
"Lisaaaa..."
Ian masuk ke kamar Lisa dan melihat sang adik masih sibuk dengan mimpi indahnya. Bahkan tenggorokannya sudah kering karena terus memanggil Lisa tanpa tanggapan.
"LISA BANGUN!!!" Ian mengambil bantal dan tanpa pikir panjang ia memukul Lisa dengan kencang.
"Auuu.." Lisa terbangun akibat pukulan itu, "sakit bang, gila ya.." omel Lisa.
"Lo liat ini jam berapa? Lo gak pengen ke bandara emang?" sewot Ian.
"Apaan sih?" balas Lisa kesal, "Emang siapa yang dateng pake acara ke bandara segala sih?!" dengan setengah sadar Lisa hendak merebahkan dirinya ke kasur lagi.
Ian sendiri sudah tak habis pikir dengan adiknya ini. Ia akan tunggu, jika nanti Lisa ingat apa yang bakal ia lewatkan jika melanjutkan tidurnya, maka Ian adalah orang pertama yang berencana tertawa paling kencang. Tunggu saja. Begitu batin Ian.
Lisa yang sudah memejamkan mata, mendadak duduk, ia tak peduli jika kepalanya sekarang berputar akibat gerakannya yang tiba-tiba.
"Aaahhh abaaangg kenapa gak bilaaangg?!!" Lisa protes. Ian hanya menaikkan alisnya. Tangannya bersidekap di dada, cuek.
"Ishhh.." Lisa yang kesal hanya melampiaskan dengan memukul Ian dengan bantal.
"Lah situ yang salah kok nyalahin abangnya,"
Lisa menyambar baju apapun yang bisa ia temukan, begitu pula dengan tas dan sepatunya. Bahkan ia tak mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi saja. Tak apalah, aku sudah cantik, batin Lisa.
"Bang gini aja?" tanya Lisa begitu ia merasa siap pergi. Ian mengangguk. Mereka pun segera menuju garasi untuk mengambil mobil.
"Pesawatnya take off jam berapa katanya?" tanya Ian sambil menatap jalanan yang sudah mulai ramai.
"Jam sepuluh,"
Ian pun melihat jam tangannya, masih ada waktu. Namun ia tetap tak memperlambat laju kendarannya. Ia tahu jika ini sangat penting untuk adiknya. Lagi pula Ian sendiri juga senang jika nanti Seungcheol lah yang menjadi adik iparnya. Ia merasa sudah sangat cocok dengan Seungcheol.
"Untungnya ini hari biasa, paling nanti agak macet di tanggerang karena banyak truk," sinis Ian karena Lisa yang kesiangan.
"Ya maaf sih," Lisa sendiri menyesali kebiasaannya yang suka tidur. Jika saja dia bisa bangun lebih awal, setidaknya ia bisa bertemu Seungcheol lebih awal. Mereka akan berpisah lama sekali. Ah kenapa bodoh sekali. Lisa menyesali paginya yang memang tak indah sejak awal.
"Yaudah, masih ada waktu kok," ucap Ian mengalah. Lisa memang seharusnya yang paling risau karena akan berpisah dengan pacarnya. Ian pun mengusap kepala Lisa perlahan.
...***...
"Seungcheoraaa..."
Lisa dan Ian berlari menuju Seungcheol dan keluarganya yang masih terlihat di teras bandara. Di sekitar mereka terlihat beberapa koper dan tas yang sepertinya milik Seungcheol. Semua menoleh pada dua anak muda yang sedang berlarian ke arah mereka.
Begitu sudah dekat, Lisa pun menyalami orang tua Seungcheol terlebih dahulu dan disusul oleh Ian.
"Kenapa lari-lari?" ujar ibu Seungcheol lembut. Mereka memang sudah sangat dekat. Ibu Seungcheol selama ini seolah menjadi pengganti ibu Lisa yang jauh dan jarang sekali pulang ke Indonesia.
"Biar cepet ketemu, hehe," Lisa tersenyum lebar di pelukan calon mertuanya itu.
"Uh, dasar," ucap Ibu Seungcheol sambil memukul pelan dahi Lisa.
Seungcheol yang berada di sampingnya hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Yah, dia memang sedang diabaikan, terlebih mereka akan berpisah cukup lama. Setahun. Itu juga kalau Lisa bisa lulus juga kuliah di Jerman, bisa lebih kalau Lisa tidak rajin belajar.
Lisa melepaskan pelukannya dengan calon ibu keduanya itu. Kini ia beralih pada sang pacar yang tatapannya sangat lembut padanya. Jika biasanya mereka banyak berdebat kecil, bahkan manja-manjaan kayak anak balita, sekarang yang ada di hadapan Lisa adalah Seungcheol yang dewasa, penuh wibawa dan kelembutan yang belum pernah Lisa lihat.
"Kesiangan," jawab Lisa jujur.
"Iya, musti digebuk dulu baru mau bangun tuh," ucap Ian masih kesal.
"Ish.." Lisa melirik sinis pada kakaknya, "tadi sakit digebuk Ian," adu Lisa pada Seungcheol manja. Padahal ya udah gak berasa sama sekali.
"Dimananya yang digebuk?" tanya Seungcheol sambil memegang kepala Lisa lembut. Matanya melihat poni Lisa yang sedikit tersibak karena Lisa tadi lari-lari dari parkiran ke arahnya. Seungcheol pun merapikan poni itu lembut.
"Nih, di sini," tunjuk Lisa pada punggungnya sebelah kanan. Seungcheol pun tersenyum dan mengusap lembut punggung yang ditunjuk Lisan
"Nanti pasanga alarm, dan kalau udah denger alarm bunyi langsung bangun biar ga perlu digebuk lagi," ucap Seungcheol.
Lisa mengangguk semangat. Sekarang ia menatap Seungcheol yang sedang menunduk memandangi tangannya yang Seungcheol remas perlahan. Hingga saat Lisa menyadari satu titik air yang jatuh di antara tangan mereka. Ya, Seungcheol menangis dalam diam. Lisa pun langsung menarik Seungcheol dalam pelukannya. Bagaiamana ini, mereka belum berpisah tapi Lisa sudah merasa sangat rindu. Tak rela. Tak mau. Bagaimana ini?
Tangisan mereka berdua pecah. Hanya air mata yang luruh, tak ada sesenggukan pilu menyedihkan. Namun, itu jauh lebih menyayat hati. Rasa perihnya membuat mereka berdua merasa sesak.
"Belajar ya Sa," ucap Seungcheol terbata, "Susulin aku,"
Lisa menganggu beberapa kali. Masih dalam pelukan hangat kekasihnya yang tampan ini. "Jaga diri di sana. Tungguin aku," Lisa tersedak air mata yang semakin deras ketika ia mengucapkan itu.
Lisa bisa merasakan jika pelukan semakin erat beberapa detik sebelum akhirnya Seungcheol melepaskannya. Seungcheol mengusap air mata yang masih menggenang di pipi cantik Lisa.
"Gak mandi ya?" tanya Seungcheol sambil tertawa, "Ini matanya masih bengkak kayak baru bangun tidur," ucapnya lagi.
"Emang gak mandi sih," jawab Lisa jujur, "emang bau ya?" tanya Lisa sambil menciumi dirinya sendiri. Seungcheol pun tertawa.
"Enggak kok, tetep wangi," Seungcheol mengusap kepala Lisa lembut.
"Ishhh.. Tadi aku buru-buru biar gak telat," protes Lisa.
Seungcheol mengangguk mantap, "hm, makasih ya," senyum Seungcheol manis sekali.
Kini Lisa dan Seungcheol hanya saling diam. Mereka saling menatap satu sama lain. Mereka sama sekali tak sadar jika Ian dan kedua orang tua Seungcheol sudah meninggalkan mereka berdua.
"Aku udah kangen rasanya," ucap Lisa lesu. Ia memainkan jemari Seungcheol yang tertaut dengan jemarinya sendiri. "Sama," jawab Seungcheol lembut.
"Gak mau pisah gak sih," kata Lisa lagi.
"Kita gak pisah sayang," Seungcheol mengoreksi ucapan Lisa. "Hati kita tetap sama-sama,"
"Ih gombal," Lisa memukul lengan Seungcheol perlahan. Seungcheol terkekeh. Ia menarik nafas panjang. Ini sudah waktunya ia menuju ke ruang boarding. Seungcheol sekali lagi memeluk Lisa.
"Aku akan langsung telfon begitu sudah di sana,"
Lisa mengangguk semangat, "harus!" Mereka saling tersenyum.
"Berangkat ya,"
"Take care ya,"
Dan di sinilah perpisahan manis yang menyedihkan terjadi. Mungkin bukan perpisahan, hanya kebersamaan yang tertunda. Lisa dan Seungcheol berharap, hari indah bagi mereka berdua ada di masa depan mereka.
"I love you.... "
...********T A M A T********...