
Vernon bangun dengan kepala yang berat. Ia memejamkan matanya sekali lagi. Rasa peningnya masih cukup kuat. Ia melirik ke arah nakas, biasanya ia menyimpan air mineral di sana. Namun, kosong. Ah sepertinya memang sudah habis. Kemarin ia terlalu lelah hingga tak memperhatikan.
Vernon memaksakan diri untuk bangun. Ia menuju dapur untuk mengambil air minum untuknya. Saat ia berdiri, kepalanya semakin berdenyut hebat hingga membuatnya terhuyung. Pandangannya menggelap. Ia pun mencekal head board kuat, menahan badannya agar tak ambruk. Nafasnya memburu hanya untuk berdiri saja. Vernon pun menyerah, ia merebahkan kembali tubuhnya di kasur.
Lisa.
Bagaimana ia selalu terpikirkan gadis itu untuk segala situasinya? Namun Vernon tak enak hati untuk sekali lagi membuat gadis itu kerepotan karenanya. Rasanya, ia sudah terlalu lancang. Vernon pun menarik nafas dalam. Berharap dapat meredakan sedikit pening yang serasa membelah kepalanya.
...***...
"Halo,"
Lisa mengernyit bingung. Tak ada satu suara pun yang menjawabnya dari ujung telepon. Ia memeriksa sambungan telepon itu, dan masih terhubung.
"Vernon?"
Ia kembali memastikan. Apakah Vernon tak sengaja meneleponnya saat sedang tidur? Namun, saat Lisa hendak mematikan sambungan telepon, terdengar suara rintihan lirih di ujung sana.
"Vernon? Lo kenapa?"
...***...
Di depan sebuah rumah minimalis dengan halaman kosong tanpa tanaman satu pun, Lisa sibuk mengetuk pintu dan menelepon seseorang. Tangannya membawa dua kantung yang berbeda. Sepertinya itu makanan.
"Angkat Vernon," desis Lisa tak sabar.
Sekali lagi Lisa mengetuk pintu dengan cukup keras. Ia cukup panik. Jika benar Vernon sakit, dan pintu rumahnya malah terkunci dengan baik, betapa bagusnya keadaannya.
"VERNON," Lisa sedikit berteriak kali ini.
Hingga ia mendengar suara kunci terputar. Saat pintu terbuka, badan Vernon mulai ambruk. Dengan sigap, Lisa menangkap tubuh Vernon. Anak ini demam tinggi. Bahkan wajah pucatnya sudah seperti hantu. Lisa membawa Vernon pada sofa terdekat dan merebahkannya di sana.
"Vernon, minum dulu," Lisa mendekatkan air mineral yang telah diberi sedotan agar Vernon meminumnya dengan lebih mudah.
"Vernon bisa jalan ga? Pindah kamar yuk," ucap Lisa.
"Kepala gue sakit, Sa," Vernon menjawab lirih.
Lisa menghela nafas. Ia bingung sekarang. Lisa tidak tahu seluk-beluk rumah Vernon. Dimana ia harus mengambil selimut atau handuk kecil bersih untuk kompres? Juga kebutuhan lainnya untuk merawat Vernon.
"Mama, tolongin Lisa," ucap Lisa begitu teleponnya tersambung pada ibunya. Lisa segera menjelaskan secara singkat situasinya. Lisa pun mengirimkan alamatnya.
Sambil menunggu kedatangan ibunya. Ya, Lisa memang terpaksa minta bantuan ibunya untuk menyiapkan kebutuhan Vernon. Karena rasanya akan lebih tidak sopan jika ia musti menggeledah rumah orang.
"Vernon, makan dulu ya," Lisa mengguncang pelan tubuh Vernon yang panas tinggi.
Vernon menggeleng. Rasanya ia tak sanggup bangun lagi. Dunianya seolah berputar, membuatnya oleng meski hanya untuk duduk. Namun sepertinya Lisa memaksa.
...***...
"Makasih ya, Ma," ucap Lisa kala Mamanya akan pamit pulang.
Vernon telah selesai makan, bahkan juga sudah minum obat penurun demam. Ia kini sedang tidur di sofa dengan kepala yang dikompres air dingin. Selimut tipis menyelimutinya dengan baik. Vernon tampak lebih baik, sudah tak ada igauan dalam tidurnya.
"Mama udah minta dokter buat periksa ke sini, mungkin bentar lagi dateng," Mama mencium pipi Lisa sekilas, "Mama pulang ya, maaf gak bisa lama,"
Lisa melambaikan tangannya ke arah Mamanya yang telah melajukan mobilnya menjauh dari rumah Vernon. Ia sebenarnya masih di kantor saat Lisa menelepon. Maka, ia pun harus bergegas kembali, atau pekerjaannya akan kacau.
Setelah Mobil Mamanya tak terlihat lagi, Lisa kembali ke dalam rumah. Ia duduk di sofa single di dekat Vernon. Pikirannya mengembara pada kejadian beberapa hari lalu tentang pernyataan Rose.
Hari ini, Rose sedang ada pemotretan. Ia bahkan telah pergi dari sejak pagi sekali. Lisa termenung. Ia kembali merenungkan perasaannya terhadap lelaki di hadapannya ini. Mungkin memang belum terlambat jika haris mundur. Begitu batin Lisa.
...***...
Rose segera pergi ke rumah Vernon begitu pemotretannya selesai. Sebelumnya memang Lisa telah mengirimkan pesan yang mengatakan jika Vernon sakit.
Vernon masih tertidur di sofa depan, bersama kain kompres yang mulai menghangat. Lisa sendiri telah kembali ke rumahnya setelah ia tahu bahwa pemotretan Rose telah selesai. Bagaimana pun, Lisa sendiri sebenarnya memang ada beberapa hal yang harus ia selesaikan. Mumpung hari sabtu.
"Vernon,"
Rose menghampiri Vernon. Ia mengecek keadaannya yang sudah mulai membaik. Saat Vernon telah membuka mata, ia melihat Rose yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Rose sendiri memang lebih terbiasa dengan rumah Vernon karena dia memang sudah lumayan sering datang ke sana.
Vernon bangun dengan kepala yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan tadi pagi. Ia mendudukkan dirinya. Masih bersandar pada sandaran sofa, ia melihat Rose. Secara tak sadar, ia mengharapkan Lisa lah yang ada di dapurnya. Ia menghela nafas kecewa, namun ia tak mengatakan apa pun untuk menghargai Rose.
Ia paham dengan perasaan Rose. Vernon sendiri tak pernah bermaksud untuk menyakiti siapa pun. Rose telah ia anggap sahabatnya. Ia tak pernah merasakan hal yang romantis padanya. Namun, kesulitan hidup yang Rose alami membuatnya kembali memikirkan keputusannya. Haruskah ia egois? Ataukah ia mencoba berbaik hati? Ah, baik hati apa? Bukankah akan sama-sama menyakiti, hanya saja caranya yang berbeda.
...***...
"Udah bangun?" Rose datang mengecek keadaan Vernon kembali. Suhu badannya sudah tak setinggi sebelumnya. Meskipun Rose memang tak tahu setinggi apa, tapi suhu tubuh Vernon yang sekarang nampak tak terlalu mengkhawatirkan.
"Makan ya, terus minum obat," Rose pun hendak bangun sebelum Vernon menahannya.
"Lo ngerawat gue dari tadi pagi? Bukannya lo ada pemotretan?" tanya Vernon ingin memastikan. Pagi tadi keadaannya sangat kacau. Ia takut salah. Bagaimana pun dia memang mengigau berberapa kali.
Rose mengernyit heran. Apakah Keadaan Vernon separah itu tadi pagi?
"Gue baru datang sore," jawab Rose kembali duduk, "tadi siang juga udah ada dokter yang meriksa lo," Rose entah mengapa sedikit merasa enggan menyebut Lisa.
"Dokter? Siapa?" Seharusnya tak ada dokter yang akan datang melihatnya. Ia tak memiliki dokter pribadi.
"Hm, itu, Tante Lisa ada yang praktek sebagai dokter, jadi Mama Lisa yang memintanya untuk datang," Rose masih enggan menyebutkan Lisa. Vernon menatap Rose bingung, ia masih tak mengerti tapi entah mengapa ia enggan untuk bertanya lagi. Sepertinya keadaan mereka menjadi semakin kacau.
...****************...