SEVENTEEN

SEVENTEEN
Seungcheol - 7



Satu hari kembali berlalu. Lisa menjadi semakin dekat dengan ketua OSIS itu. Siapa lagi jika bukan Seungcheol. Keakraban Seungcheol dengan kakaknya, Ian, juga memiliki andil yang sangat besar. Karena temannya yang lain, terutama laki-laki, pasti akan mundur teratur jika sudah bertemu dengan Ian. Memang semengerikan itu. Namun, anehnya, Ian dan Seungcheol justru akrab. Mungkin karena sama-sama galak. Bahkan di sekolah tak akan ada yang berani cari perkara dengan Lisa. Ada dua penjaga yang udah kayak malaikat maut begitu, lebih baik cari aman.


Lisa dan Rose sedang duduk di salah satu bangku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Mereka memiliki tugas kelompok, dan teman-teman kelompok Lisa tidak mau jika harus mengerjakannya di rumah Lisa. Sedangkan, rumah yang lainnya juga bukan pilihan yang menyenangkan. Alhasil, perpustakaan sekolah lah yang menjadi pilihan. Atau mereka juga bisa ke Mcd sih. Rencananya begitu.


"Sa, malem minggu ini temenin gue yuk," Rose memulai obrolan di luar pembahasan. Tugasnya sudah hampir selesai. Teman-teman yang lain sudah mulai pulang. Mereka ingin melanjutkan tugasnya di Mcd, biar sekalian nongkrong. Bisa jadi alasan minta tambahan uang jajan juga ke orang tua kan.


"Kemana?" jawab Lisa sepelan mungkin. Namun suaranya masih terdengar sangat jelas karena ruangan itu memang dijaga agar tetap sunyi.


"Gue pengen ke gramed," Rose menjawab sambil membereskan alat tulisnya.


"Kenapa harus malem, pas siang atau sorenya aja yuk, gue temenin," jawab Lisa sambil melihat Rose, "Lo kan tahu kalo malem minggu pasti Kak Seungcheol ke rumah,"


Rose mendengus mendengar jawaban Lisa, "Dia kan bukan pacar lo," protes Rose dengan suara yang masih pelan namun ada nada kesal di sana, "Minggu kan gur ke gereja Sa, sorenya gue pengen rebahan aja gitu,"


Namun sebelum Lisa bahkan sempat menjawab apapun kalimat yang Rose ucapkan, keduanya telah dikagetkan oleh kedatangan Seungcheol dengan wajah sangarnya. Seungcheol cemberut tak bersahabat.


"Kenapa?" Lisa yang melihat raut wajah Seungcheol pun bertanya heran.


"Lo mulai sekarang adalah pacar gue, jadi malem minggu lo adalah milik gue," ultimatumnya yang terdengar menyebalkan.


Lisa pun membelalak. Ia tak menyangka Seungcheol akan mengatakannya bahkan dengan suara yang cukup keras untuk di perpustakaan seperti sekarang. Lisa yakin setiap orang yang berada di ruangan yang sama dengannya dapat mendengar kalimat Seungcheol itu.


"Yang romantis dikit kek," dengus Lisa akhirnya. Padahal hatinya sudah berdebar dengan banyaknya kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Mungkin saja mukanya juga telah memerah. Entahlah, Lisa tak punya cukup waktu untuk memikirkannya. Ia masih sibuk mengatur detak jantungnya.


"Boleh, nanti malem ya," ucap Seungcheol sebelum ia pergi meninggalkan kedua sahabat itu begitu saja.


Kalimat terakhir Seungcheol telah sangat berhasil membuat degupan jantung Lisa porak poranda. Bahkan Lisa hanya bisa terdiam hingga beberapa saat.


Kedekatan keduanya selama beberapa bulan ini memang telah membuat Lisa merasakan benih suka di hatinya untuk Seungcheol. Sikap Seungcheol yang dewasa, tegas namun receh dan kekanakan itu sangat menggemaskan. Lisa suka semua hal yang ada pada lelaki itu. Dan tentu saja, peresmian hubungan menjadi hal yang telah Lisa tunggu sejak lama. Namun, kenapa rasanya tidak romantis begini? Lisa menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi, begitulah sifat pacarnya. Narsistik dan gengsi super tingginyalah yang membuat Lisa mengubur dalam-dalam fantasi romantisnya.


...***...



Seungcheol membawa Lisa ke sebuah taman untuk lari pagi bersama. Cuaca sedang cukup dingin hari itu. Tidak seperti biasanya, hal itu membuat Lisa merasa malas untuk lari pagi. Akhirnya mereka hanya berjalan-jalan dan sesekali berhenti untuk membeli makanan atau apapun yang Lisa inginkan. Seungcheol dengan setia menuruti apa pun keinginan Lisa.


Sesekali mereka saling bercanda. Pada dasarnya keduanya memang sangat receh. Mudah sekali memancing tawa untuk satu sama lain. Hubungan yang mereka tunjukkan sekarang pun membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri.


Seungcheol mengangguk antusias. Lisa menyerahkan satu buah pisang yang kulitnya telah terbuka setengah. Ya memang pisang, kebetulan mereka bertemu dengan pedagang buah keliling. Lisa merasa kasihan, makanya ia beli pisang.


Dengan mata berbinar dan senyum mengembang, Seungcheol menerima pisang itu. Namun, Lisa segera memakannya lalu Lisa pun tertawa. Meninggalkan Seungcheol yang bahkan sudah cemberut di tempatnya.


"Lisaaa," Seungcheol merengek manja. "Jahat bangeett,"


"Ih Ih Ih, kayak gini kelakuan ketua OSIS?!" cibir Lisa namun ia masih tetap tertawa. Sesungguhnya Lisa sangat gemas dengan tingkah Seungcheol ketika sedang ngambek.


Seungcheol menatap tajam Lisa, dan mulutnya masih tetap manyun. Kedua tangannya juga telah bersidekap di dadanya. Lisa pun mengalah dan memberikan sisa pisangnya.


"Ish apa ini tinggal setengah," Seungcheol melirik Lisa sinis. Namun Lisa malah kembali tertawa. Jika Seungcheol sudah begini, hilang sudah segala wibawa dan ketegasannya sebagai ketua OSIS. Apa itu galak? Yang ada hanya pacar yang sangat menggemaskan.


...***...


Jika biasanya sepanjang sabtu hingga malam harinya Seungcheol selalu berada di sektiar Lisa, namun sabtu ini ada yang berbeda. Seungcheol seolah menghilang. Bahkan pesan yang Lisa kirim belum ada yang dibalas satu pun. Padahal kebetulan sekali hari ini adalah ulang tahun Lisa. Bahkan Ian sudah sengaja membeli kue dan juga beberapa makanan untuk makan malam mereka bertiga.


"Seungcheol kemana sih Sa?" Ian malah yang uring-uringan.


"Ya gak tahu lah bang, pacar bukan, apa-apa bukan," jawab Lisa tak acuh. Padahal dalam hati ia merasa was-was. Bagaimana jika Seungcheol pergi ke rumah perempuan lain? Apakah akhirnya Seungcheol memiliki pacar? Banyak pikiran buruk membuat Lisa takut.


"Ya kamu sih, kenapa ga dipacarin aja?" sewot Ian, "Seungcheol itu baik dewasa, bisa dipercaya juga, kurang apa Sa?"


"Kurang nembak aja, Bang," jawab Lisa masih berusaha santai.


Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Lisa sudah lapar sebenarnya. Namun belum ada tanda-tanda Seungcheol akan datang.


"Kita makan aja yuk Bang, gak usah ditungguin lagi," rengek Lisa. Sebenarnya ia merasa sedih, bagaimana Seungcheol memilih menghilang di hari ulang tahunnya begini? Namun ia tak bisa mengatakan apa pun karena mereka memang tak memiliki komitmen apa-apa. Lagi pula Lisa takut jika harus protes. Seungcheol kan galak.


Ian menghela nafas kasar. Ia juga sudah mencoba untuk menghubungi temannya itu, namun nihil. Sama sekali tak ada jawaban. Padahal ia benar-benar suka jika Seungcheol yang akan jadi adik iparnya. Sebagai kakak, ia bisa membedakan mana laki-laki bertanggungjawab dan mana yang bajingan. Tapi apakah penilaiannya salah kali ini? Ian tak tahu. Ia bukan Tuhan.


"Ya udah, ayok makan," ucap Ian pasrah.


...****************...