SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 4



"Gue gak mau," Rose sudah akan menangis lagi. "Gue bahkan gak kenal sama bokap gue, Vernon," isak Rose selanjutnya.


Vernon menghela napas. Ia benar-benar tidak pandai menangani seseorang yang menangis.


"Gue kabur dari rumah," Vernon baru menyadari tas ransel Rose yang cukup besar di sampingnya.


"Hah?!!" Vernon kini benar-benar bingung.


"Terus lo mau kemana, Rose?" tanya Vernon, "Ini udah malem banget,"


Rose hanya menatap Vernon. Vernon yang tahu apa maksud Rose segera menggeleng keras.


"Gak mungkin, Roseanne," Vernon semakin frustasi.


"Terus gue musti kemana? Gue gak punya uang juga," Rose semakin menangis.


Vernon mengacak rambutnya. Kacau sekali, begitu batinnya.


Lisa.


Satu nama yang terpikirkan oleh Vernon saat ini. Tapi, apakah tak apa? Apakah tidak mengganggu? Dari obrolan hari ini, Vernon mendapatkan kesan jika Lisa memang cukup sibuk. Sebagai pelajar, ia juga menjalani kehidupan profesional. Entah itu modelling atau bisnis. Vernon merengut kesal.


"Gue cari tempat penginapan murah aja. Setidaknya buat malam ini," ujar Rose akhirnya.


Sebenarnya Rose mengerti kesusahan Vernon. Memang tidak mungkin bagi Vernon yang tinggal sendirian membawa seorang perempuan. Orang tua Vernon yang jauh, membuat Vernon harus menetap sendirian.


"Jangan,"


Vernon tahu seperti apa penginapan murah itu. Jika ada hidung belang yang melihat betapa kacaunya Rose sekarang, bukan tidak mungkin ia akan menjadi sasaran.


Akhirnya Vernon mengambil satu-satunya pilihan yang terpikirkan olehnya. Sedangkan Rose hanya menatap Vernon bingung ketika ia melihat Vernon malah sibuk dengan hp-nya. Vernon memang memutuskan untuk tidak menelepon Lisa. Ia merasa lebih bijak jika ia chat terlebih dahulu. Sekedar memastikan gadis itu masih bangun.


...***...


"Sorry ya, jadi ganggu lo malem-malem,"


Sementara Rose sedang di kamar mandi, membereskan segala kekacauan di dirinya. Lisa dan Vernon berbincang santai di ruang tamu. Rumah itu nampak sepi.


"Its okay, gue seneng bisa bantu," ucap Lisa tulus.


"Lo sendirian?" tanya Vernon.


Lisa menggeleng sebelum ia menjelaskan jika kedua orang tuanya sudah tidur. Ia sendiri sebenarnya sedang mengerjakan beberapa design untuk pesanan langganannya. Makanya Lisa belum tidur, meski sudah jam satu lebih.


"Lisa, thank you banget ya," Rose datang dari arah dalam menghampiri Lisa dan Vernon di ruang tamu. "Sorry gue jadi ngerepotin lo,"


"Udah," Lisa tersenyum, "anggep aja rumah sendiri,"


...***...


Di sekolah masih cukup sepi. Hanya ada beberapa siswa dan siswi yang terlihat. Beberapa sedang sibuk mengerjakan piket. Namun, ada juga beberapa yang sengaja datang pagi untuk menyalin PR. Sepertinya hanya Rose yang datang sepagi ini untuk melamun.


"Woy, ngelamun aja," teriak Vernon.


Rose yang terkejut pun segera memukul lengan Vernon yang kebetulan ada di dekatnya. Mukanya terlihat jengkel. Sedangkan Vernon hanya tertawa saja.


"Tumben lo dateng pagi banget," tanya Vernon akhirnya.


"Gue gak enaklah kalau mau males-malesan di rumah orang," jawab Rose tampak tak terlalu peduli.


Vernon pun menghela napas, ia mengerti keadaan Rose. Lalu Vernon pun beranjak. Ia harus mengerjakan jadwal piketnya, atau ketua kelas bakal marah besar ke dia. Vernon merasa, ia lebih baik menghindari masalah itu jauh-jauh.


"Dalam rangka apa nih?" tanya Vernon.


"Yah daripada ngelamun," ucap Rose acuh tak acuh.


...***...


Lisa sedikit berlari ketika melihat Rose telah menunggunya di halte dekat rumahnya. Ia mengerti jika Rose masih sedikit sungkan berada di rumahnya. Bagaimanapun mereka belum terlalu dekat untuk sampai di tahap saling menginap.


"Hei, sorry, lama ya?" ucap Lisa setelah berada di dekat Rose.


Rose hanya tersenyum, mengatakan bahwa tak ada masalah. Rose pun berdiri dan mereka berdua berjalan kaki menuju rumah Lisa. Biasanya, Lisa dijemput atau ia membawa kendaraan sendiri. Tapi pagi tadi, ia diantar oleh Vernon yang sekaligus menjemput Rose, jadinya ia pulang dengan kendaraan umum.


"Rose, di rumah gue mah dibawa santai aja ya," ucap Lisa mengerti kecanggungan Rose.


"Makasih ya Sa," Rose tersenyum.


"Kalau siang gini biasanya suka sepi, nanti lo langsung pulang aja. Jangan nungguin gue. Takutnya gue pas lagi lama,"


Rose mengangguk dan mereka saling tersenyum. Hari cukup terik. Kedua remaja cantik itu mempercepat jalan mereka tanpa obrolan apa pun. Mereka ingin lekas sampai ke rumah.


...***...


"Jadi, nak Rose ikut modeling juga kayak Lisa?" Ayah Lisa bertanya dengan suara lembut.


"Iya, om," jawab Lisa.


"Panggil ayah juga aja, biar sama kayak Lisa. Kalian udah kayak sodara kembar gitu kok," Ayah Liaa terkekeh oleh kata-katanya sendiri. Lisa menggeleng heran dengan selera humor ayahnya. Sungguh aneh, pikirnya.


"Makan malam siap," Ibu Rose berteriak dari arah ruang tengah.


Maka Ayah Lisa pun bergegas sembari mempersilahkan Rose untuk ikut makan malam. Lisa pun menggandeng lengan Rose, berharap Rose bisa lebih santai berada di rumahnya.


"Nah, Ibun udah masak ayam popcorn, tumis buncis, sama ini ada telor dadar," ucap Ibu Lisa sembari menata piring, "Ayo Nak Rose, dicobain. Nanti Rose sukanya makan apa, bilang sama Ibun ya,"


Rose tersenyum. Suasana rumah ini terasa sangat hangat baginya. Keramahan Lisa dan keluarga sedikit demi sedikit telah mengikis rasa canggung yang dimiliki Rose.


"Rose suka salad, Ibun, hehe," Rose dengan berani mengatakan itu.


Ibu Lisa tertawa dan menjanjikan akan membuatnya esok hari. Ayah hanya mengangguk sambil terus menikmati makanan di piringnya. Lisa sendiri geleng kepala melihat tingkah ayahnya.


...***...


Malam ini, Lisa berencana untuk tidur sedikit lebih cepat. Setelah kemarin ia ngelembur, tidur jam dua dini hari, dan langsung sekolah membuatnya kelelahan.


"Lisa,"


Suara panggilan Rose, membuat Lisa kembali duduk. Ia bertanya ada apa dengan ekspresi mukanya saja.


"Kalo lo ada kerjaan tambahan, gue mau," Rose memintir baju tidurnya. "Nanti kalo uang gur udah cukup, mungkin gue bisa ngekos aja gitu,"


Lisa menggeleng. Bukan karena ia tak mau Rose bekerja atau apa. Hanya saja, Lisa dan keluarganya merasa sangat tidak keberatan atas kehadiran Rose di rumah mereka. Lagi pula, Lisa anak tunggal. Selama ini, Lisa merasa rumah itu sangat sepi.


"Tentang kerjaan tambahan, gue bisa usahain." ucap Lisa akhirnya, "Tapi, Rose, lo tinggal aja di sini, sampai kapan pun lo mau" terang Lisa selanjutnya.


"Gue seneng ada lo di sini, gue jadi berasa punya saudara," tambah Lisa.


Rose pun memeluk Lisa. Ia berterimakasih berkali-kali. Lisa hanya mengusap lembut punggung Rose. Memberi Rose waktu untuk menyesuaikan diri. Ia tak keberatan sama sekali.


...****************...