
Lisa sedang duduk di depan laptopnya, ada rasa cemas yang menjalarinya sejak ia membuka mata pagi ini. Di sampingnya ada sang pacar yang malah terlihat sangat santai.
"Kok santai banget keliatannya?" Lisa melirik heran.
"Ya memangnya harus gimana, Sayang?" Seungcheol tersenyum, ia memasukkan helaian rambut Lisa ke belakang telinga gadis itu. Seungcheol sedang mode kalem hari ini. Ia paham jika Lisa sedang uring-uringan terkait hasil pengumuman wawancaranya beberapa minggu lalu.
"Emang kamu gak gugup sama hasilnya?"
"Sedikit," jawab Seungcheol sekenanya.
"Jajan dulu aja yok," Seungcheol sengaja mengajak Lisa pergi agar tak terlalu tegang.
"Nanggung, pengumumannya sepuluh menit lagi," tolak Lisa.
"Engga apa-apa, kalau pun kita lihat nanti malem juga bakalan sama aja," hibur Seungcheol tak ingin ikutan gugup kayak pacarnya.
"Aku traktir seblak, okay?" padahal biasanya Lisa selalu kena omel kalau kebanyakan jajan seblak. Hari ini memang istimewa.
Akhirnya Lisa luluh juga begitu mendengar kata seblak. Emang gampang banget sogokannya. Pakai seblak doang udah bahagia doi. Seungcheol pun heran sebenarnya.
"Eh pada mau kemana?" tiba-tiba Ian masuk dengan sekantong kresek indomaret. "Ini gue bawa camilan banyak, eh kalian malah pada mah cabut aja," omelnya.
"Lisa pengen seblak bang, beli dulu ke depan bentar," pamit Seungcheol. Ia tahu jika Ian sengaja beli camilan banyak buat dimakan sambil nunggu pengumuman beasiswanya. Seungcheol sudah cukup jengah dengan kegugupan Lisa. Ia tak akan sambut jika harus menghadapi kehebohan dua kakak beradik ini nantinya. Ada baiknya ia mengulur waktu sampai rasa gugupnya hilang. Namun diam-diam, ia memantau website LPDP di hp-nya. Iseng emang.
...***...
"Seblak datanggg," Lisa berteriak dari arah depan. Ia masuk diikuti oleh Seungcheol yang mengekor di belakangnya. Ian dengan sekaleng pringles hanya menoleh malas. Ia bukan penggila seblak, jadi ia sama sekali tak tertarik.
"Bang, keterima nih," Seungcheol menghampiri Ian dan ikut mendudukkan dirinya di sofa sampingnya. Ia nampak sangat santai. Sementara Ian sudah melotot antusias.
"Apanya? Beasiswanya?" tanyanya tak sabar.
"Iyalah, memangnya apa lagi?" tanya Seungcheol masih dengan cengiran tanpa dosanya.
"Heh, lo, ngilangin efek serunya nih,"
Yah memang apa yang Seungcheol lakukan sudah seperti seseorang yang memberikan spoiler di tengah-tengah antrian masuk bioskop. Menyebalkan.
"Kenapa bang?" Lisa tanya karena abangnya udah ribut dari tadi. Seblak di mangkok yang ia bawa hampir tumpah karena kaget sama suara Ian.
"Ini si monyet keterima," Ian tak mau mendapat spoiler sendirian.
"Keterima apa?" Lisa terdiam sesaat, hingga saat ia menyadarinya, Lisa melotot tajam ke arah pacarnya, "Lo kok udah tahu?!" tanya Lisa sewot, merasa momen harunya menghilang. Untung saja seblaknya sudah aman di atas meja.
Seungcheol hanya tertawa tanpa dosa melihat reaksi berlebihan dari dua kakak beradik di depannya ini. "Lagian kalian berdua tuh tegang banget, chill aja chill," ucapnya santai. Tentu saja itu mendapat hadiah tabokan dari Lisa. Sekali lagi mereka memastikan pengumumannya yang sudah basi itu dari laptop Lisa. Dan yah, memang seperti apa yang dikatakan Seungcheol sebelumnya, Seungcheol diterima.
"Selamat deh," ucap Lisa sambil mengerling sinis. Seungcheol malah gemas sendiri.
"Inget belajar yang rajin, katanya mau nyusul kan," ingatnya pada Lisa.
"Iyaaa, bawel," Lisa masih sewot. Seungcheol masih tertawa saja.
...***...
Lisa melihat siswa asing di hadapannya. Ia tak merasa pernah kenal seseorang yang sedang berdiri sambil tersenyum di hadapannya.
"Gue, Jisoo, tadi Seungcheol bilang supaya nganterin lu ke bangku penonton," ucapnya menjawab pertanyaan tak terucap Lisa.
Tanpa menunggu jawaban Lisa, orang yang mengaku bernama Jisoo langsung berjalan mendahuluinya sambil mengatakan beberapa hal. Bahkan Lisa belum bilang setuju untuk mengikuti dia. Namun, kayaknya Lisa sedang tidak ingin cari perkara dengan kakak kelas, lebih baik ia menurut saja.
"Pertandingannya bentar lagi mulai, jadi kita langsung ke bangku lo aja," ucapnya lagi-lagi seolah menjawab pertanyaan Lisa yang hanya terucap di dalam kepalanya saja. Lisa pun bergidik ngeri, jangan-jangan orang di depannya bisa baca pikiran orang.
Lisa mendadak menyesal karena tam berhasil memaksa Rose untuk ikut. Ia tak mengenal siapa pun di sana, kecuali seseorang yang sedang bertanding di lapangan itu. Rambutnya mulai nampak basah karena keringat. Dan itu membuat Seungcheol nampak lebih keren.
Oh ya, Jisoo akhirnya menemani Lisa menonton di sebelahnya. Menurut Seungcheol, ia harus menemani Lisa hingga akhir. Jisoo yang pada dasarnya cuek tapi baik ya iya iya aja, cuma Lisa yang jadi merasa gak enak.
"Ini, udah disiapin sama Seungcheol, kali aja lo haus atau laper,"
Lisa melihat kantong alfamart di tangan Jisoo. Ia meringis menatap Jisoo menunjukkan jika ia merasa sungkan. Bagaimana pun Seungcheol adalah kakak kelas sekaligus ketua OSIS yang menurutnya, ia tak kenal-kenal amat. Tapi kenapa harus segininya?
Melihat Lisa yang menjadi semakin kikuk, Jisoo hanya tertawa. Dengan paksa, ia meletakkan kantong itu di pangkuan Lisa.
"Terima aja, Seungcheol bahkan gak pernah ngajak ngobrol cewek duluan, lo yang pertama," Jisoo tersenyum berharap Lisa mengerti maksudnya. Lisa kembali memfokuskan pandangannya pada Seungcheol yang sedang mendrible bolanya. Sekali lagi, tampak sangat keren.
...***...
"Terus kapan serah terima jabatan OSIS-nya?" tanya Lisa saat mereka sedang makan di kantin yang tumben rada sepi.
"Nanti sekaliae pelantikan," jawab Seungcheol sambil menyuap baksonya. Lisa mengangguk mengerti.
"Kenapa gak mau banget ikut OSIS?" tanya Seungcheol, "Rose aja daftar jadi pengurus tahun ini,"
"Aku udah sibuk banget gini, kamu pengennya aku gak punya waktu buat kamu gitu ya?" tanya Lisa sewot.
"Marah-marah mulu,"
"Situ nanya aneh-aneh mulu,"
Seungcheol menarik nafas perlahan. Sama sekali bukan maksudnya mencari perkara. Baginya, berorganisasi di masa sekolah itu lumayan memberikan pengalaman yang penting. Itu juga akan membuka koneksi bagi Lisa, yang mungkin kedepannya akan sangat berguna.
Tapi ya, Lisa tidak berpikir ke sana. Lisa cenderung berjiwa bebas. Ia lebih suka melakukan hal-hal yang ia sukai saja. Tak ada yang salah, bahkan Lisa memang cukup aktif, dan juga ia sangat tahu apa yang ia mau. Bagi Seungcheol itu juga baik agar Lisa bisa melangkah ke jalan yang memang ia minati. Singkatnya Lisa sudah memiliki tujuan yang jelas. Jarang anak mudah seusia mereka yang memiliki pemikiran ke depan.
"Jadi, kamu bakalan sibuk banget ya?" Lisa pun merasa bersalah sedikit, ia tahu Seungcheol mungkin bertanya karena Seungcheol sendiri akan sangat sibuk. Ia sudah mengambil kelas bahasa Jerman sejak sekarang. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan sebelum benar-benar bisa berkuliah di Jerman. Belum lagi persiapan Ujian Nasional. Tentu saja Lisa mengerti.
"Aku bakalan luangin waktu buat kamu kan," Seungcheol menggenggam tangan Lisa lembut, "hari minggu, seharian, aku buat kamu,"
"Ya tapi, artinya kamu ga ada waktu buat istirahat,"
Ugh! Jangan sampai mereka menjadi berdebat lagi. Seungcheol memejamkan matanya frustasi.
...****************...