SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 3



Pagi ini hujan turun cukup deras. Untungnya ini adalah hari minggu. Lisa masih bergelung dalam selimutnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan bangun dalam waktu dekat.


Di sisi lain, Vernon malah sudah disibukkan dengan editing photo. Beberapa hal sedang ia kerjakan dalam laptopnya. Secangkir kopi mix sudah tersedia di hadapannya. Lumayan untuk menghangatkan dan menyemarakkan pagi yang mendung.


Saat ia melihat seseorang dengan style yang hampir sama dengan Lisa di salah satu potret yang sedang ia edit. Vernon pun tak bisa tidak mengingat Lisa. Dan detik itu juga, Vernon merasa rindu. Ia pun tersenyum kecut, bagaimana ia bisa merasa rindu secepat ini?


Setelah sedikit meregangkan tubuhnya. Vernon mengambil hp, menimang sebentar, apakah ia harus meneleponnya atau tidak? Biasanya Vernon tak perlu ragu jika untuk sekedar telepon dan chat. Tapi, jika menyangkut Lisa, Vernon cenderung hati-hati.


"Halo," Vernon menyapa seseorang yang dijawab dengan suara serak khas bangun tidur.


"Apa gue baru aja bikin lo kebangun?" Vernon sedikit merasa bersalah.


"Maafin gue," Vernon menyesal. "Kayaknya gue gak pernah bisa berhenti mengacau ketika berhadapan sama lo," Vernon tersenyum kecut. Ia mendengar di seberang sana malah sedang menertawakannya.


"Siang ini ada rencana? Gue pengen ngajak makan siang bareng aja sih," ucap Vernon.


Sempat hening sesaat. Sepertinya gadis di seberang telepon sedang memikirkan jawaban apa yang harus ia beri. Hingga, terdengar suara tertawa renyah. Lalu senyum Vernon mengembang sempurna. Sepertinya seseorang itu bersedia. Karena Vernon langsung tampak sangat gembira.


...***...


"Jadi apa gue terlambat?" tanya Lisa bahkan sebelum ia duduk di kursinya. Terlihat satu gelas minuman yang telah kosong. Sepertinya Vernon telah cukup lama duduk di sana.


Lisa tidak terlambat. Karena ia bahkan telah datang sepuluh menit sebelum waktu janjian. Namun, sepertinya memang sedang ada yang sangat bersemangat, hingga tak sabar, lalu datang ke tempat janjian satu jam sebelum waktu janjian.


"Mungkin semacam obat rindu?" Vernon menjawab tanpa basa-basi.


"Kelihatan sih," canda Lisa.


"Pede ya anda," cibir Vernon sambil tertawa.


"Mau pesan sesuatu?" tanya Vernon selanjutnya.


Di salah satu sudut rumah makan seafood di Ibu Kota, dua orang nampak ngobrol seru sembari memakan makanan mereka. Jika orang lain melihat mereka berdua, pasti mengira mereka adalah sepasang yang sangat serasi. Namun, bahkan mereka baru beberapa kali saja bertemu.


"Jadi gimana kerjaan lo?" tanya Lisa setelah menyelesaikan semua makanannya.


"Lancar," jawab Vernon sembari meminum air mineral. "Gue belum terlalu banyak handle gig gede, jadi sejauh ini sih masih oke," Vernon menjelaskan sedikit pembagian waktunya antara kerjaan dan sekolah.


Lisa mengangguk paham. Malah sepertinya ia yang jauh lebih sibuk dibandingkan Vernon. Walaupun biasanya ia tidak terlalu sering mengadakan showcase dan pameran untuk produk terbaru. Bahkan semua itu bisa Lisa lakukan setahun sekali atau paling banyak setahun dua kali. Namun, banyaknya pesanan tetap membuat Lisa sedikit kerepotan. Ditambah tampungan ide yang biasanya Lisa selalu merasa gatal untuk langsung eksekusi. Hanya saja, Lisa memang masih harus memprioritaskan sekolahnya.


"Btw, ditengah kesibukan lo itu," Vernon menatap mata Lisa. "Lo sempet pacar-pacaran ga sih?"


Lisa tersenyum, "Lo pengen tahu ya, gue punya pacar apa engga?" goda Lisa.


"Kebaca banget ya?" Vernon tertawa.


Lisa menggeleng masih dengan senyumnya, "dikit lagi dan gue gak akan sadar,"


"Jadi?" tanya Vernon lagi karena belum mendapatkan jawaban yang ia mau.


"Gue gak ada pacar, tapi gue rasa gue masih punya cukup waktu buat pacaran," jawab Lisa dengan tampang sok berpikir keras. Vernon mengangguk dan tertawa.


...***...


Lisa mengarahkan bidikan kamera pada satu pohon yang daunnya berguguran diterpa angin. Cuaca hari ini benar-benar sendu dan basah, membuat kesan dingin menjalar ke seluruh perasaan mahluk hidup di dalamnya.


Satu jepretan berhasil Lisa ambil. Ia memperlihatkan hasilnya pada Vernon. Awan yang menutupi birunya langit. Dedaunan yang tertiup angin. Beberapa helai daun yang melayang. Semua itu, terekam dalam potret yang baru saja Lisa abadikan melalui kamera Vernon. Sebenarnya Lisa cukup puas, hanya saja ada beberapa hal yang masih mengganjal.


"Gimana menurut lo?" Lisa menunjukkan kamera itu ke arah Vernon.


"Lo cukup berbakat dalam photography loh," Vernon berkata sungguh-sungguh.


"Benarkah?" pertanyaan Lisa diangguki saja oleh Vernon.


"Belilah kamera, nanti kapan-kapan kita hunting photo bareng. Gimana?" ajak Vernon.


"Boleh," Lisa mengangguk antusias. Rasanya ia memang akan sangat menyukai photography.


...***...


Vernon mengantar Lisa hingga ke depan pintu rumahnya. Ia baru akan benar-benar pulang setelah memastikan Lisa memasuki rumah. Di dalam perjalanannya pulang, Vernon tak pernah berhenti tersenyum. Beruntungnya ia bisa mengenal Lisa.


Ketika Vernon hendak memasuki rumahnya sendiri, sebuah panggilan membuatnya mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


"Ya,"


...


"Baiklah, tunggu di sana,"


Vernon kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia bergegas menginjak gas. Sepertinya ia baru saja menerima panggilan darurat. Namun, wajah Vernon tidak terlihat panik sama sekali. Ia hanya terlihat sangat fokus.


"lo baik-baik aja?" Vernon segera menghampiri tubuh yang sedang meringkuk di sebuah sudut kafe.


Rose mendongak ketika ia mendengar suara Vernon. Matanya telah sepenuhnya basah. Penampilannya cukup kacau. Tapi Rose mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Vernon. Vernon pun hanya menghela napas pelan.


"Ada apa?" tanya Vernon lembut. Ia ikut duduk di hadapan Rose.


"Gue berantem sama dia," jawab Rose.


Vernon menaikkan alisnya, "apa lo berantemnya pake jambak-jambakan?" tanya Vernon menilai bagaimana penampilan Rose sekarang.


"Sayangnya ya," jawab Rose tak acuh.


Mata Vernon membulat tak percaya. Bagaimana bisa?


"Dia yang lo maksud ini ibu lo kan?" tanya Vernon memastikan. Tak disangka, Rose malah mengangguk.


"Memangnya kalian berdua anak kecil?" Vernon mendengus tak percaya.


"Lo pikir gue setua apa?" Rose mencebik tak percaya dengan pertanyaan Vernon.


"Ok. Tapi mama lo?" Vernon menjelaskan maksudnya.


Rose mendengus kesal. "kalo dia memang beneran orang dewasa, dia gak bakalan memperlakukan gue kayak gini,"


Rose sudah akan menangis jika Vernon tak memberikan sepotong kentang goreng ke mulutnya. Biasanya Vernon memang tidak terlalu suka melihat orang menangis di depannya.


Rose pun menatap tajam ke arah Vernon. Namun Vernon hanya mengedik cuek.


"Kali ini soal apa lagi?" Vernon penasaran masalah apa lagi yang dibuat oleh Mama Rose kali ini. Bahkan sampai membuat Rose dan mamanya berantem kayak anak remaja. Itu benar-benar di luar nalar Vernon.


"Dia nyuruh gue pindah ke Australia, bareng bokap," jawab Rose sendu.


...****************...