
*Tap tap tap
Suara langkah kaki memasuki aula Mashion yang begitu megah nan luas
Beberapa orang tengah berdiam diri dengan berbagai dokumen serta kopi sebagai penyemangat mereka.
Tak ada suara sama sekali kecuali detak jam dan suara ketikan keyboard yang menghiasi ruangan bernuansa biru langit.
Kini banyak pasang mata melihat ke arah ku dengan tampang bingung aku membalas sapaan mereka dengan senyuman dan meningal kan mereka kembali ke kamar ku.
Aku melihat pengelangan tangan ku
Sebuah arloji berwarna merah melekat pada lengan putih milik nya waktu menunjukan pukul 4 pagi.
Aku merebahkan diriku pada kasur empuk
Memejamkan mata ku membuka tiket masuk kedalam mimpi indah yang mungkin tak akan bertahan lama, sebelum itu aku merogoh sebuah kalung berbentuk Tsabit dengan hiasan berlian biru di sisi nya aku memeluk kalung yang Kaname berikan padaku.
“Selamat malam,„...."
Mata ku perlahan terpenjam hari yang melelahkan banyak hal yang tak ku mengerti untuk saat ini.
Tangan kanan ku mengengam erat kelopak mawar dengan kuat, darah segar keluar dari lengan ku yang mulai basah oleh cairan pemasok kehidupan.
Tempat itu begitu sepi dan sunyi hanya ada rantai dan juga bunga mawar di sekeliling tempat itu apa ini yang dinamakan alam gaib?
Gadis itu perlahan membuka mata nya
Merilekskan pikiran nya, detak jantung nya berdetak sangat cepat ia mengusap wajah nya“ Mimpi yang menyeramkan," Guman nya.
Gadis itu beranjak dari ranjang tidur nya, beranjak melangkah ke arah kamar mandi merendam tubuh nya pada air hangat yang telah disiapkan para pembantu.
“ Apa yang terjadi pada ku?" Monolog shinara sambil memegang sisi bak up nya.
Gadis itu tak menyadari bahwa pikiran nya kini telah menjadi naluri membunuh yang kuat, naluri bertarung berjiwa iblis yang tertidur dalam dirinya.
Ketika tubuh nya mulai ingin beranjak
Tanpa sengaja ia menyengol botol-botol sabun membuat suara benda berjatuhan.
KLOTANG
BRAKH
Tubuh nya terjengkang ke belakang gadis itu terbaring lemah di lantai kamar mandi tubuh nya begitu lemah bahkan untuk mengambil handuk pun diri nya tak sanggup.
Mendegar suara benda berjatuhan dari Arah kamar shinara Kaname berjalan dengan tergesa-gesa, ia mendobrak pintu kamar mandi yang terus mengalir kan air dari shower. Kaname sunguh terkaget melihat keadaan itu! Dia kemudian mengambil handuk dan membungkus tubuh gadis itu
Merangkul nya lembut membawa gadis itu dalam dengkapan dada bidang milik nya.
“ Shinara bangun!!' Kaname menampar pipi shinara pelan.
“ Ukhhh ...."
Gadis itu menguliat merasakan perih di pipi nya ia mendongkrak ke atas melihat Kaname tengah berdiri dengan pandangan dingin.
“ Setidak nya jangan pingsan di kamar mandi kau merepotkan ku saja!!"
Kaname menjentikkan jari nya mengarahkan jari tengah nya pada dahi shinara membuat gadis itu meringis.
“ Maaf!! Aku tak tau apa yang terjadi," ujar shinara.
Kaname mendegus kesal ia melemparkan beberapa pakaian ke hadapan shinara. Gadis itu mengambil nya lalu pergi ke kamar mandi secepat kilat kini tubuh mungil nya telah terbalut baju dress berwarna hitam.
“ Tuan kita harus segera mengirim barang nya!!" Ucap pemuda berkacamata ke arah Kaname.
“ Baik! Semua nya dengar kan aku kita akan pergi ke China hari ini!!"
“ YEAH!!"
Mereka bersorak ceria mendegar akan mngadarkan tour laut ke Cina.
Shinara memandang yoyo yang begitu antusias.
“ YoYo____-" ucapan nya terpotong karna yoyo sudah berlalu pergi dari sana.
Ada apa dengan mereka apa mereka tak khawatir akan mendapatkan serangan di lautan?
Shinara mengelengkan kepala nya mengikuti langkah kaki para senior-seniornya yang kebanyakan adalah seorang pria.
****
Angin menerpa tubuh nya sejuk dan dingin masuk kedalam sumsum tulang punggung nya, malam ini begitu tenang dan damai berlayar bersama kru memang tak buruk juga. Shinara memandang hamparan laut yang begitu luas ia kadang mengira-ngira berapa luas nya lautan jika di hitung dalam satuan km membuat ia menepak pipi nya.
“ mustahil"
Shinara bergumam menepis pikiran di luar logika manusia apalagi jika ia harus mengukur dengan satuan CM bisa mati kedinginan batin nya.
Shinara membaringkan tubuh nya pada awal kapal menikmati hembusan angin malam, konon katanya angin malam tak baik untuk kesehatan tapi masa bodo yang penting untuk saat ini harus bisa melakukan apapun yang ia suka.
Yoyo mendudukkan dirinya di samping shinara yang menoleh dengan tampang acuh seolah mengatakan untuk apa kamu kesini.
Yoyo memberikan mantel hangat pada nya
Ia mengambil beberapa camilan dari belakang punggung nya, camilan kesukaan shinara yaitu poky teryata cowo bertampang poker itu masih bisa berbaik hati guman shinara.
" kenapa..."
Shinara menepis lengan yoyo dan mngambil poky dengan kasar ia cengegesan karna kalimat nya di dengar yoyo membuat gadis itu salah tingkah.
" Kapan kita sampai pelabuhan..."
“ Besok pagi kita akan Menganti kapal
Senjata yang kita bawa terlalu bahaya jika terlalu mencolok dengan kapal seperti ini,"
Yoyo mengambil poky yang di berikan shinara, ia memasukan makanan bentuk panjang ke mulut nya manis coklat dan rasa asin berpadu menjadi satu.
“ Ais! Sebenarnya Kaname itu penjual senjata legal atau ilegal?" Tanya shinara dengan tampang harap ke arah yoyo.
“ Kedua nya!!"
“ HAH!"
“ Dan lagi shinara di umurnya nya sekarang Kaname seharus nya masih berada di kantor untuk mengurus bisnis warisan ayah nya hanya saja Kaname lebih memilih menantang nyawa. Tak ada alasan yang jelas kenapa Kaname menginginkan pekerjaan ini!
Aku pernah bertanya pada nya hanya saja Kaname selalu mengatakan itu bukan urusan mu dengan tampang poker menyebalkan nya membuat ku ingin mengulek dirinya........."
Shinara menganguk mengerti apa yang di jelas kan yoyo, ia membuka bungkusan poky lain nya memasukan ke dalam mulut nya rasa lumer begitu enak membuat dirinya seakan tak bisa henti-hentinya memakan poky.
“ Ais aku tak menyangka dia berwajah poker!;' Ejek shinara dengan senyuman mengejek nya.
“ Dan lagi shinara besok akan ada seorang utusan dari Tiongkok ku harap jangan terlalu aktif didepan nya," Yoyo mengelus Surai hitam shinara, gadis itu menatap dengan pandangan tanda tanya sebelum kalimat terlontar lebih banyak dari bibir shinara yoyo lebih dulu pergi meningalkan tempat itu*.