SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 4



Lisa dan Minghao menjadi teman dekat sejak pensi. Mereka bertiga, termasuk Rose, sudah seperti tiga serangkai yang selalu bersama. Minghao juga menjadi salah satu pengurus ekskul dance, meski pun dia adalah anak baru. Penampilan mereka pada pensi sebelumnya menjadi perhatian sekolah mereka. Para murid menjadi lebih mengapresiasi apa yang bisa club dance mereka lakukan di masa depan. Terutama ketika masih ada Lisa dan Minghao di dalamnya. Mereka tampak sangat indah saat menari bersama.


"Hari minggu ini kita jadi pergi?" tanya Rose saat di jam istirahat pertama. Mereka sedang berkumpul di perpustakaan.


"Jadi dong," jawab Lisa. Minghao hanya mengangguk sambil membaca buku di tangannya. Biasanya Minghao memang lebih menyukai tempat yang tenang seperti saat ini.


"Nanti aku jemput," ucapnya akhirnya tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang ia pegang.


"Gue juga gak?" tanya Rose, karena biasanya Minghao hanya akan menjemput Lisa.


"Iya," jawab Minghao singkat.


Rose pun tersenyum. Ia sebenarnya hanya ingin menggoda Minghao. Baginya meski Minghao sedikit pendiam, namun ia sama sekali tak membosankan. Banyak hal yang bisa mereka ceritakan bersama. Ketenangan dan kedewasaannya sangat mengagumkan bagi Rose.


Rencananya sabtu malam nanti Rose akan menginap di rumah Lisa. Mereka sudah lama tidak melakukan itu. Pesta piama, girls night. Jadi sebenarnya, Minghao tak perlu menjemputnya. Karena ia dan Lisa akan menjadi sepaket.


"Jadi kita akan ke pantai mana?" tanya Lisa setelah hanya menyimak.


Minghao meletakkan buku yang ia baca. Ia nampak berpikir. Dia tak banyak tahu wisata di daerah ini. Ia hanya orang baru. Maka ia hanya memandang Lisa dan Rose dengan tatapan bertanya.


"Pantai terdekat, ancol. Ugh!" jelas bukan pilihan yang bagus. "Paling anyer," tutup Rose.


Lisa mendengus, baginya anyer tak akan beda jauh dengan ancol. Bukan pilihan yang baik. Melihat ekspresi kedua temannya pun, Minghao menyimpulkan jika tidak ada pilihan pantai yang mereka kunjungi. Atau kalau ada, maka itu berarti jaraknya lebih jauh. Waktu mereka tak akan cukup.


"Apakah harus ke pantai?" akhirnya Minghao mencoba mencari jalan tengah.


Rose dan Lisa saling pandang. Ya, memang tak harus pantai. Mereka hanya ingin bermain dan menghabiskan waktu bersama di tempat yang indah. Dan jawabannya tak mesti pantai.


"Bandung? Puncak?" Lisa mencoba memberi pilihan lain.


"Bandung aja," jawab Rose. "Tapi kalau kita pergi sejak subuh apa gak apa-apa?" tanyanya pada Minghao.


"Gak masalah. Jam berapa?" tanya Minghao santai.


"Jam empat atau lima," Lisa yang menjawab. "Rose akan menginap di rumahku, kamu gak perlu jemput ke dua tempat,"


Minghao mengangguk sambil tersenyum pada Lisa. Padahal baginya tak masalah untuk menjemput ke berapa tempat pun. Baginya, semakin banyak waktu yang bisa ia habiskan bersama Lisa, maka apa pun harganya itu akan sangat sepadan. Ia tak akan merasa keberatan sama sekali.


Jika di sekolahnya yang sebelumnya, Minghao cenderung tidak berteman. Sekolah yang kali ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda baginya. Sejak pertemuannya dengan Lisa untuk pertama kali, ia tahu jika ia telah terjerat separah ini. Rasanya ia kesulitan melepaskan diri temali yang menjerat dan mengikatnya pada gadis yang sedang tersenyum di depannya ini.


...***...


"Kalo kita berangkat sepagi itu, mungkin kita bisa langsung ke lembang aja ya, sarapan di sana aja," usul Lisa "Siang kita bisa turun ke kota, kulineran sambil makan siang, terus kita hunting foto di braga," Lisa pikir Minghao yang artsy akan sangat bagus diabadikan dalam foto dengan background braga.


"Setuju," ucap Rose.


"Aku bakal bawa kamera," Lisa berucap dengan semangat. Ia memang sangat menyukai photography.


Minghao hanya menyimak saja. Ia belum terlalu mengenal daerah bandung. Namun, ia tak bisa berhenti tersenyum memandang Lisa yang terlihat antusias membicarakan kemana saja mereka akan pergi, dan apa saja yang akan mereka lakukan. Dunia seolah berubah menjadi slow motion.


"Hei, Minghao.." Lisa memanggilnya dengan suara yang lebih keras, "Iya, tau aku cantik, tapi ga usah segitunya," Lisa tertawa.


"Duh, apa gue batal aja ya ikut ke Bandungnya, takutnya malah jadi nyamuk," ucap Rose dengan tawa penuh arti.


"Apasih, Rosie," malah Lisa yang salah tingkah. Seperti sekali pukul terkena dua burung.


...***...


Rose langsung tertidur kembali begitu memasuki mobil. Ia duduk sendiri di belakang. Rose telah membawa boneka pororo kesayangannya sebagai bantal.


Lisa duduk di depan, di samping Minghao. Meski Lisa mengantuk, ia tetep bangun untuk menemani Minghao. Rasanya tidak adil jika hanya membiarkan Minghao menyetir sendiri untuk mereka. Lisa terus mencari topik obrolan agar tak tertidur tanpa sengaja.


"Jadi kamu anak tunggal?" tanya Minghao.


"Ya begitulah," jawab Lisa. "Aku sudah berteman dengan Rose sejak lama. Kami sudah seperti saudara kembar kata ibuku,"


Minghao mengamini. Cara mereka berinteraksi memang sudah lebih dari sekedar teman. Cara mereka saling memahami, cara mereka bertengkar, semuanya.


"Kamu sendiri gimana?"


"Aku juga anak tunggal," jawab Minghao. "tapi sayangnya aku tak memiliki seorang teman yang seperti saudara kembar" ucapnya sembari tertawa.


Lisa juga tertawa menanggapi candaan Minghao. "Mau jadi saudara kembar kami juga?" tanya Lisa masih sedikit tertawa.


"Jangan," ucap Minghao. "Aku mau yang lain," terusnya misterius.


"Apa itu?" heran Lisa.


"Lihat saja nanti," Minghao tersenyum. Tangannya terulur untuk menepuk kepala Lisa pelan.


Lisa selalu tertegun dengan sikap lembut Minghao. Entah bagaimana, dadanya selalu berdebar kacau jika sudah begini. Lisa memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya. Ia yakin wajahnya telah semerah tomat.


...***...


"Lisa pengen seblak,"


Rose merengek pada Lisa. Kini mereka telah berada di alun-alun lembang. Di sekitar mereka sudah ada beberapa pedagang yang mulai menjajakan jualannya. Namun, tentu saja belum ada yang menjual seblak. Ini masih setengah enam pagi. Siapa yang akan memakan seblak di jam segini?


"Masih pagi, Rosie," jawab Lisa jengah. "Mana ada yang jual?"


Minghao sedang pergi ke Indomaret terdekat untuk membeli beberapa hal yang ia butuhkan. Mungkin juga beberapa camilan sebagai bekal mereka di jalan.


"Tuh ada yang jual bubut ayam, mau?" tawar Lisa.


Rose menggeleng, "Di Bandung tuh jajannya seblak Lisa, kalo bubur ayam mah di Jakarta juga banyak," rajuk Rose.


"Jangan kayak anak kecil Roseanne," Lisa mulai kesal. "Yang masuk akal sedikit lah," lanjutnya.


Minghao menghampiri kedua sahabat yang terlihat sedang bertengkar di pinggir jalan. Wajah Lisa nampak sangat kesal. Minghao sudah bisa membayangkan apa yang terjadi di antara mereka. Pasti tentang makanan. Untungnya dia membeli beberapa roti untuk sedikit meredakan mood buruk Rosie yang sedang lapar.


...****************...