SEVENTEEN

SEVENTEEN
DK - 1



Pernahkah kamu merasakan cinta yang datang terlambat?


Kelas XII IPA 1 sedang sibuk ujian try out. Ujian ini semacam simulasi sekaligus persiapan ujian nasional yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Setiap siswa memiliki kelas intensif untuk mengejar pelajaran yang mungkin masih tidak bisa dipahami.


Lisa duduk di pojok kanan dekat dengan jendela kelas. Ia mengerjakan setiap soal dengan muka datar-datar saja. Lisa sudah seperti boneka barbie yang pucat. Sudah hampir setengah tahun ini Lisa menjadi murung. Teman sebangkunya, Rose, telah melakukan berbagai macam cara untuk mengembalikan keceriaan Lisa. Tapi ia tidak bisa.


Bel berbunyi tanda waktu ujian telah selesai. Setiap anak maju ke depan untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Begitu pula dengan Lisa dan Rose.


"Kantin yuk," senggol Rose pada bahu Lisa.


"Gue bawa bekal," Lisa melenggang pergi. Biasanya jika begini, Lisa akan menuju ke taman belakang yang tepat menghadap ke lapangan basket.


Basket adalah satu-satunya hal yang tidak berhubungan dengan 'dia'. Maka Lisa akan menghabiskan waktunya di sana hingga bel masuk berbunyi.


Rose sedih melihat sahabatnya seperti zombie. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali melihat Lisa tersenyum. Padahal, yang Rose tahu, Lisa adalah gadis yang paling ceria yang pernah ia kenal. Lisa yang selalu ramah telah hilang.


...***...


Hari itu, di pagi yang cerah, Lisa duduk di ruang tunggu kantor kepala sekolah. Dia akan melapor kedatangannya sebagai murid baru di sekolah ini. Kaki Lisa terus mengetuk lantai. Ia mencoba menghilangkan kegugupan.


"Kelas X-3"


"Ya?" tanya Lisa pada kepala sekolahnya yang baru ini.


"Kau akan masuk ke kelas X-3. Wali kelasmu adalah Bu Runi, sebentar lagi beliau akan mengantarmu ke kelas yang baru," Begitu titah kepala sekolah, tidak ada basa-basi.


Lisa hanya mengangguk sopan. Ia melirik ke arah pintu. Apakah ia harus menunggu di sini atau di luar? Namun, belum sempat memutuskan, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik memasuki ruangan.


"Nah, Lisa, perkenalkan, beliau adalah wali kelasmu saat ini," Kepala sekolah berdiri, memberikan catatan tentang Lisa pada walinya. Lalu Bu Runi dan Lisa pun permisi menuju kelas.


Jam belajar-mengajar telah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Bukan salah Lisa jika dia sampai terlambat masuk kelas. Salahkan kepala sekolah yang terlalu cerewet itu.


"Permisi,"


Seorang bapak dengan rambut yang hampir memutih, menoleh ke arah Bu Runi. Ia pun mempersilahkan beliau masuk dan menyelesaikan urusannya.


"Anak-anak, perkenalkan ini Lisa. Ia adalah murid baru di sini. Ibu harap kalian bisa berteman dengan baik," Bu Runi pun mempersilahkan Lisa untuk memperkenalkan diri sebelum akhirnya ia duduk juga di bangku kosong sebelah gadis cantik berambut blonde.


"Hai, gue Rose. Gue harap kita bisa lebih akrab ke depannya, ya." Rose tersenyum ke arah Lisa.


"Baik, mohon bimbingannya kak," goda Lisa pada Rose. Mereka tertawa berdua. Sepertinya pertemanan ini akan berjalan baik. Begitu pikir keduanya.


Menit berlalu, hingga terdengar bel istirahat pertama berdentang. Lisa menarik nafas lega. Ia kesulitan mengikuti pelajaran karena belum memiliki buku paket. Sementara ia masih berbagi dengan Rose. Untung saja ia mendapatkan teman sebangku yang baik.


"Oh ya, Lisa, kenapa lo pindah sekolah?" tanya Rose.


"Pengen aja," jawab Lisa asal. Lalu cengiran lebar terpampang di bibir manisnya.


"Ini masih semester pertama, harusnya dari awal aja lo sekolah di sini," canda Rose. Lisa tertawa singkat sambil mengiyakan.


"Btw, lo mau ikut ekskul apa? Mau ikut gue ga? Ekskul teater sama paduan suara,"


"Wow.. Kayaknya gue ga ada bakat di dua ekskul lo itu," Lisa mengedikkan bahu.


"Sore ini, lo ikut gue dulu sambil lihat-lihat. Kalo emang ga suka, lo masih punya banyak waktu buat milih. Sekarang kita ke kantin," ajak Rose. Lisa tertawa saja sambil mengikuti langkah Rose.


...***...


"Halo, Deka.."


"Lisa,"


"Suka nyanyi?"


"Yahh, suka tapi ga terlalu bagus,"


"Mau liat-liat aja, atau mau test nada langsung?" tanya Deka sambil tersenyum. Lisa menoleh pada Rose. Ia masih belum tahu ekskul apa yang akan ia ambil.


"Langsung test nada aja, tapi sama lo," pinta Rose. Deka dan Lisa pun berjalan menuju arah keyboard. Kebetulan belum terlalu banyak yang datang. Lisa menjadi tidak terlalu terbebani.


"Biar apa musti test nada?" tanya Lisa.


"Biar tahu kamu ambil posisi apa. Apakah alto, sopran atau bass, semacam itu," jelas Deka singkat.


"Siap?" tanya Deka sembari memegang tuts keyboard. "Ikutin aja nada piano saya ya," lanjut Deka. Lisa hanya mengangguk.


"Lisa, suara lo lumayan. Hanya perlu sedikit latihan buat power. Kalau lo minat ekskul ini, lo bisa masuk ke alto," terang Deka setelah sesi test berakhir.


"Memangnya gak apa-apa gue cuma test gini tapi ga jadi masuk ekskul ini?"


"Gak apa-apa. Kan testnya sama gue. Kecuali lo test sama guru pembimbing," Deka tersenyum.


"Emang hobi lo apa?" tanya Deka lagi.


"Bangun siang, rebahan sambil nonton netflix sama dance," canda Lisa. Deka tertawa.


"Sayangnya club dance di sekolah ini belum terlalu jalan. Anak-anaknya pada angot-angotan. Guru pembimbingnya juga sama sekali ga niat," ujar Deka.


"Kok bisa?" Deka hanya mengedikkan bahu. "Mungkin karena yang suka dance pada lebih suka rebahan," canda Deka dengan tawanya yang khas.


"Eiihh," Lisa yang merasa disindir merengut lucu, namun detik berikutnya ia ikut tertawa pada candaan Deka.


"Gimana?" Rose menghampiri dua temannya itu.


"Alto, kalo Lisa mau," jawab Deka singkat.


Rose duduk di samping Lisa. Bahunya menyenggol Lisa, alisnya naik turun. Lisa hanya tertawa saja.


"Lisa lebih tertarik ikut ekskul rebahan tuh," Deka tersenyum.


"Ha?! Emang ada?" bingung Rose gak nyambung. Deka dan Lisa pun tertawa.


"Ada, nanti gue yang bikin," Lisa pun tos bareng Deka.


"Widihh akrab betul nampaknya," cibir Rose. Sedangkan Lisa dan Deka kembali tertawa.


Saat guru pembimbing datang, Rose mengajak Lisa menelusup di barisan anak alto. Sedangkan ia harus baris di depan karena ia tim soprano. Lisa sedikit susah disembunyikan mengingat postur tubuhnya yang lumayan tinggi. Beruntungnya, Bu Jessi, guru pembimbing mereka, tidak terlalu memperhatikan.


Kelas dimulai dengan pemanasan dan sedikit latihan pernafasan. Lisa yang kebingungan pun semakin menundukkan badannya agar tidak terlalu mencolok. Beruntung semua orang di ruangan ini memiliki suara yang lantang, itu mempermudah Lisa bersembunyi. Deka yang melihatnya pun tersenyum gemas.