SEVENTEEN

SEVENTEEN
Seungcheol - 3



Kini Lisa menjadi perbincangan di antara kakak kelasnya. Hal ini disebabkan oleh dirinya yang dengan berani mengantarkan makanan ke ruang OSIS untuk sang ketua. Tentu itu aneh. Seungcheol biasanya tak pernah terlibat dengan siswi perempuan, mau secantik apa pun dia. Tapi kini ia tak hanya terlibat bahkan sepertinya mereka ada dalam hubungan yang 'cukup dekat' hingga sampai di tahap menerima makanan.


Lisa berjalan tergesa menuju kelompoknya. Tadi, sekali lagi, Seungcheol mengganggunya dengan meminta Lisa menemaninya bertemu dengan kepala sekolah. Lisa tidak ikut masuk, ia hanya menunggu di luar. Dan Seungcheol mengancamnya agar Lisa tak pergi selama Seungcheol berbicara dengan kepala sekolah. Setelahnya Lisa harus terlambat berkumpul di lapangan. Jika ia sampai dihukum oleh OSIS, maka Lisa berjanji akan protes.


Permintaan Seungcheol pada Lisa memang cukup aneh-aneh. Namun, jika diperhatikan, Seungcheol sedang mencari kesempatan untuk berbicara dengannya. Ia banyak menanyakan tentang hal-hal yang menyangkut Lisa. Seperti, pulang naik apa, rumahnya dimana dan sebagainya. Sampai pada saat jam pulang, Seungcheol kembali mendekati Lisa.


"Pulang sama aku."


Ini perintah, bukan permintaan. Karena Seungcheol segera berjalan mendahului Lisa menuju parkiran. Tentu saja ia berharap Lisa akan mengikutinya. Dan yah, Lisa memang mengikutinya. Entah bagaimana, ia selalu bisa mengerti bahasa tersirat laki-laki di depannya itu. Sedangkan Rose terdiam, merasa sangat heran dengan hubungan keduanya. Lisa yang selalu nampak kesal tapi menurut dan Seungcheol yang tampak dominan tapi manis.


...***...


"Bang Ian kemana sih?" Lisa langsung marah-marah begitu Christian wu atau yang biasa dipanggil Ian mengangkat teleponnya. "Kan Bang Ian udah janji mau nganter aku?"


Ian adalah kakak yang cukup galak bagi Lisa. Sehingga Lisa tak berani terlalu tak sopan pada kakaknya. Bahkan hanya untuk sebutan lo dan gue yang sudah lumrah bagi mereka pun tak Ian izinkan.


"Cuma ke warteg depan elah bawel amat jadi adik," Ian protes mendengar omelan Lisa. "Ini OTW balik, tungguin,"


Lisa pun segera mengirim pesan pada Seungcheol jika Ian yang akan mengantarnya. Lalu ia pun segera bersiap sebelum kakaknya datang. Ditangannya ada sekotak susu coklat, kayaknya Lisa cuma sempat makan siang itu deh.


Ian datang tak lama setelahnya. Karena warteg yang ia maksud memang sangat dekat. Bahkan ia masih sempat melihat Lisa yang sedang memakai kaos kaki, sambil meminum susunya yang ia sangga dengan kedua lututnya.


"Ngapain kamu minum susunya kayak gitu?" tanyanya heran.


"Lisa laper," rengut Lisa. Harusnya jika Ian tak menghilang, Lisa bisa mengajaknya untuk makan sebentar di jalan yang akan mereka lewati nanti.


Mendengar itu ada perasaan jengkel. Adiknya ini selalu melewatkan jam makannya begitu saja. Ia pun mendengus kesal. Kemarahannya tak akan ia lampiaskan pada Lisa, tapi orang lain. Orang yang bahkan saat ini tak tahu apa-apa.


...***...


"Hey, Bobby!"


Bobby adalah ketua club street dance. Ia segera menghampiri Ian begitu namanya dipanggil. Mereka cukup dekat, meski Ian lebih tua. Bobby sendiri menghormati kakak Lisa ini. Mereka sudah saling kenal cukup lama. Dan itu juga yang menjadi awal pertemuannya dengan Lisa.


"Beliin adek gue makanan, jangan biarin dia tampil sebelum selesai makan. Lo atur!"


Bobby menatap bingung ke arah Lisa. Lisa sendiri malah mengerjap lucu menatap kakaknya yang telah pergi dengan motornya. Sebelumnya ia telah menggusak kepala Lisa sembari berjanji akan menjemputnya ketika Lisa telah selesai.


"Lo tampil satu jam setelah ini, yakin sempet makan dulu?"


"Cariin yang deket deket aja deh kak, biar gak terlalu lama," ujar Lisa. Ia tahu jika kakaknya akan dengan mudah mencari tahu apakah ia makan dengan benar atau tidak. Lisa tidak ingin cari perkara.


Lisa duduk di dalam sebuah tenda yang telah dipersiapkan oleh panitia acara. Ia sedang menunggu gilirannya untuk dimake up. Lisa mengirim pesan singkat pada pacarnya jika ia telah sampai di tempat acara, tentu dengan informasi diantar Ian. Atau Lisa harus menghadapi kemarahan Seungcheol jika tak mengabarinya.


"Makanan lo,"


Bobby juga menyerahkan sebotol air mineral yang dibelinya di warung terdekat. Nafasnya tersengal karena berlarian tadi. Waktunya memang masih sangat cukup. Tapi Lisa tak mungkin langsung tampil pas setelah selesai makan. Gerakan dance yang Lisa tampilkan akan cukup ekstrem. Ia tak ingin mencari pada dua orang laki-laki dominan sekaligus. Ya siapa lagi jika bukan Ian dan Seungcheol.


"lo gak pilih-pilih makanan kan? Cuma itu yang paling deket," lanjut Bobby masih kesulitan meraup oksigen. Melihat itu Lisa hanya mengangguk terlihat ekspresi kasihan pada ketuanya ini. Ia jadi sedikit merasa bersalah.


...***...


Selesai dengan urusan OSIS, Seungcheol segera meraih sepeda motornya. Ia rasa ia masih punya waktu untuk melihat penampilan Lisa. Mungkin sedikit terlambat, tapi itu lebih baik dibanding tidak sama sekali.


Di tempat acara, Lisa tengah bersiap menunggu gilirannya tampil. Ia sedang menarik nafas dan terus membuangnya perlahan demi menghilangkan gugup. Ini bukan pertama kalinya, namun selalu ada gelenyar aneh setiap ia akan tampil, gugup juga bersemangat.


"Semangat!"


Lisa menoleh pada Bobby yang memberinya semangat. Ia hanya tersenyum. Lalu Bobby kembali ke pinggir panggung untuk memantau acara. Ia tak ingin ada kesalahan.


Saat MC memanggil nama Lisa, sorakan penonton pun terdengar. Lisa memang sudah cukup dikenal di antara pecinta street dance. Dan kali ini ia akan dance battle dengan seorang penantang. Tentu hal ini menjadi tontonan yang ditunggu oleh banyak orang.


Di antara gemuruh penonton yang berdecak kagum atas kecantikan Lisa. Ada seseorang yang merasa jengkel karena Lisa terus dipuji oleh sekelompok cowok yang berdiri tak jauh darinya. Seungcheol hanya bisa berdecak sebal tanpa bisa protes. Sangat wajar jika penonton memuji penampil. Jadi Seungcheol hanya bisa menelan bulat-bulat rasa cemburunya.


Di atas panggung Lisa bisa melihat pacarnya di antara banyaknya orang yang menonton. Kejutan kecil itu tentu membuat senyum Lisa terbit. Dan melihat kekasihnya tersenyum sedemikian manisnya, hati Seungcheol melunak. Ia pun balik tersenyum dan melambaikan tangannya.


Musik mulai berdentum dari speaker yang telah terpasang di kanan kiri panggung. Lisa merubah ekspresinya menjadi lebih tajam. Sangat karismatik. Tatapannya seolah memiliki kemampuan sihir untuk menghipnotismu sekaligus membuatmu berdesir. Melihat hal itu, sontak membuat lawan merasa bimbang. Dan itu membuat gerakannya menjadi sedikit kaku dan penuh keraguan. Lisa pun tersenyum misterius, kini gilirannya untuk menunjukkan bakatnya. Dan dengan berani, Lisa telah memporak-porandakan mental lawan. Penonton semakin riuh melihat penantang Lisa semakin menciut. Hingga akhir pertunjukan, ekspresi Lisa mulai kembali ceria dan cerah. Hilang sudah Lisa yang dominan dan menakutkan beberapa detik lalu.


"Jangan lari-lari,"


Seungcheol memperingatkan kekasihnya yang berlarian dengan ekspresi kekanakan dan ceria. Ia merasa sangat gemas. Lisa sendiri semakin tersenyum lebar.


"Nanti jatoh," tangan Seungcheol mengusap kepala Lisa lembut. Tatapannya teduh, tak ada galak-galaknya. Padahal ia terkenal sebagai ketua OSIS tukang marah.


"Kamu anterin aku pulang?" tanya Lisa. Seungcheol mengangguk.


"Aku harus kabarin Bang Ian dulu," kata Lisa sambil meraih hp-nya, "soalnya tadi Bang Ian yang bilang mau jemput," Seungcheol kembali mengangguk. Ia masih memandangi pacarnya yang sedang berbicara dengan kakaknya melalui sambungan telepon.


"Cantik banget sih," ucap Seungcheol sambil mencubit pipi Lisa gemas. Lisa hanya merengut sebal.


...****************...