SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 10



Minghao tampak termenung dengan surat pindah yang ada di tangannya. Ayahnya adalah seorang duta besar, yang memang sudah terbiasa baginya untuk pindah dari satu negara ke negara lain. Namun, sempat ada kesalahan. Dimana, sang ayah yang seharusnya kembali ke Indonesia tahun ini, harus menerima tugas lain di negara yang berbeda.


Minghao tak lagi memiliki saudara yang cukup dekat dengan mereka di Indonesia. Dan kedua orang tuanya terlalu khawatir jika harus meninggalkan Minghao sendirian di negara yang asing. Betul, Minghao adalah warga negara Indonesia, tapi bahkan sejak kecil ia sudah keliling dunia. Sangat jarang baginya untuk tinggal lama di negaranya sendiri. Itu kenapa, orang tuanya menganggap Minghao masih asing dengan Indonesia.


Bukan salah siapa-siapa. Ini hanya murni keadaan yang membuat segala sesuatunya menjadi sulit. Bagi Minghao, ia tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Ia bisa mengerti sepenuhnya seperti apa pekerjaan sang ayah. Dan ia tak akan melawan.


Ia menarik nafas dalam. Minghao menatap barang-barang yang telah dikemas dari kemarin. Kamarnya kini nampak kosong. Ia mengambil Hp yang sedari tergeletak di mejanya. Sebuah paket kecil dalam paper bag ada di sampingnya. Minghao membuka satu aplikasi ojek online berlogo hijau, dan melakukan pemesanan.


...***...


"Dari siapa pak?"


"Atas nama Minghao neng,"


Lisa mengangguk, tersenyum dan berterimakasih pada bapak ojol yang sudah mengirimkan paket itu. Si bapak ojol hanya mengangguk lalu berpamitan. Ongkos sudah dibayarkan oleh Minghao.


Paper bag warna coklat itu kini telah berada di tangan Lisa. Ia sedikit mengernyit heran. Tidak biasanya Minghao melakukan ini. Biasanya ia akan mengantarkan langsung atau mereka akan bertemu di suatu tempat.


Lisa masuk kamarnya dengan tergesa. Ia sudah penasaran dengan isi paket itu. Rupanya sebuah flashdisk, gelang perak yang indah serta satu surat.


Mengabaikan hadiah yang lain, Lisa segera membaca surat itu. Ternyata cukup panjang. Dan semakin Lisa membacanya, semakin Lisa ingin menetes. Hingga air mata tanpa sadar telah membanjir di pipinya yang cantik.


Lisa terdiam. Ia merasa kesulitan mencerna apa yang telah terjadi. Hatinya terasa sakit. Dengan kasar, ia menghapus air matanya. Ingin segera mengetahui isi flashdisk itu.


"Hai Lisa"


Lisa membaca judul yang tertulis di awal video. Suasana senja dibatas sebuah rooftop menyambut begitu video terputar. Ia melihat Minghao tersenyum. Ada kesedihan dalam matanya saat menatap Lisa. Namun, di hadapan Minghao, ia melihat dirinya sendiri nampak bahagia. Air mata Lisa kembali mengalir, bagaimana ia tidak menyadarinya saat itu?


Kini Lisa mendengar Minghao menyanyi. Melodinya mengalun indah dan lembut, sangat serasi dengan suara Minghao. Tarian mereka nampak sangat indah ditambah latar belakang senja yang keemasan. Lisa menutup mulutnya lagi. Hatinya menjadi semakin sesak melihat video itu. Sebuah video perpisahan dari seseorang yang mulai masuk jauh ke dalam hatinya.


"Saat musim dingin tiba,


Senyum orang-orang disembunyikan oleh syal mereka


Aku rindu menjadi seberkas cahaya dan membelai wajahnya"


Ya, Lisa juga merasa rindu. Sudah sangat rindu. Sesaat Lisa tersadar sesuatu. Dan ia harus memastikannya. Dengan tergesa Lisa bangkit setelah menutup laptopnya.


...***...


Lisa turun dari mobilnya di depan sebuah rumah yang nampak ramai. Ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan membawa beberapa koper serta barang lainnya. Entah apa saja isinya.


Namun, mata Lisa hanya tertuju pada satu titik. Seseorang yang nampak menunduk di pagar teras rumahnya. Bersandar dengan bahu yang sedikit merosot. Terlihat sangat sedih. Melihat itu, Lisa tahu ia tak merasakan pedih ini sendirian.


"Lisa?"


Seorang ibu paruh baya membangunkan Lisa dari lamunannya. Ia menoleh pada ibu yang memanggilnya. Ya, dia kenal, beliau adalah ibu Minghao. Di sampingnya ada seseorang yang gagah berdiri dengan garis wajah yang tegas. Lisa langsung tahu jika ia adalah ayah Minghao.


Lisa membungkuk hormat sembari memberi salam. Ia mencium tangan sang ibu seperti yang biasa ia lakukan saat berkunjung ke rumah Minghao selama ini. Namun, ia tak pernah melihat sang ayah. Dan si ibu yang menyadarinya memperkenalkan mereka berdua.


"Ada apa nak? Kau menangis?"


Lisa menunduk. Ia telah ketahuan. Ia memang menghapus air matanya buru-buru. Sehingga itu menimbulkan titik-titik air mata yang masih tertinggal di matanya yang cantik.


Kini sang ayah mengerti apa yang terjadi. Ia memang cukup peka dengan lingkungan sekitarnya. Meski Lisa maupun Minghao tak mengatakan apa pun, ia tahu.


"Mari kita masuk dulu,"


Sang ayah mempersilahkan Lisa. Minghao yang melihat Lisa berjalan ke arahnya tampak terkejut. Apakah Lisa datang? Apa yang mereka lakukan bersama?


"Duduk nak," Sang ibu lah yang mempersilahkan duduk.


Minghao yang mengikuti mereka ikut mendudukkan dirinya di sisi yang lain. Sementara sang ayah telah duduk di sofa single yang ada di ruangan itu.


Lisa dan Minghao mengangguk bersamaan. Hal itu membuat sang ayah menghela nafas berat. Kenapa anaknya tak mengatakan saja dengan jujur. Selama ini, yang ia tahu Minghao tak pernah benar-benar berteman dengan seseorang. Hal itu juga telah mengganggunya dan membuatnya semakin merasa bersalah. Masa muda anaknya harus terasa suram karena dia. Tapi, ada hal-hal yang sudah terlanjur terjadi, dan sulit untuk diubah.


"Minghao, kenapa gak bilang sama ayah?"


Melihat betapa sedih wajah keduanya, ia paham jika mereka sangat dekat. Pasti merasa berat untuk berpisah satu sama lain.


"Aku tak ingin membuat ayah merasa bersalah dan khawatir,"


"Nak, kepindahan mu telah diurus dan sulit untuk dibatalkan begitu saja," Sang ayah nampak frustasi, "Jika saja kau bilang dari awal, ayah akan mengizinkanmu untuk tetap tinggal,"


Tersadar dengan apa yang ia katakan terasa memojokkan anak semata wayangnya, sang ayah pun merasa bersalah detik itu juga.


"Maafkan ayah.." kini sang ayah menatap Minghao lembut, "Ayah tak tahu jika kau memiliki teman, ayah pikir.." kalimatnya menggantung melihat Minghao meneteskan air mata. Ini adalah air mata pertama yang ia lihat semenjak Minghao mulai dewasa.


"Ayah, maafkan aku," Minghao kini menatap Lisa, "Lisa maaf,"


Minghao menunduk. Dadanya terasa nyeri. Kepalanya yang pening membuatnya tak bisa mengatakan apa pun.


"Aku yang memutuskan untuk menjadi anak yang baik," Minghao semakin tersedak oleh air matanya, "Aku tahu betapa sulitnya hidup ayah dan ibu, aku tak ingin menambah beban kalian,"


Sang ibu yang sedari tadi hanya diam, kini mendekat dan memeluk Minghao dengan tangisan yang telah pecah. Lisa melihat semua itu merasa terenyuh. Ia tahu jika ia akan merasa sangat kehilangan Minghao, namun, bukankah kedua orang tuanya jauh lebih penting dari pada dirinya.


Ibu Minghao kini mendekati Lisa. Ia menggenggam tangan Lisa erat. Mereka baru beberapa kali bertemu. Dan ia tahu betul betapa Lisa adalah gadis yang sangat baik. Keceriaannya mampu membawa senyum di wajah anak kesayangannya. Sebenarnya ia bahagia dengan hubungan mereka. Namun, ia juga tak bisa berbuat banyak.


"Lisa sayang, berjanjilah pada ibu untuk sering menelepon ibu ya. Aku adalah ibu kedua mu, mengerti?"


Lisa mengangguk. Sang ibu segera membawa Lisa ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin mengikat Lisa pada anaknya. Tentu Lisa juga berhak bahagia tanpa menunggu sesuatu yang tak pasti. Namun, sebagai seorang ibu, ia ingin egois untuk anaknya.


...***...


"Pesawat jam berapa?"


Lisa dan Minghao duduk di pekarangan belakang. Orang tua Minghao memberi mereka waktu untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.


"Jam sembilan malam ini," Minghao menunduk. Ia merasa tak sanggup menatap Lisa, atau ia benar-benar akan menyerah dan memaksa untuk tinggal.


Lisa mengangguk, "videonya bagus," tetes air mata menggenang di sudut mata Lisa, "Suara kamu juga bagus," kini suaranya mulai bergetar. Dan Lisa memaksakan tawanya. Hal itu membuat dada Minghao semakin sakit.


"Lisa," Minghao memberanikan diri menatap Lisa, "terimakasih,"


Minghao membawa tangan Lisa padanya, "Maaf jika aku menyakitimu,"


Lisa segera menggeleng keras. Lisa tahu jika ini sama sekali bukan salah Minghao. Keadaan lah yang memaksa mereka harus melalui ini semua.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu," kini Minghao tersenyum. Namun senyum itu justru terlihat sangat menyayat hati.


"Telfon aku," Lisa memotong apapun yang hendak dikatakan Minghao padanya.


"Berjanjilah," Lisa menatap Minghao sungguh-sungguh.


Minghao terkejut dengan apa yang dikatakan Lisa. Lalu ia pun mengangguk. Ia berjanji untuk tetap terus berhubungan.


"Waktu yang kita habiskan untuk menyelesaikan SMA tidak sampai dua tahun lagi, mari berjanji untuk masuk di universitas yang sama," kini Minghao yang memberi usul. Sebuah janji yang membuat hatinya menjadi lebih ringan atas kepergiannya.


"Ayo," Lisa pun langsung setuju, senyum mengembang di wajah Lisa, "tapi aku belum tahu akan kemana,"


"Kita akan pikirkan pelan-pelan," tangan Minghao terangkat untuk mengusap rambut Lisa, favoritnya. Mereka saling mengangguk dan tertawa.


Wahai semesta, tolong kerjasamanya ya, biar kami bisa mewujudkan janji ini..


...*********T A M A T*********...