
"Lisa ya,"
Lisa menoleh dengan senyumannya yang manis. Rambut panjangnya yang tergerai nampak bergerak seiring badannya yang berputar menghadap si pemanggil.
Seungcheol sendiri terlihat sangat tampan hari ini. Meskipun kemejanya sudah tak serapi sebelumnya, namun itulah yang membuatnya menjadi lebih tampan dan semakin seksi.
"Gimana wawancaranya?"
Lisa berlari kecil mendekati kekasihnya. Tangannya terulur untuk merapikan rambut Seungcheol yang tertiup angin. Pacarnya tampan sekali. Rambutnya yang halus membuat Lisa betah berlama-lama memeganginya.
"Kayaknya rambut aku bakalan jadi klimis banget nih, ga udah-udah rapihinnya," Seungcheol tersenyum pada Lisa. Dan Lisa malah tertawa sambil melepaskan tangannya dari rambut kekasihnya.
"Jam makan siang udah lewat lama nih, kamu udah makan belum?" tanya Seungcheol.
Lisa menggeleng pelan. Ia tahu jika Seungcheol juga pasti tidak sempat makan apa pun. Makanya ia, sebagai kekasih yang baik, menunggunya dengan setia.
"Kenapa ga makan duluan," Seungcheol mencubit hidung Lisa gemas. "Nanti kamu sakit gimana?"
"Ih aku bukan anak kecil, sekali-kali mah gak akan kenapa-kenapa," protes Lisa.
"Jangan dibiasain dong, sayang," Seungcheol menggandeng tangan Lisa. Ia berniat membawa pacarnya makan di suatu tempat yang dekat. "Maaf ya aku lama, tadi wawancaranya lumayan intens,"
"Hm.." Lisa menatap Seungcheol dengan merengut, "kamu tadi belum jawab pertanyaanku, wawancaranya gimana?"
"Ya gitu, intens banget.. Banyak yang diperdebatkan sama mereka soal metodologi yang aku pake, entahlah," ucap Seungcheol pasrah.
"Yasudah, terima gak diterima yang penting kamu udah lakuin yang terbaik kan," Lisa tersenyum lagi. Dan senyum itu pun menular pada Seungcheol yang ikut tersenyum manis.
"Mau makan apa?" tanya Seungcheol akhirnya.
"Apa aja, yang deket sini aja, aku udah laper banget," Lisa meringis. Seungcheol menggusak kepala Lisa gemas. Dan yah itu juga yang tadi ia pikirkan. Mungkin benar, mereka adalah jodoh. Seungcheol terlalu banyak berharap. Ha Ha.
...***...
"Jadi lo naksir adek gue?"
Ian bertanya terus terang pada Seungcheol yang masih berdiri di hadapannya. Lisa sendiri sudah lama masuk ke dalam rumah atas perintah Ian.
"Ya," jawab Seungcheol mantap. Bahkan matanya nampak ramah bersahabat menatap Ian yang sedang memasang tampang garang.
"Lo gak takut gitu sama gue?" akhirnya Ian tak tahan untuk tidak bertanya.
Seungcheol malah mengangkat bahunya santai, "Apa yang harus ditakutin? Abang bersikap kayak gini juga demi jagain Lisa, gak ada yang salah sama itu," Seungcheol masih tegar di tempatnya, "dan gue juga sama sekali gak ada niatan macem-macem, jadi ya," Seungcheol kembali mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia yakin Ian mengerti maksudnya.
Seungcheol tak tahan untuk tak tersenyum, "Lo suka main PS ga? sabi lah," Ian dengan tidak tahu malu mengeluarkan cengirannya sembari mendekat pada Seungcheol. Mungkin ia akan menyeretnya untuk bermain PS bersama. Dan inilah awal mula kedekatan mereka.
...***...
"Kapan pengumumannya?"
Lisa bertanya sambil membuat minuman dingin di meja dapur. Seungcheol sendiri telah duduk di salah satu kursi bar yang tersedia. Mereka memang telah kembali ke rumah Lisa.
"Kurang lebih satu bulan," ucap Seungcheol masih belum yakin kapan tanggal pastinya, karena itu akan diumumkan melalui email.
"Bang Ian kemana deh? Sepi amat rumahnya," tanya Seungcheol sembari melihat sekeliling.
Lisa mengangkat bahunya, bukankah ia pergi dengannya sedari pagi. Jadi jika Seungcheol tak tahu, maka sama halnya dengan Lisa. Lagi pula bukan gaya Lisa untuk selalu bertanya keberadaan abangnya. Biasanya Bang Ian lah yang selalu cerewet menanyakan posisi Lisa.
Seperti hantu, Ian kini sudah berada di belakang Seungcheol. Tentu saja Seungcheol hampir melompat dibuatnya.
"Bang ngagetin tau!" protes Seungcheol atas tingkah Ian yang menjengkelkan.
"Dih gitu doang juga," jawab Ian cuek. "Kalian ga ada bawa makanan apa? laper gue," protesnya melihat meja dapur kosong.
"Ada sate taichan tuh, tapi di kulkas, soalnya rencananya buat malem," jawab Lisa sembari menyerahkan minuman dingin ke hadapan pacarnya. "Lagian gue pikir lo ga ada di rumah tadi," tambah Lisa.
"Ish.. Lo tuh punya kakak harusnya dicek. Kalo gue mendadak mati, bisa-bisa baru ketahuan seminggu kemudian lagi," protes Ian.
"Serem amat sih bang!" Lisa melemparkan tisu yang baru ia pakai ke arah Ian. Sedangkan abangnya malah tertawa saja.
"Nih, udah di microwave barusan," ucap Lisa sambil menyerahkan sepiring sate ke hadapan Ian. Muka Lisa nampak galak, namun kedua lelaki di depannya malah bilang jika Lisa menggemaskan. Memang kelainan dua mahluk ini. Lisa pun bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Kalian abis dari pergi ya?" tanya Ian pada Seungcheol setelah melihat pakaian rapi dari keduanya. Seungcheol sendiri cuma mengangguk.
"Tadi Lisa nemenin gue wawancara buat beasiswa ke Jerman," ucapnya.
Ian pun tersedak. Ia mendelik ke arah Seungcheol. Bagaimana bisa berita sebesar ini, tapi ia malah tak tahu apa-apa. Sebagai abang yang baik, ia tentu kesal. Ia tak ingin Lisa galau jika harus berpisah dari Seungcheol. Tapi Ian tak bisa mengatakannya. Nanti Seungcheol malah besar kepala.
"Lisa juga baru tahu pagi ini bang," jawab Seungcheol masih dengan nada santai yang sama, "Gue tuh apply LPDP-nya iseng, jadi gue gak nyangka kalau bisa dapet panggilan wawancara gini,"
Seungcheol memang menyampaikannya dengan nada santai. Tapi itu terdengar menyebalkan bagi Ian. Jadi ia hanya merotasikan matanya. Dan Seungcheol pun tertawa ringan.
...***...
Lisa dan Rose berjalan di lorong sekolah yang cukup ramai. Yah jika jam istirahat, ada saja siswa yang nongkrong di depan kelas mereka. Karena itulah lorong pun menjadi ramai. Mereka berdua baru saja dari kantin. Rose masih membawa susu kotak di tangannya. Anak satu ini memang tidak mengenal kata kenyang di kamusnya.
"Lisa,"
Suara yang sudah sangat Lisa kenal memanggilnya. Ia pun menoleh jengah. Pasalnya kakak kelasnya ini selalu punya ide aneh untuk membuatnya kesal.
"Apa lagi kak?" ucap Lisa melas begitu ia melihat Seungcheol dengan senyuman jahilnya.
"Ish respon macam apa itu?" Seungcheol mengusap muka Lisa menggunakan tangannya yang besar, "gak sopan sama kakak tingkat juga,"
Lisa malah merotasikan matanya. Rose sendiri malah asik nonton perdebatan dua manusia di hadapannya. Menurutnya mereka berdua sangat lucu, juga menggemaskan.
"Nanti gue ada tanding, lo nonton." jelas itu adalah perintah. Tidak ada tawar menawar. Dan Lisa sudah sangat hapal tentang hal itu. Namun sayangnya kali ini ia memiliki energi untuk berdebat.
"Males ah, panas,"
"Ntar lo duduk di bawah pohon yang samping kanan lapangan aja,"
"Ih males, musti cepet-cepetan sama anak-anak lain,"
"Gak akan ada yang berani nempatin tempat lo,"
"Emang itu lapangan punya kakak?"
"Iya,"
"Ishh..!" Lisa mulai kehabisan kata.
"Okay, gue tunggu nanti di lapangan," Seungcheol pun langsung pergi begitu selesai dengan kalimatnya itu. Lisa sendiri menjadi dongkol karenanya. Sedangkan Rose, tersenyum melihat drama dua sejoli yang berlangsung dari semenjak masa MOS.
...****************...