SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 7



"Koreo ini akan kau gunakan untuk apa?"


Lisa bertanya di tengah makan malam mereka. Kini mereka sedang menyantap nasi goreng yang tak jauh dari gang masuk rumah Lisa.


"Akan aku rekam," Minghao terdiam sebentar


"Sabtu ini, pergi sama aku ya," Minghao menatap Lisa, "Berdua aja,"


Lisa mengangguk, "Mau kemana?" tanyanya.


"Rekam koreonya,"


Lisa mengernyit heran. Rekam video koreo hanya berdua? Apakah bisa? Seolah mengerti dengan apa yang Lisa pikirkan, Minghao segera memberi penjalasan.


"Bisa kok, konsepnya natural aja.. Percaya aja sama aku ya," Minghao tersenyum, manis sekali.


Lisa hanya mengangguk dan tersenyum dengan lebih manis. Tangan Minghao pun menepuk kepala Lisa lembut. Sepertinya itu menjadi hobi barunya saat ini.


"Hao, kamu tahu high school musical gak?" tanya Lisa tiba-tiba.


Minghao mengangguk, menandakan ia tahu drama series lama dari disney itu.


"Berarti kamu tahu lagu 'can i have this dance' dong?" Lisa nampak semakin antusias. Minghao kembali menangguk, kali ini ditambah senyuman. Sepertinya ia mulai tahu apa maksud Lisa.


"Aku tuh dulu suka banget sama mereka," ucap Lisa sambil menerawang. Ia seperti sedang mengenang masa-masa ia menonton Vanessa hudgens. "Aku pengen cover lagu itu deh, sekarang rasanya aku udah bisa deh," Lisa nyengir. Minghao tertawa.


"Boleh, nanti sekalian kita rekam juga, mau?"


Lisa mengangguk antusias. Namun Lisa secara tak langsung menyadari satu hal. Dance itu adalah sesuatu yang menurutnya sangat romantis. TIba-tiba wajah Lisa telah memerah. Ia membayangkan ia akan menarikan lagu itu bersama Minghao. Betapa manis dan mesranya.


***


Sudah sejak satu jam yang lalu Lisa dan Minghao di ruangan latihan dance sekolah mereka. Keringat Lisa bahkan sudah membanjirinya, hingga sebagian rambutnya telah basah. Begitu juga yang terjadi pada Minghao. Kini mereka tak hanya latihan untuk satu lagu. Tapi dua lagu sekaligus. Beruntung Lisa memiliki ingatan yang sangat kuat. Bahkan ia telah menghapal hampir seluruh koreonya. Hal itu tentu saja membuat Minghao menjadi semakin kagum pada gadis cantik yang memiliki mata yang indah ini.


"Kita mulai?"


Lisa mengangguk. Ia berdiri mengikuti Minghao. Suara musik kembali mengalun di ruangan yang hanya terisi mereka berdua. Hari belum terlalu sore. Bahkan di sekolah mereka masih cukup ramai dengan para siswa yang sedang ada ekstrakurikuler.


"Di bagian ini aku akan mengangkatmu, gak apa-apa kan?" Minghao tidak ingin Lisa merasa tidak nyaman. Memang ditarian mereka ini cukup banyak koreo yang mengharuskan mereka saling bersentuhan bahkan berpelukan.


Lisa mengangguk. Meski begitu hatinya terus berdebar sepanjang latihan. Ia memang sudah memiliki gambaran. Beberapa kali ia juga telah membayangkannya dan mencoba mempersiapkan hatinya. Namun, ternyata ia tetap terkejut dengan setiap sentuhan mereka. Ada rasa menggelitik dan debaran aneh yang terus muncul. Lisa hanya bisa berharap jika wajahnya tak akan semerah itu. Atau ia akan menjadi sangat malu.


Mereka terus berlatih. Mereka berusaha keras karena waktu mereka tak banyak. Namun, hanya Minghao yang merasa jika waktu mereka tak lagi banyak. Dan Lisa sama sekali tak tahu itu. Lisa hanya merasa, mereka harus segera menyelesaikan ini karena sabtu ini mereka sudah harus rekaman. Mereka sudah saling berjanji.


"Apa judul lagu yang kamu buat untuk dance kita?" tanya Lisa di sela-sela istirahat mereka yang kedua.


"Hai Lisa" jawab Minghao singkat.


Hal itu membuat Lisa menoleh. Namanya? Apakah itu namanya? Lisa merasa tak yakin. Ia memandang Minghao dengan tatapan penuh tanya. Setelah ia pikirkan lagi, Minghao memang sedikit aneh sejak kepulangan mereka dari Bandung. Memang tak terlalu kentara, namun Lisa bisa merasakannya.


Apa yang harus Lisa katakan. Minghao yang sekarang nampak sedikit lebih pendiam dan misterius. Yah, walaupun Minghao memang bukan tipe anak yang banyak bicara, tapi sebelum kepulangan mereka dari Bandung, Minghao sedikit lebih ceria. Saat ini, Minghao sedikit lebih muram. Bahkan senyum yang ia berikan pada Lisa nampak tersirat kesedihan. Tak banyak, sangat tipis, tapi Lisa tahu. Namun, Lisa tak bisa mengatakan apa-apa. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Jadi Lisa lebih memilih diam dan berpikir lebih positif.


***


"Minghao,"


Mendengar namanya dipanggil, Minghao berhenti dan menoleh ke arah suara si pemanggil. Dengan sabar Minghao menunggu kalimat lanjutan yang akan ayahnya katakan. Ya, itu adalah ayah Minghao yang memanggil.


"Maafkan Ayah," Ia menarik nafas berat, menandakan jika ia benar-benar menyesal atas apa yang terjadi, "Ayah terlalu mengkhawatirkanmu,"


Minghao tahu. Ia paham sepenuhnya. Ia tak marah, sama sekali tidak. Ia benar-benar mengerti. Ia hanya merasa sedih. Itu saja. Tak lebih.


Namun rasa sedihnya diartikan berbeda oleh sang ayah. Ia menganggap Minghao kecewa. Dan ia tak merasa nyaman atas itu. Dan ia menjadi semakin tak berdaya mengingat keadaan tak memungkinkannya untuk bisa berbuat banyak.


"Ayah,"


"Katakan apa yang kau inginkan selain tetap tinggal," sang Ayah menyela kalimat yang ingin Minghao katakan, ia merasa tak siap jika Minghao kembali meminta hal yang tidak bisa ia wujudkan.


Minghao kali ini benar-benar jengah. Bagaimana bisa sang ayah begitu cepat menyimpulkan hal-hal yang tidak ada. Sangat tidak sesuai dengan prestasi ayahnya di dalam pekerjaannya yang gemilang. Mungkin itu hanya sekedar kelemahan seorang ayah di hadapan putra kesayangannya. Mungkin begitu.


"Aku tak menginginkan apa pun ayah," Minghao mengucapkannya tanpa basa basi. Ia tak ingin kalimatnya dipotong lagi.


"Aku baik-baik saja dengan semua ini," Minghao berusaha menunjukkan betapa ia sangat jujur. Sungguh. Jika ia bisa mengatakan semuanya. Hanya agar sang ayah tak banyak berpikir. Namun, Minghao tak bisa mengatakan lebih. Ia tak ingin sang ayah semakin merasa bersalah. Karena ia mengerti posisi sang ayah yang memang terpaksa.


"Baiklah, katakan pada ayah jika ada hal lain," Ia menepuk pundak sang anak beberapa kali. Minghao mengangguk mantap.


Minghao menghela nafas lagi begitu ayahnya telah menjauh darinya. Ia segera memasuki kamarnya untuk sekedar mengungkapkan hal-hal yang tak bisa ia tunjukkan. Dan satu nama ia ucapkan dengan sangat lirih. Satu nama yang membuatnya berat. Satu nama itulah, yang menjadi penyebab Minghao merasa sedih.


Lisa..


Apakah benar-benar hanya begini saja? Apa lagi yang bisa ia lakukan? Akankah ada keajaiban? Bisakah keajaiban itu terjadi untuk mereka berdua. Minghao duduk memeluk kedua lututnya. Di dalam kepalanya masih penuh dengan satu nama yang sama. Dan Minghao sudah merasakan rindu. Sangat rindu.