
***Tap tap tap
Suara langkah kaki yang bersautan melompati satu persatu dahan pohon Sosok berjubah itu terus menatap ke pelabuhan terlihat beberapa kapal berada di sana.
Cukup lama ia berlarian hingga akhirnya ia sampai di pelabuhan, suasana yang ramai membuat nya sedikit tak nyaman. Ia melangkah kan kaki nya menuju salah satu kapal dan bersembunyi di balik tong yang besar.
Kapal meningalkan pelabuhan, sosok itu mengedarkan pandangannya nya kiri dan kanan sekilas Tersenyum kecut.
“ Huf Huf Huf ”
Menegok ke arah kanan dan kiri secara bergantian mencari sesuatu, akhirnya terlihat sebuah Kotak hitam yang di kunci oleh gembok ia berjalan dan mengambil linggis tanpa ba bi Bu lagi ia langsung menghancurkan kotak itu.
“ Tiitt tiit tiit titt "
Suara benda panjang dengan ukuran 30 cm itu. Ia tersenyum dan menerobos sekumpulan orang yang tengah berparti Menghambur kan uang mereka untuk foya-foya.
Sementara itu di lain tempat ada sesosok wanita yang tengah mengawasi sosok kecil yang menurut lebih mirif sebuah kucing kecil yang tak patuh, senyuman terlihat di bibir nya melihat gerak-gerik gadis kecil yang kebingungan diantara banyak nya orang-orang.
Senyuman itu perlahan memudar melihat sosok kecil itu mengambil sebuah pisau lalu memotong beberapa kabel kecil yang tertera di benda yang mirif bom itu.
" Sialan Bagaimana ini!!"
Gerutunya sesekali mengusap dahi nya yang di penuhi oleh keringat yang membasahi pelipis nya, itungan mundur semakin lama semakin cepat membuat tubuh nya semakin grogi.
Para orang-orang mulai curiga melihat sosok yang sedari tadi mengutak-atik benda di depan nya. Sudah lewat 3 menit itungan mundur semakin cepat.
Panik, grogi, takut, kaget semua nya campur aduk sosok kecil itu menghembuskan nafas kasar. Merilik ke arah orang-orang yang menatap nya heran Ia menarik nafas yah dan bertriak.
“ KALIAN CEPAT MENGYINGKIR DI SINI ADA BOM "
Triak nya mengema ada untung nya memiliki suara yang mengeleger membuat semua orang itu mulai ketakutan, mereka bergetar melihat benda di hadapan sosok kecil yang sama grogi nya.
" Tik tik tik tik "
Sudah lewat 5 detik tingal menunggu bom di aktifkan sosok itu terkaget lalu ia melempar bom itu ke arah laut.
* BOOOM *
" BYURRR "
Ledakan terjadi di sekitar dermaga
Para wisatawan ketakutan mereka memegang kepala berusaha menghindari dari hempasan gelombang air yang menyerbu di sekitar sana.
Sosok itu hilang seakan di telan oleh ledakan itu, tak ada tanda-tanda bahwa ia selamat membuat para wisatawan itu kaget sekaligus takut pertama kali nya mereka mendapatkan kejutan di kapal pesiar mewah yang selalu menemani mereka dalam menghamburkan uang.
Seorang gadis kecil terengah-engah berjalan dengan tergesa-gesa menjauhi hutan berantara yang mungkin akan ada hewan yang menyerang nya. Bau anyir darah tercium menarik perhatian para binatang karnivora nantinya.
Pakaian yang basah kuyup serta compang-camping membuat nya menggigil kedinginan, mata nya perih
Kepala nya sakit ia sudah tak tahan lagi perlahan tubuh kecil itu pun ambruk di tanah menghempas bebatuan kecil membuat goresan di wajah nya.
" Ais, kenapa ada anak kecil di hutan seperti ini?" Tanya seorang wanita paruh baya dengan mengendong sebuah bakul Di punggung nya. Tanpa pikir panjang ia membawa anak itu menuju gubuk tua yang tak jauh dari tempat ia berada.
Wanita itu cukup kaget melihat luka-luka mengerikan di sekitar tubuh kecil yang memiliki kulit putih nan lembut itu.
“ apa luka nya tak akan berbekas yah?" Tanya nya sendiri.
“ Sangat disayangkan jika berbekas... Anak gadis yang masih dalam tahap pertumbuhan! Mungkin dia seumuran cucuku," Monolog nya sesekali mengompres dahi anak kecil itu.
" Pakk"
Sebuah benda jatuh terlihat kalung nama dengan ukiran bunga sakura " Shinara " adalah kata yang terukir di kalung itu, wanita itu meneguk ludah nya mengulurkan lengan nya untuk mengambil barang di bawah. Ia meneguk Saliva nya melihat kalung yang indah jika dijual ntah berapa harga nya.
Apa aku harus menjual nya?
Jika menjual nya bisa mendapatkan uang untuk beberapa tahun Bagaimana ini?
Pengolakan hati nya membuat wanita itu gusar. Tanpa ia sadari sosok kecil itu tengah memandangi nya atas bawah wajah nya berkerut tanda tak suka.
Yah kalo di teliti wanita itu sekitar 60 tahunan sama seperti nenek nya hanya saja tampilan yang begitu kucel dan dengkil membuat shinara berfikir untuk melenyapkan nya saja.
Yah, gadis itu bernama shinara seiran salah satu putri keluarga seiran.
Pembunuh kecil dalam hal organisasi UQ holder yang mana di ketuai oleh zero seiran ayah nya sendiri.
Lengan kecil itu memegang pelakat besi bertulisan huruf kanji, ia menaruh pelakat itu di samping wanita tua yang tengah terbaring tak sadarkan diri hidup dan matinya orang itu tak ada hubungannya sama sekali dengan shinara itu adalah kalimat yang terus di lontarkan anak itu sambil sesekali melompat dari genangan air.
Mungkin aku terlalu bawa perasaan
Karna pertama kali nya ada orang menolongku.
“ Shinara," Triak suara mengeleger di depan nya tak jauh dari ia berdiri.
“ Hina," jawab nya.
Gadis cantik yang di panggil hina itu tersipu malu mendapati respon yang cuek dari rekan setim nya, Keringat membasahi tubuh kedua nya. Maklum hari sudah menjelang siang apalagi di musim panas membuat mereka harus sabar berada dibawah sinar ultraviolet itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari kediaman seiran . . .
Dengan langkah gontai ia memasuki kamar mandi.
“ Tck. Zero selalu memaksa ku untuk bersekolah lagi padahal aku ini pintar," Monolog nya dengan sedikit merajuk dengan nada terkesan manja.
Bau harum leci tercium membuat shinara menoleh kesamping ia mendapati sebuah sabun dengan merek leci, ia mendegus kesal sejak kapan zero selalu mengatur masalah kesukaan nya juga bahkan hal yang harus ia lakukan tak luput dari pandangan nya.
” Nona ini sudah jam 8 cepat keluar atau anda akan kesiangan," Triak suara mengema itu dengan sesekali mengentuk pintu.
Shinara keluar dari bak up ia memakai seragam SMA nya dengan khas warna hitam untung saja zero selalu siaga memperhatikan keseukaan nya. Tak ingin membuang waktu shinara keluar dari kamar mandi.
“ Nona biar aku menyisir rambut mu," ucap pelayan itu yang sudah berumur kearah nya.
“ Terima kasih!!"
“ Nona tuan bertanya apa anda ingin sebuah mobil Ferarri atau Lamborghini sebagai hadiah kenaikan kelas untuk anda...?"
“ Aku bisa membeli apapun yang aku mau dengan uang ku sendiri!! Bibi An apa kau ingin teman biar aku menyewa satu pembantu lagi?" Tanya shinara perhatian kearah pembantu tua itu namun nada nya yang terkesan dingin kadang sulit di hartikan.
“ Tidak perlu! Nona aku bisa mengurus nona sendiri," ucap bibi An. Ia menyimpan sisir pada meja rias shinara.
Tak butuh waktu lama untuk shinara berdandan, ia melihat pantulan dirinya di cermin memang benar-benar mirif seorang putri bangsawan. Sayang nya ia tak secantik rupa nya Shinara berlari meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai ia menuju kesalah satu mobil merah yang telah terpangkir di halaman mashion seiran.
Mobil itu melaju di jalanan raya, Shinara memasang headphone nya sebuah alat yang tak pernah lepas dari nya benda favorit yang menjadi ciri khas shinara seiran. Duduk manis sambil menikmati hembusan angin pagi Sesekali pandangan nya berlari keluar jendela memperhatikan setiap inci dan sudut kota Tokyo yang begitu indah namun gelap di bawah nya.
TIlN! TlIN!
TIlN! TIlN
Suara klakson mobil terdegar keras membuat Shinara membanting setir mobil nya, untung nya ia sudah sampai di kawasan sekolah dengan hati-hati ia mencari tempat kosong untuk mobil nya.
Wajah datar nya melihat sekelompok pemuda yang berjalan dengan narsis melewati dirinya begitu saja. Perapatan segitiga terlihat melihat pemuda yang berada tak jauh darinya ia menebak bahwa pemuda itu adalah ketua dari geng ambsruk itu.
“ Hei kau! Tolong minggir ...!"
Hempasan kasar mengenai bahu nya, membuat Shinara kehilangan keseimbangan nya dan menabrak pungung seseorang.
“ Punya mata gak sih loh? Lihat baju gue jadi kotor nih," Ucap marah pemuda itu kearah ku, aku memandang nya tanpa ada respon satu hal yang membuat ku ingin membunuh zero kenapa dia selalu menempatkan nya dalam posisi sulit begini.
“ Loh bisu yah! Murid baru juga songong minta ampun, ayo minta maaf," Tegas pemuda itu kearah shinara yang mengeyitkan dahinya.
“ Woy! Tuh mulut gunain, bukan buat pajangan,"
“ Anda yang salah pertama kali,"
Setelah mengucapkan kata itu shinara pergi meningal halaman sekolah. Wajah nya ia tekut agar tak membuat banyak pertanyaan menyebalkan Dari kejauhan terdengar suara orang tadi yang tengah mengumpat dan menghina shinara gadis itu hanya tersenyum kecut dan bersembunyi di balik tembok.
“ SIALAN TUH CEWE . . . DASAR CWE IBLIS CWE SETAN MATI SAJA SANA. INGAT GUE SUMPAHIN LOH MATI GAK BISA TENANG."
Umpatan itu membuat Shinara begitu bahagia setidak nya ia bisa mendapatkan mangsa baru yang empuk, ia menjilat lengan nya tanpa sadar seseorang tengah memperhatikan kegiatan gadis itu dari tadi wajah nya yang terkesan dingin menatap shinara dengan pandangan aneh, Mata nya yang tajam melihat gerak-gerik bocah kecil yang pintar sembunyi itu.
Tak ingin mencari masalah sosok itu pergi meningalkan shinara sendirian dengan khayalan di otak nya. Dengan niat dan daya tarik yang lumayan besar pada mangsa baru nya.
Teng . . Teng . . Teng . .
Suara bel berbunyi membuat para murid berlarian masuk kekelas. Hari itu berlalu begitu menyebalkan banyak hal yang tak bisa di ketahui shinara bahkan waktu pertama sekolah nya ia sudah membuat sebuah masalah dengan anak kolong merak putra kedua bangsawan AN yang merupakan ahli waris kedua setelah kakak nya itu.
Disinilah mereka berada di sebuah ruangan dengan tulisan " BP " tak ada sepatah kata pun yang keluar dari kedua orang mahasiswa itu kecuali delikan tajam yang saling memojokkan satu sama lain nya.
“ Shinara! Pangeran gilgamesh,!!" Pangil Ruki. Dengan nada datar kearah mereka.
Shinara hanya mendelik tajam memutar mata nya bosan, sedangkan gilgamesh berdehem menjawab pertanyaan guru killer nya itu.
“ Ais, kalian ini . . Tidak bisakah mengeluarkan suara?kita sudah 2 jam berada di sini tapi kalian tidak menjawab satupun pertanyaan ku sama sekali," Tanya Ruki dengan mengaruk kepala nya yang tak gatal.
“ nona shinara tolong jawab pertanyaan guru ini," Ucap Ruki mendekatkan wajah nya kearah shinara.
Shinara mendorong wajah Ruki kasar agar mundur kebelakang menjauhi wajah nya ia membuka mulut nya dengan sedikit snyuman meremehkan kearah gurunya itu.
“ Menyebalkan," ucap nya singkat.
“ Bocah sialan itu," Runtuk guru nya melihat kepergian shinara tanpa ada babibu setelah mengatakan satu kata dalam dua jam membuat dirinya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Wajah nya kembali menatap gilgamesh dengan senyuman devil nya. Gilgamesh terkesan sangat ceria dan nakal membuat ia menjadi sasaran para guru, walaupun begitu tak banyak hal yang bisa ia lakukan karna gilgamesh merupakan pemegang kedua sekolah itu.
“ Untuk hukuman mu! Bersihkan toilet selama seminggu tanpa ada bantahan
Aku akan mengawasi mu dengan ketat pangeran gilgamesh," Mata gilgamesh melotot tak percaya mendegar ucapan guru killer nya mana bisa seorang pangeran membersihkan toilet bisa turun harga dirinya runtuk gilgamesh kearah Ruki yang mendelik nya tajam.
“ Setuju atau tidak kamu akan tau akibat nya," Ancam Ruki dengan menyulingkan senyuman maut nya.
“ Cih, baiklah,"
“ Kalo begitu aku pergi dulu bye," Gilgamesh mengerakan lengan nya dan pergi dari sana. Terlihat senyuman licik di bibirnya nya gilgamesh tak sabar untuk melakukan hal yang akan menargetkan shinara kedepan nya***.