beberapa hari di dermaga kecil di hutan.
Setelah banyak negosiasi Akhirnya pihak dari Zhao bisa memberikan harga yang lumayan membuat kaname secepat nya memberi perintah untuk berlayar mengantarkan barang dagangan nya.
Tak berselang lama setelah kapal berlayar
Zhuan yang selaku utusan dari zhao bisa melihat sebuah kapal yang melaju ke arah nya itu adalah kapal patroli polisi.
Kaname langsung saja panik Bagaimana bisa mereka berpatroli di kawasan ini, menurut laporan dari beberapa koneksi di luar perusahaan zhao patroli seharus nya di lakukan beberapa saat setelah ia sampai di pelabuhan, kaname mengeyitkan dahi nya heran mungkin kah ini adalah sebuah jebakan?
Musuh dalam selimut kah Bagaimana kalian bisa menargetkan ku begitu saja***?