SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 6



Rose dan Lisa sedang duduk menikmati sunset di hadapannya. Hamparan warna jingga keemasan beradu indah dengan kemilau air laut di bawahnya. Vernon sedang membeli beberapa makanan juga minuman untuk menemani mereka menghabiskan senja.


"Gue mungkin bakalan ke Australia aja deh," gumam Rose.


Lisa menoleh ke arah Rose. Ia cukup terkejut mendengar keputusan Rose itu. Ia pikir Rose sedang bercanda seperti biasanya. Namun, tidak ada tanda-tanda Rose sedang bercanda.


Ia memang sudah tahu permasalahan Rose. Setidaknya garis besarnya. Jadi, perkataan Rose barusan cukup mengejutkan Lisa.


"Kenapa? Kok tiba-tiba banget?" ucap Lisa.


Rose menghela nafas sebelum akhirnya menghadap ke Lisa. Lisa sendiri masih menatap Rose dengan tatapan penuh tanya. Bukankah sebelumnya Rose yang bersikeras untuk tetap menetap di negara ini saja?


"Gak tahu," Rose terlihat sendu. "Gue ngerasa kayak kehilangan arah," mata Rose terlihat menyedihkan.


"Gue bingung, Sa," kini Rose kembali menatap langit. "Sebenarnya apa tujuan gue bertahan di sini? Gue bahkan gak tau, mau gue tu apa?" Rose mengerang frustasi. Air mata telah lolos dari matanya.


Lisa menepuk pelan bahu Rose yang mulai berguncang. Sesungguhnya ia sangat tidak pandai dalam menghibur orang.


...***...


Vernon datang di waktu yang tepat. Kala matahari sudah separuh tenggelam di antara garis laut. Semburat keemasan yang terpadu dengan warna keunguan dan birunya langit, menambah kesan romantis. Ia membawa sekantung penuh camilan beserta beberapa botol minuman kemasan berbagai rasa.


Ia menyadari jika suasana di sekitar para gadis nampak tidak begitu baik. Ia juga belum tahu kenapa? Tapi sepertinya Vernon bisa sedikit menebak, ini pasti tentang Rose. Rose memang cukup terbuka, ia bisa cerita kepada siapa pun jika beban di hatinya sudah memuncak.


"Makanan datang," Vernon berusaha memperbaiki suasana. Ia bisa melihat jelas gerakan Rose yang sedang menghapus air matanya.


"Lo nangis?" Vernon ingin tahu juga.


Rose menunduk. Ia tahu jika pada akhirnya ia tak bisa menyembunyikan apa pun. Namun, Rose menyadari satu hal, alasan paling kuat keinginannya untuk pergi adalah Vernon.


"Gimana kalau kita photo-photo? Pemandangannya lagi indah banget gini," ucap Lisa mengalihkan perhatian.


Vernon bangkit. Ia tersenyum ke arah Lisa yang telah menenteng kamera barunya. Lalu, Vernon memberi tangannya pada Rose. Mengisyaratkan pada Rose agar segera bangkit juga. Dalam keceriaan yang palsu, mereka tertawa untuk mengabadikan momen.


...***...


"Ada apa?"


Mereka bertiga sedang makan malam di sebuah restoran kecil yang mereka temukan di sepanjang perjalanan mereka kembali dari pantai. Vernon merasa perlu membicarakan semuanya kepada Rose. Ia tidak ingin, Rose menjadi terlalu impulsif dalam mengambil keputusan akibat mengedepankan emosi sesaat.


"Lo yakin ga mau bahas ini?" tanya Vernon karena tak kunjung mendapat jawaban dari Rose.


"Rose," Vernon sedikit memaksa. Ia merasa perlu melakukannya agar Rose bisa memikirkan baik-baik apapun yang sedang ingin dia putuskan.


Rose akhirnya menatap Vernon dengan berani. Matanya tak menyiratkan apa pun. Namun, ada sedikit kepahitan dalam nada suara Rose.


"Vernon, Lo jawab gue," Rose menarik nafas dalam, "kalo lo harus pilih gue atau Lisa, siapa yang bakal lo pilih?"


Tentu saja Vernon maupun Lisa terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Rose. Terlebih Lisa, ia merasa sedikit tak nyaman disangkut-pautkan dengan hal yang seharusnya tak perlu ada dia di sana.


"Maksud lo apa, Roseanne?" Vernon benar-benar tak mengerti jalan pikiran temannya ini.


"Bukannya gue udah bilang, gue suka sama lo," Vernon melirik Lisa. Ada keterkejutan di mata Lisa. Rose telah menempatkannya pada posisi yang serba salah. Lisa sangat tak nyaman.


Vernon mengusap wajahnya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Bukan tentang siapa memilih siapa atau siapa suka dengan siapa. Yang menjadi fokus Vernon adalah, Rose harus tahu baik dan buruknya konsekuensi atas keputusan yang ia ambil. Seharusnya, Rose menempatkan kenyamanan dia sendiri di urutan paling atas ketika dia mempertimbangkan kemana ia harus pergi.


"Rose, jangan kekanakan," Vernon mengeluh pelan.


"Kekanakan? Gue memang masih anak SMA kalo lo lupa," Rose bukan marah. Ia hanya sedang putus asa.


Lisa melihat jika kedua orang di hadapannya melanjutkan debatnya, maka mereka akan segera bertengkar. Maka, Lisa memutuskan untuk ikut campur. Bagaimana pun namanya telah terseret dari awal.


"Hei," Lisa menggenggam tangan Vernon dan Rose bersamaan. "Gue rasa kita harus mundur sebentar," Lisa segera memberi isyarat ketika omongannya akan dipotong Rose.


"Lo harus pikir lagi tentang keputusan yang mau lo ambil. Coba lo pikirin diri lo sendiri, kenyamanan lo, masa depan lo, kesenangan lo," Lisa mengarahkan kalimatnya pada Rose.


"Dan lo juga, lo harus ngertiin posisi Rose dong. Jangan cuma bisa maksain tapi lo sendiri bahkan ga bisa sampein maksud lo dengan baik," kini Lisa beralih ke Vernon.


Lisa menarik nafas dalam. Ia kini menarik kedua tangannya, menjauh dari tangan Vernon dan Rose.


"Gue ga pengen ikut campur, tapi kalian udah jadi temen gue sekarang. Gue harap, setelah kalian udah sama-sama berpikir, kalian bisa ngobrolin ini lagi dengan hati dan kepala yang lebih dingin," tutup Lisa.


...***...


Malam ini Lisa sedang disibukkan dengan revisi beberapa design bajunya. Sebenarnya tenggat waktu untuk revisi ini masih cukup lama. Namun, Lisa perlu untuk menyibukkan diri. Ia tidak ingin berlarut dengan pikirannya tentang hubungan antara dia, Vernon dan juga Rose. Lisa masih tak tahu harus berpikir bagaimana. Benar jika Lisa mulai menyukai Vernon, tapi dengan kondisi yang rumit ini, rasanya ini memang bukan waktu yang baik.


Di kamarnya, Rose sedang merenungkan apa yang telah Lisa katakan padanya. Pemikirannya yang dangkal dan impulsif memang telah membuatnya merasa malu. Bagaimana ia bisa begitu egois? Bahkan ia telah melihat dengan jelas bagaimana Vernon menyukai Lisa. Vernon memang tidak mengatakan apa pun. Tapi perasaannya itu seperti lembaran buku yang terbuka, sangat terlihat jelas.


Rose menarik nafas dalam. Ia berpikir bagaimana jika Lisa juga menyukai Vernon. Bukankah tingkahnya tadi sore akan menyakiti Lisa? Padahal Lisa sendiri telah sangat baik kepadanya. Tapi, jika memang Rose harus memikirkan kebahagiaannya, apakah salah jika ia berharap Vernon lebih memilihnya? Bukankah keegoisannya ini adalah demi kebahagiaannya? Rose mengerang frustasi di kamarnya. Nuraninya berperang dengan perasaan suka yang telah ia pendam lama untuk Vernon. Apa yang harus ia pilih?


...****************...