
***Shinara mengerakan kedua lengan nya
Ia mengerakan lengan nya seperti sedang memegang pistol, cara nya menembak yang sangat lentur ia mengerakan kedua lengan nya atas bawah. Tatapan nya terfokus hanya pada sebuah pohon yang ia angap sebagai seorang target misinya.
Sudah seharian dirinya berada di klub tembak, Ruangan dan lorong yang ia lewati kini sangat sepi pertanda bahwa mereka sudah pergi, gadis itu mengedarkan sedikitnya pandangan nya kearah salah satu ruangan disana terlihat beberapa orang yang tengah minum minuman keras.
“ Hei pangeran apa loh yakin dia bakalan datang?" Tanya sosok yang tengah terbaring di sofa menatap kearah gilgamesh yang tengah minum dengan gaya setengah lunglai.
“ Menurut ayah dia bakalan datang! Tunggu saja lah," Jawab gilgamesh.
" Ais, menjadi seorang pangeran teryata tak mudah! Loh pasti di cari para target persaing ayah loh kan?" Tanya satu nya lagi. Wajah yang setengah bule membuat Shinara yakin bahwa dia adalah keturunan Rusia terlihat dari bola mata nya.
Di tengah perbincangan itu pintu terbuka menampakan sosok gadis yang memandang tanpa epresi ke arah mereka.
“ Hei gilgamesh gadis tadi dia datang,"
“ Cih teryata dunia sempit," gilgamesh menjawab tanpa mengalihkan sedikit saja pandangan nya kearah shinara yang terdiam.
Apa dia anak yang harus ku lindungi? Jika ia apa aku sangup mempertahankan tipe berisik seperti ini hanya akan membuat kuping ku sakit saja.
Shinara menguman di dalam hati nya lalu berlarih pada kedua orang yang tengah sama kaget memandang nya.
" Apa yang loh lakuin di sini?" Tanya gilgamesh membuka pembicaraan.
" Menjaga seekor kucing,"
" Kau sialan . . ."
Gilgamesh mengerakan kedua rahang tegas nya melihat tulisan dan Poto yang ia kenali, apalagi dia menyembut dirinya kucing membuat dirinya kesal saja.
Gilgamesh menelfon salah satu no di henfoun nya, para sahabat kedua nya hanya bisa melihat kiri kanan tak tau harus apa mereka bingung dalam urusan yang selalu di tangani gilgamesh setiap hari nya.
Tut . . Tut. . Tut. .
Suara nada dering henfoun terdegar sosok pria paruh baya mendegus dan mengangkat telfon nya.
“ Kau kenapa lagi?"
" Ayah! Apa yang kau sewa Seorang gadis dingin kaya robot ini hah?" Tanya gilgamesh pada orang di sebrang sana.
" Tck. Apa kau tak tau? Dia itu putri keluarga sheira orang terkuat dalam pembisnis sekaligus_____--"ucapan nya terpotong karna suara gilgamesh yang mengejek dan penuh kedinginan pada nya.
“ Aku tau,"
Tutttt
Suara telpon itu di putus sepihak. Gilgamesh menatap shinara yang diam tanpa kata sedikit pun, ia mempersilahkan shinara untuk duduk di sofa membuat kedua sahabat nya tercengar kaget.
Ada apakah dengan gilgamesh sebenarnya.
Shinara memberikan beberapa lembar kertas pada gilgamesh yang langsung diambil oleh nya dengan kasar, ia membaca setiap deretan kata yang tertera di sana membuat amarah menguasai nya Yang benar saja dia harus tingal di rumah gadis robot itu.
" Aku menolak mana mau aku tinggal di rumah kecil mu," gilgamesh mengebrak meja membuat Shinara mengeyitkan alis nya heran.
" Terserah! Jika kau butuh bantuan ku hubungi no ini," shinara memberikan kartu namanya lalu pergi meninggal dia yang tengah mencerna setiap kata dalam tulisan itu.
BAR . . .
Buuuukkkk!!'
Suara pukulan menghantam wajah nya.
Lalu sebuah tendangan membuat nya tersungkur, pemuda itu hanya bisa diam saja menerima semua pukulan yang menghantam dirinya . . . setelah di pukuli oleh sekawan orang tadi pemuda itu berjalan menjauh dari sana, darah segar menetes dari sudut bibirnya terasa rasa ngilu dan perih.
Guman nya pelan dan melanjutkan perjalanan nya walau hanya bisa bersandar pada tembok membuat darah nya menempel pada tembok bar itu.
Tiba-tiba terlihat bayangan sekelibat membuat nya ketakutan, tubuh yang telah babak belur itu berlari meninggalkan tempat itu.
* SRETTT*
Suara benda tajam bersentuhan dengan tembok. Cahaya orange terlihat percikan api itu membuat siapapun yang melihat nya akan takut. Suara itu membuat ngilu sekujur tubuh nya semakin lama suara itu semakin dekat kearah nya.
Dengan nafas tersengal ia berlari menuju salah satu ruangan ia sudah tak kuat lagi untuk berlari apalagi tubuh nya sudah penuh dengan memar dan sayatan.
" KETEMU HIHIHI"
DUG, DUG, DUG
Suara jantung bagaikan sedang lari maraton saja. Pemuda itu tengkulai lemas kaki nya seakan mati rasa melihat sosok bertopi yang tersenyum Devils kearah nya.
" Kakak! Apa yang ingin di lukai duluan wajah atau jantung?"
Sosok itu mengarahkan pisau itu tepat pada wajah nya, membuat pemuda itu merintih kesakitan saat benda tajam itu menembus permukaan kulit nya.
" Arghhh" rintih nya cepat merasakan benda itu semakin lama semakin masuk mengores permukaan kulit nya.
" Kakak! Wajah sekarat kakak memang tampan?" Ucap sosok itu singkat.
Pemuda itu mundur beberapa langkah ia tak ingin mati sekarang. Ia ingin hidup Merasakan bagaimana kehidupan sebagai seorang yang damai bukan selalu di kejar-kejar oleh pembunuh dan mafia bayaran ia tak mau menjalani hidup seperti itu TIDAKKKK. Gilgamesh menutup mata nya saat pisau itu hendak melayang mengenai jantung nya.
" SRETTT "
" SPRASS”
Suara sayatan itu mengema di lorong sunyi itu. Gilgamesh membuka kedua mata nya apa ia sudah mati? Sayatan tadi kenapa tak sakit apa mungkin ia sudah berada di surga atau neraka? Mata nya membulat besar sebesar buah anggur.
Bibir nya bergetar takut sunguh takut melihat pemandangan itu.
" Trak"
Suara pedang yang kembali dimasukkan pada sarung nya, sosok itu berjongkok dihadapan nya lalu membopong nya pergi dari sana.
Pemuda yang terbaring lemah ini akhirnya membuka matanya. Dan orang pertama yang ia lihat adalah sosok yang tadi ia remehkan karna Seorang perempuan.
Pria itu rasa nya ingin mengatakan sesuatu hanya saja rasa nya bibir nya terlalu berat itu mengatakan beberapa kata.
Dokter yang berada di samping gadis itu menatap gilgamesh yang mulai tersadar dari pingsan nya.
" Nona anda harus menjaga nya. Karna luka nya cukup dalam! Saya akan kembali bekerja mohon maaf nona," Dokter itu pergi meningal kan Tempat itu setelah mendapatkan anggukan dari shinara pelan.
" Anuu thanks," Langkah kaki dokter muda itu terhenti mendegar suara lembut itu walau dengan nada pelan tapi kata itu begitu beratri baginya.
Gilgamesh mengerakan tubuh nya untuk berdiri hanya saja tulang nya serasa patah Ia tak kuat bahkan untuk menjangkau minuman di samping nya.
" Mau minum?"
Shinara membantu gilgamesh meminum air putih nya sampai kandas. Gilgamesh hanya bisa diam karna jujur ia sangat lemas dan terlalu malu untuk berhadapan dengan gadis dihadapannya.
Dengan nada imut dan tingkah lucu nya Shinara mengoda gilgamesh namun kata-kata itu terkesan lebih menakutkan dari sebelum nya.
“ Bagaimana rasa nya dilukai teman sendiri,"
" Aku tau aku cantik! Hanya saja berhenti untuk menatap ku seperti itu atau aku akan mencungkil mata mu keluar," Sunguh polos epresi shinara hanya saja kata-kata nya membuat semua orang yang mendegar nya akan ketakutan***.