
"Kenapa aku bisa punya pacar kayak gini sih?"
Lisa memandang ke arah pacarnya yang sedang makan di hadapannya. Tatapannya menunjukkan betapa frustasinya Lisa. Satu tangan Lisa sedang memangku kepalanya, dan tangan lainnya ia gunakan untuk mengaduk semangkok mie ayam yang bahkan belum ia makan sama sekali.
"Kenapa gak makan? Masih gak mood?" Akhirnya sang pacar buka suara.
Lisa berpikir betapa aneh sifat pacarnya ini. Ia adalah pribadi yang tegas dan sangat bisa diandalkan. Tapi, ia juga memiliki kepribadian kekanakan dan mudah sekali marah. Jika ia marah, maka ia akan mengomel dengan mulut mengerucut. Persis anak balita yang ngambek karena mainan kesukaannya direbut. Tapi, hal lain yang membuat Lisa bertahan adalah betapa recehnya si pacar. Sebenarnya tak terlalu berbeda jauh dengan Lisa sendiri yang tingkat humornya sangat parah. Mereka berdua akan dengan mudah menemukan sesuatu yang lucu dari hal-hal yang sangat sederhana.
"Lagian siapa tadi yang ngomel-ngomel gak jelas?" gerutu Lisa. Ia ingat bagaimana pacarnya mengomel dengan bibir kerucutnya itu. Lalu di detik berikutnya ia meminta maaf pada Lisa. Namun sayangnya Lisa sudah terlanjur kesal dituduh demikian.
"Kan udah minta maaf," ujar Seungcheol memberikan pembelaan pada dirinya. Lisa semakin merenggut. Dengarlah, betapa tidak tulusnya permintaan maaf itu?
Iya.. Sayang iyaa.. Maaf ya karena udah cemburu gak jelas, aku cuma terlalu takut kehilangan kamu," rayu Seungcheol.
Lisa menghela nafas. Ia tidak keberatan jika Seungcheol merasa cemburu jika ia dekat dengan laki-laki lain. Lagi pula Lisa mengakui posisinya yang ambigu. Pasti akan menimbulkan kesalah pahaman. Dan fakta bahwa Seungcheol sudah langsung meminta maaf tanpa memintanya menjelaskan hanya menunjukkan betapa Seungcheol mempercayai Lisa.
"Maaf juga," Lisa mengucapkannya dengan pelan.
"Apa?" jawab Seungcheol sambil membawa telinganya mendekat ke arah Lisa. Namun sudah ada senyuman di wajah tampan Seungcheol.
"Ishh.. Kuping.." kini Lisa kesal lagi. Tapi Seungcheol malah tertawa. Baginya wajah cemberut Lisa adalah yang terlucu dan menggemaskan.
"Marah-marah mulu deh," Seungcheol mengetuk dahi Lisa perlahan dengan salah satu jarinya.
...***...
Lisa berlari dengan segala atribut di sekujur tubuhnya. Hari ini adalah hari pertama orientasinya di SMA. Namun, ia malah kesiangan. Dalam hati Lisa berdoa agar tak mendapatkan hukuman berat. Ia pun semakin mempercepat larinya.
"Kak tunggu," dengan nafas tersengal ia berusaha meraih tangan seseorang yang akan menutup pagar sekolah segera. Sebenarnya ini memang tugas satpam, tapi si kakak kelas ini juga terlambat. Dan ia tahu bagaimana cara membuka pagar tanpa ketahuan. Ia juga sudah hapal betul kapan satpam sekolah akan meninggalkan singgasananya.
"Kak, tolong," ucap Lisa memelas. Ia melihat sang kakak kelas ini diam di antara celah pagar yang terbuka, seolah tak ingin membiarkan Lisa masuk.
"Siapa namamu?" ucap sang kakak tingkat.
Lisa meneguk salivanya kasar. Kini ia semakin gugup. Jika ia mengatakannya, apakah kakak kelasnya ini akan mencarinya dan menghukumnya? Ah tapi bukankah wajahnya juga sudah terlihat. Ia tak akan bisa bersembunyi bahkan jika si kakak kelasnya ini tak mengetahui namanya.
"Lisa" akhirnya Lisa menyebutkan namanya.
Hanya begitu saja dan si kakak kelas itu menyingkir untuk membiarkan Lisa masuk. Ia tak bisa membiarkan pagar terbuka lebih dari ini. Ia tak ingin ketahuan juga.
"Tutup gerbangnya," setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan Lisa sendirian. Lisa sendiri hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
"Hei kamu terlambat ya?" seorang satpam tergopoh-gopoh mendekat. Lisa terkejut dan heran. Sedangkan kakak tingkat yang tadi bersamanya telah menghilang entah bagaimana. Lisa kini menjadi semakin panik ketika satpam mulai mendekat. Namun, Lisa segera melarikan diri. Ia rasa pak satpam juga belum melihat wajahnya dengan jelas. Jadi Lisa merasa tak masalah jika ia harus berlari lagi kali ini. Bahkan Lisa lupa menutup pagarnya. Namun apa pedulinya?
Lisa mengambil nafas dalam-dalam saat ia merasakan pasokan oksigen dalam paru-parunya nyaris habis. Keringat telah membasahinya. Lisa menunduk dengan memegang kedua lututnya, salah satu usaha terbaiknya untuk menjaga dirinya agar tak jatuh.
"Bukankah sudah ku katakan untuk menutup pagar?"
"Jadi kau tadi sedang terlambat juga rupanya?" Lisa mengangkat alis dengan berani. Matanya tajam tak ingin terintimidasi oleh mata tajam yang juga sedang menatapnya ini.
...***...
"Ngelamunin apa?"
Seungcheol merasa aneh karena melihat Lisa melamun hampir lima belas menit penuh. Itu waktu yang cukup lama untuk berdiam diri. Padahal menurutnya Lisa bukanlah tipe orang yang suka melamun.
"Pertemuan pertama kita," jawab Lisa.
"Hm? Ada apa? Kenapa tiba-tiba inget itu?" tanya Seungcheol heran.
"Biar gak lupa kalau kamu emang nyebelin sejak awal,"
Ah rupanya Lisa masih merajuk. Seungcheol menghela nafasnya. Jika sifat kekanakan Lisa sudah muncul, maka Lisa akan sangat sulit di hadapi.
"Lisa, berhentilah bersikap seperti anak-anak," Seungcheol mulai lelah.
"Aku akan mengingatkanmu jika aku bahkan belum tujuh belas tahun," protes Lisa.
Seungcheol mendekat dan menangkup kedua pipi Lisa. Kini keduanya menjadi sangat dekat. Lisa bisa melihat jelas rasa frustasi Seungcheol dari matanya. Ia sebenarnya ingin berhenti, namun entah mengapa selalu saja ada kalimat atau tingkah laku Seungcheol yang menyebalkan.
"Apakah sekarang sudah tanggalnya? Tanggal berapa sekarang?" tanya Seungcheol masih dengan tangan yang menangkup pipi Lisa. Mendengar pertanyaan Seungcheol membuatnya melotot sebal. Bagaimana ia bisa bertanya hal yang sangat pribadi dengan begitu santai? Tak tahu kah ia jika Lisa sudah malu setengah mati?
"Baiklah, tunggulah di sini, aku akan membawakanmu banyak cemilan manis," Seungcheol mengusap pucak kepala Lisa dengan lembut.
...***...
Coklat berbagai merk, pocky berbagai rasa, bahkan masih ada beberapa keripik kentang dan susu coklat. Mata Lisa pun berbinar melihat itu semua. Kekesalannya sudah lenyap. Ia tersenyum manis pada pacarnya.
"Dasar," Seungcheol mengetuk dahi Lisa menggunakan satu jarinya dengan lembut. Lisa hanya tersenyum sambil memejamkan mata.
"Aku langsung pulang ya," Seungcheol menepuk kepala Lisa dengan lembut.
"Kok pulang?" Lisa merenggut lagi.
"Ih gak mau pisah banget ya?" tanya Seungcheol tengil. Lisa pun mengerling sinis.
"Gih, sana pulang," ketus Lisa. Seungcheol hanya tertawa.
"Udah malem Sa, besok kan ketemu lagi di sekolah. Mau dijemput?" Seungcheol mengalah.
Lisa hanya mengangguk. Jika ia sedang datang bulan, ia pengennya manja-manja. Tapi, ya memang sudah cukup malam. Ia tak bisa menahan Seungcheol lebih lama lagi. Lisa melambaikan tangannya, begitu pula Seungcheol. Ia berlalu dengan motornya, meninggalkan senyum manis berhiaskan lesung pipit yang membuatnya menjadi sangat tampan.
...****************...