SEVENTEEN

SEVENTEEN
Seungcheol - 8



Seungcheol sedang sibuk di depan Laptopnya sejak semalam. Bahkan mungkin ia baru tidur sekitar satu sampai dua jam saja. Badannya terasa remuk, namun hatinya yang berdebar dengan bahagia membuat semangatnya tak luruh.


Ia sedang sibuk mengedit video. Itu berisi dirinya sendiri. Ada adegan dimana ia sedang bernyanyi dengan gitarnya, lagu 'hug' dari seventeen sesekali terdengar yang dicover oleh Seungcheol. Dan ada beberapa selipan adegan dirinya yang sedang membuat kue atau apapun itu, wajahnya sebagian telah tertutup putihnya tepung. Namun tawanya masih di sana, manis sekali.


Mungkin arti dari lagu secara keseluruhan kurang pas dengan apa yang ingin Seungcheol sampaikan, namun satu hal yang ingin Seungcheol garis bawahi adalah, bahwa ia akan selalu ada untuk seseorang itu, seseorang yang telah membuatnya rela melakukan ini semua. Seseorang yang sangat spesial sehingga membuatnya tak ingin menjauh.


Tanpa terasa hari telah malam kembali. Seungcheol bergegas menyelesaikan semuanya. Ia pun meletakkan segala keperluannya di mobil. Padahal ia biasanya lebih suka bepergian dengan motornya karena lebih praktis.


Seungcheol sendiri telah berpenampilan sangat tampan. Ia berdandan seolah akan pergi makan malam mewah di sebuah restoran dining yang mahal. Padahal pacar saja belum punya.


...***...


Lisa baru akan menyiapkan makan malam untuknya dan Ian. Namun sebuah notifikasi membuat atensinya teralih. Melihat siapa pengirimnya membuat Lisa sedikit bersemangat.


"Sebuah file?" gumam Lisa yang masih di dengar oleh Ian. Ian pun ikut penasaran apakah itu.


Seungcheol mengirimkan sebuah video. Ia yang sedang bernyanyi, memasak, sesekali terselip video Lisa yang sengaja Seungcheol ambil saat mereka bersama, juga Seungcheol yang kembali bernyanyi dengan suara berat namun merdu itu. Tak lama, satu pesan lagi masuk ke ponsel Lisa.


"Aku di depan,"


Lisa mengernyit heran. Rumah Lisa adalah rumah ke dua bagi Seungcheol, biasanya akan menerobos masuk seperti pemilik rumah. Namun, ada ala dengan laki-laki itu malam ini? Ian yang juga ikut membaca pesan itu juga merasa aneh.


"Hai,"



Seungcheol melambai begitu melihat Lisa yang diiringi Ian di pintu rumahnya. Di tangannya ada satu buket bubga dan di tangannya yang lain ada kue yang sepertinya itu adalah buatan Seungcheol sendiri karena terlihat 'sedikit' berantakan.


Lisa yang terkejut dengan apa yang Seungcheol lakukan pun hanya menutup mulutnya. Ia bahkan sudah benar-benar kehabisan kata.


"Happy birthday,"


Sesaat hening, tidak ada yang ingin menyela Seungcheol. Atau kedua pihak sudah kehabisan kata. Entah.


"Kayak yang kamu bilang sama Rose, soal hubungan kita yang harus diresmikan, jadi," Seungcheol menarik nafas dalam. Kalimatbya tercekat oleh rasa gugup yang mulai menjalarinya.


"Kamu mau jadi pacar aku?"


"Aku," Seungcheol kembali menarik nafas, kembali mengumpulkan keberanian yang mendadak hilang. Padahal ia tak pernah begini sebelumnya.


"Mau, aku mau," Lisa segeran menghambur mendekat pada laki-laki tampan di hadapannya. Ia mengambil alih bunga itu agar Seungcheol bisa memeluknya dengan satu tangannya itu. Lisa menangis haru. Ini kado yang sangat manis.


"Jadi ada apa dengan videonya?" tanya Lisa masih di pelukan Seungcheol.


"Agar kau tahu bagaimana aku bersungguh-sungguh menyiapkan ini semua, dan lihatlah, walau ini yah, jelek memang, tapi aku membuatnya sepenuh hati,"


Lisa langsung memeluk Seungcheol sekali lagi. Senangnya. Setelah beberapa saat lalu ia kesal karena Seungcheol menghilang. Lisa pun merasa bersalah karena telah berpikir buruk.


"Hei, kalian gak pengen masuk? Gue laper," sungut seseorang yang tadi hanya menjadi penonton dua lovey dovey yang seolah lupa dengan keadaa sekitar itu.


Lisa dan Seungcheol pun bergandengan memasuki rumah. Bersiap untuk pesta kecil-kecilan yang manis.


...***...


Meskipun Seungcheol merasa kesal atas tingkah Lisa, toh ia tetap memakan pisan itu.


Kondisi taman sudah semakin ramai, dan hari juga mulai siang. Kebanyakan yang datang adalah mereka yang hanya ingin sekedar jajan, cari sarapan.


"Pulang yuk, udah panas nih," rengek Lisa. Seungcheol pun mengiyakan dan segera menggandeng tangan Lisa untuk meninggalkan taman.


"Sa, belajar yang rajin ya, biar kita LDR nya nanti gak usah lama-lama," ucap Seungcheol sendu. Akhirnya ia berani jujur jika selama ini ia juga merasa risau jika harus berpisah dengan Lisa.


Lisa nemeluk lengan Seungcheol erat. Kepalanya ia sandarkan pada bahu bidang Seungcheol. Bahu yang akan sangat ia rindukan nantinya.


"Janji! Setahun!" ucap Lisa akhirnya.


Seungcheol pun mengangguk, ia lalu mengusap kepala Lisa lembut.


"Nanti aku bantuin bikin proposalnya ya," Seungcheol tersenyum melihat binar mata Lisa yang mendengar tawaran Seungcheol.


"Gemes banget sih pacar aku," ucap Seungcheol sambil mencubit pipi Lisa.


"Aaakk.. Sakiiittt.. Isshh..!!" Lisa pun sewot. Kini mereka malah kejar-kejaran hingga sampai di depan gerbang rumah Lisa. Ian yang melihat kejadian ith dari dalam rumah hanya menggeleng heran. Mereka berdua ini sudah seperti anak-anak yang sulit akur satu sama lain.


...***...



"Mau kemana sih mbak pacar kok cantik banget?" tanya Seungcheol sambil menowel pipi Lisa gemas.


"Ish awas make up-nya..." Lisa melotot ke arah sang kekasih itu. Sedangkan Seungcheol malah tertawa senang.


"Udah siap?" tanyanya. Lisa pun mengangguk mantap.


Rencananya mereka akan makan malam di salah satu kedai sushi yang ada di dekat rumah Seungcheol. Sekalian malam mingguan tentunya. Ian sedari sore sudah merengek ingin ikut, namun Lisa bersikeras agar ia bisa pergi berdua saja dengan Seungcheol. Akhirnya, jalan tengahnya, mereka harus membawakan Ian satu set sushi untuknya. Sungguh kakak yang menyebalkan. Seungcheol malah iya iya aja lagi.


"Oh ya, Sa, kayaknya minggu depan aku gak bisa ke rumah deh,"


"Kenapa?" ucap Lisa heran.


"Hari minggu ujian bahasa jermannya,"


"Yaudah aku anterin ke tempat ujian,"


Seungcheol pun mengangguk. Tak terasa jika waktu perpisahan menjadi semakin dekat. Begitu pun dengan kelulusannya. Menyadari itu, kedua pasangan muda itu terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Bentar lagi ya," ucap Lisa lemah. Setiap memikirkan perpisahan mereka, tentu membuat hatinya terasa nyeri. Seungcheol hanya menggenggam erat tangan Lisa, berusaha menyalurkan kekuatan apapun yang masih tersisa. Karena ia sendiri sangat rapuh.


"Udah dong, kan kita mau seneng-seneng, kenapa malah cemberut?" ucap Seungcheol berusaha memecah kecanggungan.


"Kamu sih pake acara pergi jauh-jauh segala," kini Lisa malah mendelik pada Seungcheol.


"Kan biar masa depan kita cerah sayang," jawab Seungcheol jahil. Ish, Lisa kan malu. Masa depan apa maksudnya? Dan karena Lisa salah tingkah, ia semakin mempercepat jalannya, berusaha menjauhi Seungcheol. Ia tak ingin ketahuan jika mukanya kini telah memerah akibat membayangkan hal yang aneh di masa depan.


Melihat Lisa yang menjauhinya membuat Seungcheol cemberut. "Lisaaa, jangan jauh-jauh ih," mulutnya manyun lucu, persis kayak bebek.


"Itu mulut mau dikuncir?" ucap Lisa galak. Lisa kan tak rela jika keimutan pacarnya menjadi konsumsi umum. Seungcheol versi imut hanya untuk Lisa seorang saja soalnya.