SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 5



Setiap hari minggu pagi, biasanya Lisa akan bangun sangat siang. Terlebih jika ia tak memiliki acara apa pun. Lisa jarang sekali mau menyetujui minggu paginya di ganggu. Namun, kali ini ada yang berbeda. Lisa sudah bangun sejak jam tujuh pagi di hari minggu. Ini adalah keajaiban.


Vernon duduk di ruang tamu keluarga Lisa dengan ditemani secangkir teh hangat di depannya. Ia sedang menunggu Lisa dan Rose. Rencananya mereka akan pergi ke sesuatu tempat. Semacam untuk melepas penat. Mereka sudah sepakat sejak tadi malam.


"Eh, ada tamu ya," Ayah Lisa menghampiri Vernon yang sedang duduk sendiri.


"Pagi, Om," Vernon mengangguk sopan.


Ayah Lisa hanya tersenyum dan berbasa-basi sebentar sebelum pergi lagi melanjutkan kegiatannya yang lain. Vernon kembali duduk dengan tenang sembari menunggu Lisa dan Rose.


"Udah nunggu lama?" akhirnya Lisa muncul juga bersama dengan Rose di sampingnya.


"Yahh, sekitar satu jam tiga puluh menit," ucap Vernon sembari melihat ke arah jam tangannya dengan wajah jahil.


"Selama itu?" Rose pun terkejut. Ia rasa, tidak akan selama itu. Lisa yang bisa melihat kebohongan di mata Vernon pun hanya tertawa dan menggeleng saja.


"Candaaa," tawa Vernon akhirnya pecah. Sedangkan Rose hanya mendengus kesal.


Mereka pun berpamitan dengan orang tua Lisa sebelum berangkat menuju pantai, tujuan mereka. Pantai yang mereka maksud cukup jauh. Mungkin bisa memakan waktu 3-4 jam perjalanan dengan mobil. Mereka berencana makan siang dengan berbagai olahan seafood. Makanya mereka berangkat cukup pagi.


Duduk di belakang, Lisa sibuk dengan kameranya. Ia banyak menemukan objek yang menarik untuk diabadikan. Lisa memang sudah membeli kamera baru sesuai arahan Vernon. Dan, rupanya Lisa sangat menyukai hobi barunya ini.


"Gue baru tahu, Lisa suka photography juga," Rose melirik ke arah Lisa sambil tersenyum.


"Yah, gue juga baru tahu kalau ini menyenangkan," Lisa menjawab dengan cengirannya.


"Nanti kita hunting banyak photo di pantai," Vernon tersenyum melihat Lisa dari spion depan.


Lisa sendiri hanya mengangguk semangat menanggapi Vernon. Berdua ini, saling tatap melalui kaca spion depan, seolah saling berkomunikasi hanya melalui mata.


Melihat kedekatan antara Lisa dan Vernon, membuat Rose sedikit tidak nyaman. Entah apa? Rose menghela napas perlahan. Apakah ia cemburu? Mungkinkah?


...***...


Hari ini cuaca cukup terik. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk melihat pantai. Namun, sepertinya, tiga orang yang sedang dalam perjalanan menuju pantai tersebut tidak terlalu mempermasalahkannya.


"Kita berhenti sebentar buat beli cemilan ya," ucap Vernon sembari mengarahkan mobilnya menuju parkiran sebuah mini market warna merah.


Mereka bertiga pun turun dengan antusias. Bagaimana pun mereka memanglah anak SMA, yang mana suka jajan dan ngemil. Bersenang-senang bersama jajanan favorit juga minuman kemasan dingin.


"Sini," Vernon mengambil alih keranjang Lisa. Kini ia membawa dua keranjang yang berbeda di kedua tangannya.


"Vernon, lo ga sekalian bawain punya gue? Ini lebih berat," omel Rose.


"Bawa sendiri," canda Vernon.


"Ishh.." Rose berdecak sebal kepada Vernon. "Gak adil," gerutunya lagi.


Lisa tersenyum melihat hal itu. Ia merasa tak enak juga sebenarnya. Lisa pun berusaha mengambil keranjangnya kembali dari tangan Vernon. Namun, laki-laki itu melarangnya.


"Biar adil, Vernon," kini Lisa telah merebut paksa keranjangnya. Ia memelotot lucu ke arah Vernon saat laki-laki itu ingin memprotesnya. Sedangkan Rose malah menertawakan Vernon.


...***...


"Vernon,"


Rose meminta atensi Vernon yang selalu mengarah pada Lisa. Lisa sendiri sedang sibuk dengan kameranya. Sebenarnya hal yang wajar jika Vernon menjadi lebih memperhatikan Lisa hari ini. Karena, Vernon juga menyukai photography. Bisa saja Rose tak perlu berpikir berlebihan. Namun, naluri wanitanya berkata bahwa ia harus waspada.


Di depan Vernon yang masih menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Rose kembali menghela napas.


"Gue suka sama lo," Rose berkata serius. Tanpa basa-basi. Tidak terlihat manis. Malahan terlihat frustasi dan kesal.


Vernon menaikkan alisnya. Ia tidak mengerti. Seolah otaknya berhenti berfungsi. Apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar seperti saling mengkhianati satu sama lain.


"Gue beneran suka, banget," Rose mengulang kalimatnya. Masih dengan ekspresi yang sama.


Sayangnya Lisa kebetulan saja sedang mendekat. Awalnya ia ingin menunjukkan hasil bidikan kameranya pada seekor bintang laut yang terdampar di pinggir pantai. Ia ingin mendapat penilaian dari Vernon, sebagai yang telah berpengalaman. Namun, kalimat Rose berhasil mengejutkannya. Lisa pun berbalik pergi, menjauh, tanpa ingin mencari tahu lebih banyak.


"Rose," Vernon seolah kehabisan kata-kata.


"Vernon, gue gak bercanda dan gue bener-bener suka sama lo," Rose masih menatap Vernon dengan intens, "Gue bahkan udah lama punya rasa suka ke lo,"


...***...


Lisa sedang duduk sendiri di sebuah warung yang menjual kelapa muda. Lisa membeli satu. Sepertinya enak meminumnya saat suasana begini. Lisa mendengus. Apa yang ia pikirkan? Cemburukah?


Jadi apakah dirinya menyukai Vernon? Perasaan tidak nyaman apa ini? Lisa semakin tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Hingga sebuah tangan menepuk halus kepalanya.


"Lagi mikirin apa?" Vernon tersenyum melihat wajah terkejut Lisa.


"Kok lo di sini?" tanya Lisa.


"Ngajakin lo makan siang, Rose udah dapet tempatnya," Vernon mengulurkan tangan, bermaksud mengajak Lisa pergi saat itu juga. Lisa mengangguk sambil tersenyum. Ia beranjak mengikuti langkah Vernon. Hari ini, Lisa lebih pendiam dari biasanya.


...***...


"Sini,"


Vernon mengambil alih kepiting yang ada di tangan Rose. Ia memperhatikan sedari tadi Rose kesusahan membuka cangkangnya. Maka, Vernon berniat membantu.


Hal itu tentu saja tak luput dari penglihatan Lisa. Ia tersenyum kecut. Menyalahkan dirinya sendiri atas perasaannya. Mereka memang baru berkenalan. Sedangkan Rose dan Vernon, mereka satu sekolah, sudah saling kenal jauh sebelum Lisa.


Lisa diam-diam memakan lobsternya dengan khidmat. Berusaha menikmati rasa manis dari daging lobster segar di hadapannya. Satu piring kecil daging kepiting disodorkan ke depan wajah Lisa. Ia pun menoleh, mencari tahu dari siapa piring itu.


"Vernon?"


Lisa terkejut mendapati Vernon yang tersenyum padanya. Tangannya masih terulur ke arah Lisa. Alis Vernon naik sebelah, mengisyaratkan Lisa untuk segera mengambil piring kecil tersebut. Lisa pun tersenyum dan berterima kasih. Lalu diam kembali.


"Lobsternya enak?" tanya Vernon karena melihat Lisa belum menyentuh kepiting darinya.


"Enak. Banget." Ucap Lisa sambil tertawa.


"Pantesan kepitingnya gak laku," canda Vernon. Lisa pun tersenyum tengil menanggapi candaan itu.


"Boleh nambah gak sih? Ini enak bangett," ucap Rose setelah sepiring seafood bumbu padang di hadapannya ludes.


"Boleh," angguk Vernon.


Lisa dan Rose pun bertos ria. Mereka pun menambah pesanan lagi. Sepertinya mereka akan sangat kekenyangan hari ini.


...****************...