
"Lisa"
Terdengar panggilan yang disertai ketukan di pintu rumah Lisa, sepertinya itu suara Deka. Lisa bergegas menuju depan dan membuka pintu untuk sang tamu.
"Taraaa," Deka merentangkan tangan setelah melihat Lisa membuka pintu.
"Lo ngapain? Sini masuk," ucap Lisa sambil melenggang masuk.
Tadinya Lisa ingin keluar sebentar ke depan komplek. Rencananya ia akan jalan pagi sambil cari bubur ayam. Lisa memang punya kebiasaan itu di setiap sabtu-minggu pagi. Biasanya juga hanya sendiri saja. Tapi melihat Deka membawa beberapa kantong, yang sepertinya berisi makanan. Lisa mengurungkan niatnya.
Deka telah duduk di ruang tamu Lisa yang minimalis. Ruangan itu juga tidak terlalu luas. Rumah Lisa adalah tipe rumah compact dan minimalis yang sedang trend di kalangan keluarga muda saat ini. Bangunannya saja masih terasa baru.
Deka mengeluarkan satu-satu bungkusan yang ia bawa. Mulai dari ketoprak, lalu batagor. Masih ada bubur ayam dan sate telur puyuh. Juga ada nasi kuning dan nasi uduk. Ia mengajarkannya ke arah Lisa sambil tersenyum lebar.
"Lo ngapain bawa makanan sebanyak ini Deka?" tanya Lisa heran.
"Pertama, gue ga tahu lu sukanya apa. Kedua, gue juga ga tahu berapa anggota keluarga lu. Ketiga, biar bisa milih aja," Deka menjawab santai. Lisa pun terkejut.
"Well, nanti sebagian kita bagiin aja sama satpam depan," suara Lisa terdengar sedih. Deka pun merasa ada yang salah.
"Hm, makan dulu yuk," kini senyum Deka melembut. Tangannya meraih helai rambut Lisa, ia mengusapnya lembut.
...***...
Lisa dan Deka tengah berjalan menuju pos satpam. Sejak mereka sarapan tadi, mereka berdua lebih banyak diam. Lisa berpikir mengenai banyak hal di kepalanya. Sedangkan Deka, ia yang seolah memahami pikiran Lisa, ia ingin memberi Lisa waktu.
"Neng, kenapa?" seorang satpam komplek yang melihat kedatangan Lisa dan Deka menyambut dari arah pintu pos.
"Bapak udah sarapan? Soalnya ini tadi kita laper mata, jadinya malah kebanyakan," ucap Lisa sembari tertawa kecil.
"Wahh kebetulan banget neng," Pak Satpam mengulurkan tangannya untuk menerima bungkusan yang Lisa bawa.
"Tapi itu beda-beda gak apa-apa kan ya pak?" kini Deka yang bertanya.
"Iya atuh mas, gak masalah. Terimakasih loh ini, kami terima," Pak satpam mengangguk sopan. Deka dan Lisa pun pamit.
Selama perjalanan pulang ke rumah Lisa, mereka masih saling diam. Lisa berjalan dan menunduk, mengamati setiap kerikil yang bergeser atau terpelanting akibat injakan kakinya. Sendal yang ia pakai ternyata sudah sedikit kusam, sangat terlihat jika itu sudah lama tak diganti. Bagi Lisa itu tak jadi masalah, asal. asih bisa dipakai, seumur hidup pakai sendal itu juga tak apa.
Deka menepuk kepala Lisa ringan. Tangan Deka masih ada di atas kepala Lisa, saat Lisa mendongak ke arahnya. Tatapan mata Lisa seolah bertanya ada apa.
"Lagi nyari duit jatoh apa gimana? Kok jalan nunduk terus gitu?" tanya Deka dengan tangan yang masih ada di kepala Lisa, sesekali ia mengusapnya lembut.
"Haha, enggak lah," Lisa takjub dengan sikap lembut Deka yang ini.
Biasanya Deka memang ramah, ceria, menyenangkan dan sangat baik hati. Deka selalu memberikan perlakuan yang baik pada Lisa. Tapi tidak pernah dengan kelembutan pada level ini. Senyumnya, nada yang ia gunakan saat berbicara, tatapannya, bahkan usapannya pada kepala Lisa. Detak jantung Lisa berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Menciptakan sikap salah tingkah pada diri Lisa. Lisa pun kembali menghadap depan dan berjalan dengan cepat.
"Hei, Lisa," Deka yang ditinggal tiba-tiba pun kaget. Ia segera menyusul Lisa.
"Lisa,"
...***...
Di ruang tamu Lisa, Deka sedang duduk selonjoran. Ia lelah mengejar Lisa. Jarak rumah Lisa ke pos satpam lumayan jauh, mungkin sekitar 500 meter. Bagi orang yang tak terlalu atletis, jalan cepat sejauh itu akan melelahkan juga.
Lisa duduk di samping Deka, menyerahkan segelas air dingin untuk Deka minum.
"Gue sendirian aja di rumah ini, lain kali lo bawa makanan satu aja, atau dua kalo makan bareng lo,"
Deka memandang wajah serius Lisa, ia pun tersenyum, "Berarti gue boleh main ke sini lagi?" tanya Deka tengil.
Lisa memutar badannya hingga sepenuhnya menghadap ke arah Deka. Wajahnya masih seserius yang tadi.
"Gue udah cerita, artinya gue gak kenapa-kenapa," ucap Lisa yang entah bagaimana bisa dipahami oleh Deka.
"Lo ga perlu ngehibur gue kayak gitu lagi," tutup Lisa.
"Maaf ya. Gue memang gak terbiasa ngadepin orang lain yang perasaannya pengen gue jagain banget. Lo orang pertama buat gue, lo ajarin gue ya. Kita tumbuh sama-sama, okay," ucap Deka lembut. Lisa hanya mengangguk.
"Jadi, kenapa lo sendirian?" tanya Deka selanjutnya.
"Gue anak tunggal. Ortu gue udah meninggal sejak gue SD, mungkin," Lisa berusaha mengingat detailnya. "Mereka cuma ninggalin gue bibi yang jadi ART, paman yang jadi pengacara kepercayaan papa, sama satu paman lagi yang jadi CEO buat ngurusin perusahaan papa. Udah itu doang," ucap Lisa.
Deka cukup terkejut mengingat betapa cerianya Lisa selama ini. Apakah ia sungguh tak apa? Atau Lisa sedang menutupi luka? Deka gak tahu.
"Bibi ART gue dateng sehari sekali cuma buat beres-beres rumah sama ngecek gue kadang," Lisa paham jika Deka telah masuk pada mode canggungnya. Jadi Lisa ingin menuntaskan ceritanya dulu.
"Bibi ART kayak gitu semenjak gue udah masuk SMA ini," lanjut Lisa.
"Tadinya gue bukan tinggal di sini, tapi di rumah peninggalan orang tua gue. Rumah itu jadi terlalu gede sekarang. Menurut gue, rasanya sia-sia. Jadinya gue minta ke paman pengacara buat bantu jualin," Lisa masih bercerita.
"Nah, gue awalnya sekolah di deket rumah gue yang lama, semenjak pindah ke rumah ini, sekolah gue juga ikut pindah deh," tutur Lisa cuek.
"Lisa, cover lagunya BSS yang 7pm yuk," ucap Deka gak nyambung. Kening Lisa mengerut heran. Tiba-tiba banget ngajakin cover.
Deka mengambil gitar akustik di dekat sana. Lalu ia membuka kamera dengan fitur video. Saat kamera mulai merekam, Deka mulai memetik gitarnya. Lisa mau tak mau pun jadi ikut nyanyi. Diam-diam Lisa tertawa. Apakah Deka benar-benar secanggung ini?
Ketika masuk ke bagian reff, Deka meminta Lisa untuk jadi suara satu, dan ia akan mengisi suara dua. Cover lagunya spontan, tentunya ada beberapa kekurangan. Tapi chemistry antara Lisa dan Deka membuat lagunya terdengar sangat manis, bahkan dengan segala kenaturalannya.
File uploaded.
...****************...