
Shinara terdiam lalu menarik lengan baju Kaname ia menatap nya mencari kebenaran dari pertanyaan iris merah itu membulat ketika Kaname terdiam dan membulatkan mata nya seakan menepis keingin tahuan shinara.
Shinara merangkul Kaname ntah dari mana ada rasa sedih yang amat dalam sekarang, 8 November adalah hari yang membuat nya selalu merasakan kesedihan dari dulu sampai sekarang kekejaman dan sikap dingin nya akan menurun di bulan November membuat pribadi yang cengeng.
“ Hei, kenapa aku sangat sedih?
Kenapa aku ingin menangis?
Sebenarnya siapa kau kenapa ingin mengikat ku untuk terus bersama mu dengan alasan keberadaan ibuku.
Karma dari dulu ibuku sudah mati dan tak pernah ada di mana pun zeri mengatakan itu?!!“ Shinara merangkul leher kaname yang menunduk ke bawah merasakan
Cairan dingin yabg menebus meneju baju nya ntah kenapa rasa nya ia merasa kasihan, Dada nya bergetar melihat gadis itu menangis seorang yang selama ini ia benci membuat nya terpuruk dalam kesendirian.
“ Karna aku ingin mesin seperti mu . . .”
DEG
Shinara meremas kuat dada nya apa yang ia katakan mesin? Memang benar semua orang hanya mengangap nya mesin
Ia selalu menjadi kan nya sebuah barang bukan manusia. Sebenarnya kenapa ia selalu merasa risih dan sedih saat di sebut sebagai seorang mesin ia juga ingin diakui
Sebagai manusia yang bisa menyaksikan
Kebersamaan serta kebebasan
Merasakan bagaimana kehangatan dari keluarga namun naas semua nya pupus begitu saja ia benci sunguh benci
Akan nasib yang seperti itu.
Melawan takdir ia akan melakukan itu
Ambisi nya untuk meratakan kehidupan
Memberantas semua kejahatan
Membuat keadilan
Dan membunuh semua nya
Melampiaskan apa yang ia rasakan
Shinara mendongkrak ia tersenyum kecut penuh kesinisan ke arah Kaname,
Shinara menarik sudut bibir nya dan
Mengatakan sebuah kalimat yang membuat kaname terdiam bergetar “ Menyedihkan ” Kaname dengan cepat mengjindar dari tatapan shinara dan beranjak menuju ke kamar nya meningalkan shinara yang lemas terduduk di lantai dingin.
Rintikan hujan membasahi bumi
Tetesan berlian putih berjatuhan ke tanah
Dan terserap kembali oleh tanah
Terpaaan angin menghembuskan berlian putih itu memasuki kedalam kamar nya melewati jendela yang terbuka
Membasahi tubuh yang kini tengah terkulai lemas di lantai wajah nya sedu
Kelopak mata nya membengkak, helaian rambut acak-acakan membuat kesan jelek untuk nya.
Sebuah alat pemantau berbentuk serangga terbang memasuki kamar nya
Hingap diantara sela-sela buku yang berjajar di dinding memantau semua kegiatan yang di lakukan orang-orang di dalam rumah itu.
Sebuah alat yang bisa memantau atau menyadap suara yang berada di antara kerumunan sebuah maha karya yang cangih.
“ Ketemu," Seorang menoleh ke arah belakang jari-jari yang masih fokus memainkan jari nya mengetik pada keyboard di meja kerja nya.
“ Instruksi untuk menginvasi sistem berasal dari sini . . .“
Jari tengah menunjuk ke arah layar monitor di depan mata nya, kini orang yang sedari tadi baring di kasur berjalan ke arah nya memperhatikan deretan gambar sistem yang berjajar membentuk sebuah skala dan juga gambaran satelit yang sulit di mengerti.
“ Bagus sekali...!!!"
“ Jadi?!!!"
“ Oh, ngomong-ngomong Bagaimana keadaan nya beberapa Minggu ini?" Ujar nya acuh, asap rokok mengepul dari bibir nya membuat pemuda yang berada di tengah monitor menjentikan jari nya.
“ Dia kah..!" Ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan menekan salah satu tombol terlihat gambaran kamar yang berantakan dengan seseorang di dalam nya.
“ Kenapa dia menangis?"
“ 8 November _______!!!"
“ Kenapa..!"
Pria itu pergi sana menarik jas hitam yang tergantung di pintu dengan kasar hentakan tumit sepatu tentopel hitam berpadu dengan lantai marmer hitam yang mengkilap, mengambil kunci mobil dengan
Kasar lalu melakukan mobil nya dengan kecepatan sedang di jalanan kota yang kini mulai merenggang karna orang-orang lebih memilih berdiam diri dengan hujan yang mengguyur.
Mobil merah mahal itu berhenti di sebuah tebing yang jarang di lalui manusia bahkan keadaan sekitar nya curam membuat kendaraan mahal itu tergores beberapa kali. Pria itu keluar dan menatap bintang yang berkelap-kelip di lanti menikmati hembusan angin malam yang berpadu dengan hujan yang masuk menembus sumsum tulang.
BOOM
Sebuah Ledakan mendarat kasar di depan nya. Tanah kini bergetar membuat sebuah lingkaran dalam dengan beberapa pohon yang tumbang di sekitar nya membuat pria itu menoleh ia menyeimbangkan ke seimbangan nya agar tak terjatuh ketika tebing itu retak.
Sebuah tangan putih memegng lengan nya menopang tubuh nya dengan sekali tarikan menarik nya kasar agar tak jatuh, pemuda itu menarik sudut bibir nya ketika perempuan berbaju hitam dengan beberapa pengawal berbentuk setengah monster berada di depan nya.
“ Lama tak berjumpa . . . Bagaimana keadaan mu? Shin-ra _______!!"
“ Sudah beratus-ratus tahun?" Ia menoleh ke kiri dengan senyuman mengembang di bibir berwarna merah pekat itu.
“ Aku yakin kau datang sekarang! Putri mu menginjak umur 18 tahun sekarang, apa kedatangan mu Sekarang Shinra?" Ujar zero ke arah nya yang menopang dagu nya lembut dengan kuku tajam yang menjelajahi setiap inci dari wajah nya.
“ Dua ratus tahun aku mengandung nya....!!!"
“ Ini sudah waktunya, jangan melarikan diri lagi shinara sayang.....?!!!!"
“ Yang menang akan mendapatkan hadiah dan yang kalah akan mendapatkan hukuman.”
Di lain tempat tepat nya di kamar shinara
Ia merasakan dada nya berdenyut sakit dan nyeri seperti tertusuk jarum seperti nya ada seseorang yang sedang membicarakan nya.
Gadis itu meregangkan tangan nya merasakan hembusan air hujan yang menerpa tubuh nya, kini iris merah itu lebih pekat dan dingin dari sebelum nya membuat Shinara mirip seperti seorang....
“ Heeeee sekarang waktunya nya monster itu di lepaskan!!" Shinara memandang bayangan yang datang dari arah jendela.
“ Tuan putri---____"
“ Aku akan bertarung sekarang juga--------” Ucapan nya terpotong ketika sebuah pukulan mengenai tengkuk nya membuat mata nya memburam pandangan mata nya memburam gadis itu tergeletak dengan kasar.
“ Untung saja ini terlalu cepat untuk bangkit,” Sosok bayangan lain menghembuskan nafas lega menyeka keringat yang bercampur cey air hujan.