
Kini kedua orang itu tengah diam di dalam kafe yang sangat bagus dan elegan kedua orang itu masih fokus dengan dunia nya masing-masing belum ada yang berbicara sama sekali.
Kaname memberikan beberapa lembar kertas ke arah gadis itu, yang hanya mengabaikan saja tanpa ada minat untuk melihat bahkan melirik nya pun.
Kaname kembali menghembuskan nafas lalu ia pun membuka mulut nya untuk berbicara beberapa patah kata,“ Aku butuh bantuan mu untuk mentransaksikan senjata!!"
Gadis itu membuka topi nya lalu merogoh beberapa benda dari saku rok nya dan memberikan nya pada Kaname,“ Aku tak bisa ikut tapi dia bisa membantu mu!!" Ia memberikan kartu nama pada nya.
“ Bye -bye "
18.00 waktu standar tiongkok.
Kini beberapa pasang mata tengah menatap deretan koleksi senjata, ada berbagai jenis senjata yang bagus dan juga mengerikan di kolase yang berjajar di dalam museum.
Shinara menarik salah satu pistol dari kolase itu dan memberikan nya pada Yunho yang duduk di samping nya.
Shinara merangkul Yunho ia menenggelamkan wajah nya pada leher Yunho, ia lelah sunguh mata nya perih ingin sekali bertriak tapi suara ku seakan tercekal dan menghilang.
Yunho memegang kepala shinara lembut, ia mengelus Surai hitam nya lalu menoleh ke arah Tian yang sedari tadi asik dengan layar henfoun nya, mereka bertiga pun pergi dari sana sepanjang perjalanan shinara tertidur di pelukan Yunho membuat nya tak sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang melihat tak suka ke arah mereka.
Dua jam berlalu kini Shinara sampai di sebuah hotel yang mewah dan megah.
Bersama dengan Yunho ia memesan dua kamar yang saling berseberangan.
* CKLEK *
Pintu terbuka shinara masuk kedalam kamar nya, lalu mengunci pintu kembali ia membaringkan tubuh nya pada kasur empuk berwarna merah marun milik nya.
Tak berselang lama jendela kamar nya di tobros oleh seseorang membuat retakan kaca berhamburan seketika suasana menjadi aneh.
Pemuda itu tergeletak pingsan di sana
Karna terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka-luka sayatan pada leher dan kaki nya.
“ Hei, kau masih hidup kan?" Tanya shinara ke arah laki-laki itu dengan mengerakan kedua lengan nya di wajah pemuda itu.
Shinara merasakan nafas nya yang melemah karna terlalu panik ia meminta bantuan pada Rian untuk masuk kedalam kamar nya.
Rian menatap shinara dengan tampang aneh sunguh ia tak tahu jalan pikiran putri raja itu,“ Dia seorang agen yang menyelidiki kita! Untuk apa menolong nya!!" Tanya Rian dengan MEMBENAHKAN kain kompresan pada kening pemuda itu.
“ Kita tak bisa membiarkan dia mati begitu saja . . .“
Rian menaruh baskom berisi air hangat di laci dan memberikan obat pada shinara yang sedari tadi diam fokus melihat cara nya merawat seseorang.
Pemuda itu kini mulai sadar ia memegang kepala nya yang sakit, sunguh asing berada di tempat itu,“ Aku dimana?” Tanya nya waspada ke arah shinara yang terlelap tidur di sofa.
Shinara yang terusik mulai membuka mata nya dan melihat pemuda itu hampir ingin terjun ke bawah, sebelum tangan nya menarik kerah pemuda itu lalu membanting nya kasar.
“ Aku baru saja menolong mu jadi jangan mati kalo masih ada aku di sini!" Shinara menginjak lengan pemuda itu mengunakan sepatu high heels nya.
“ Awwwww _________ hei gadis jelek lepaskan!!" Bentak pemuda itu.
“ JE- JE -JELEK ,“ Gagap shinara.
Ia membanting tubuh pemuda itu lalu amarah mulai menguasai nya saat ia mengatai gadis jelek membuatnya ingin memukul dia mengunakan besi baja hitam.
Lemparan demi lemparan mengarah pada Pemuda itu barang-barang disana melayang dengan beraturan.
Shinara melempar kan jam yang hampir megenai pemuda itu dengan cepat ia mengelap Ke kanan dan lembaran itu meleset, kembali shinara melempar kan pot bunga pemuda itu mengelak ke belakang
Shinara yang sudah diambang kemarahan mengambil pistol dari laci nya
Seketika pemuda itu terdiam bagaikan seorang aktor dari film action eaak...
Ia mengangkat kedua tangan nya di atas lalu menunduk dan duduk merosot di lantai ketika gadis itu memegang pelatuk pistol nya.
“ Jelek kau bilang aku jelek kan kalo begitu Bagaimana jika aku mengukir kata jelek di wajah mu itu,“ Shinara menarik pedang nya lalu berjalan ke arah pemuda itu yang terdiam ketika ujung tajam benda itu hampir mengenai nya.
“ Shinara cukup! Sudah waktunya kembali!" Ntah dari mana datangnya Yunho membuat gadis itu menganguk dan pergi dari sana meningalkan pemuda itu yang bisa bernafas lega akhirnya.
Yunho membawa koper shinara menuruni anak tangga sedangkan gadis itu bersama Rian asik memainkan henfoun.
Sesekali terdengar cacian terlontar dari kedua orang yang tengah bermain game itu
“ MATI MATI MATIIII . . .”
“ AIS, KENAPA MATI LAGI!!"
“ HIKS MATI "
Shinara mengerakan lengan nya seolah-olah sangat sedih ketika karakter game nya mati, ia menatap ke arah Yunho yang terdiam sedangkan Rian menepuk kepala nya pelan dan meminta nya kembali untuk bermain.