SEVENTEEN

SEVENTEEN
Joshua - 7



Obrolan Lisa dan Joshua pagi tadi, membuat Lisa mengumpulkan anggota club dance di sebuah kafe. Saat ini, sudah hampir seluruhnya hadir. Hanya tinggal menunggu beberapa orang saja termasuk Jeka.


"Berapa orang lagi yang belum hadir?" Lisa ingin segera memulai pembicaraan.


"Masih tiga orang lagi. Tapi aku rasa, kamu bisa mulai sekarang," sang ketua club memberi keputusan. Lisa mengangguk.


Lisa berdiri lalu menepuk tangan agar mendapat atensi anggota club dance yang hadir di sana. Semuanya pun hening, dan seluruh perhatian tertuju pada Lisa.


"Pertama, aku minta maaf karena mendadak ngumpulin kalian di sini," Lisa membuka rapat hari ini.


"Aku udah memutuskan untuk ga tampil. Aku minta maaf. Tapi, aku harap kalian bisa mengerti. Kalian tahu, jika sekolah sampai tahu aku terlibat kegiatan ini, maka aku yakin aku akan dipaksa keluar dari club agar lebih fokus pada ujian nasional," Lisa mulai menjelaskan.


"Nah, karena sesuai informasi yang kita dapat kemarin, bahwa mereka maunya aku tampil, tolong ketua club untuk konfirmasi ke mereka jika aku tidak bisa," lanjut Lisa.


"Untuk kalian, apa pun keputusan dari panitia pensi, aku harap kalian bisa menerimanya. Tampil atau pun tidak di sana, kalian masih bisa membuat acara dengan tema yang sama kok di sekolah kita. Jadi, seharusnya itu bukan masalah besar. Bagaimana menurut kalian?" Lisa memandang ke masing-masing anggota club untuk mencari jawaban.


Lisa banyak mendapatkan setuju dari anggota club. Beberapa hanya diam, mungkin karena merasa suaranya sudah cukup terwakili. Karena tidak ada Jeka, diskusi menjadi sedikit lebih mudah. Karena biasanya selalu Jeka yang menentang Lisa. Setelah dianggap sudah selesai, Lisa pamit untuk pulang duluan. Mereka boleh lanjut nongkrong jika memang tidak ada acara. Semua pesanan mereka sudah dibayar oleh Lisa.


Keluar dari kafe, Lisa berniat untuk berjalan kaki menuju halte terdekat. Seharusnya ia menelepon Joshua. Tadi pun, Joshua sudah memintanya begitu. Tapi Lisa ingin naik busway saja. Sekalian jalan-jalan.


"Lisa," Lisa menoleh dan terkejut melihat Jeka di sana.


"Kenapa nolak tampil sih?" kesal Jeka.


"Kita udah kelas tiga Je," jawab Lisa sabar. "Kenapa sih kamu ngotot banget pengen tampil di sana?" tanya Lisa heran.


Jeka menggusak kasar rambutnya yang masih setengah basah. Ia nampak kecewa. Tujuh tahun yang lalu, lomba dance yang Jeka dan Lisa ikuti, lokasinya memang ada di SMA Pertiwi. Ia ingin mengulang momen itu. Ia ingin Lisa mengingatnya.


"Apakah kamu benar-benar lupa?" Jeka nampak frustasi. Lisa menatap aneh pada Jeka. Apa maksdunya?


Lisa melihat Jeka yang nampak sedih. Setelah ia perhatikan, wajah Jeka memang nampak familiar. Ini mengejutkannya. Selama ini ia memang tidak menyadarinya. Itu karena Jeka yang selalu membuat ulah, jadi Lisa malas ngeliat Jeka.


"Apa kita pernah ketemu sebelum di SMA ini?" Lisa bertanya.


Jeka mengangguk. Ia menceritakan tentang lomba mereka, tentang betapa menyenangkannya hari-hari latihan mereka. Betapa mereka dekat saat itu. Jeka bahkan rela pindah sekolah begitu ia menemukan Lisa. Namun, saat pertama ketemu, Lisa justru sedang asik bersama Joshua. Jeka cemburu.


Lisa mengingat semuanya. Memori itu memang sempat tenggelam dari ingatan Lisa. Lagi pula, dulu Jeka pendek, hanya sebahu Lisa. Tapi, sekarang Jeka tumbuh jadi seseorang yang tinggi dan ganteng. Lisa memang pangling.


Pada saat itu, Lisa memang lebih sering bertemu dengan Jeka, dibandingkan dengan Joshua. Ia dan Joshua bertemu hanya 1-2 kali dalam seminggu di luar sekolah. Hal itu karena kesibukan orang tua mereka masing-masing. Sedangkan Lisa dan Jeka, bertemu hampir setiap hari sampai hari lomba tiba. Dan Jeka tidak mengenal Joshua.


"Aku menyukaimu Lisa," lirih Jeka. Namun, Lisa masih bisa mendengarnya. "Aku merindukan momen kita bersama," Jeka melanjutkan.


"Maaf, aku cemburu padamu dan Joshua," Jeka menatap Lisa, ia mencoba mencari jawaban dari mata Lisa.


"Maaf Jeka, karena aku sempat ga inget kamu. Harusnya dari awal aja kamu bilang kalau kamu adalah bocah SD yang pendek itu," gurau Lisa berusaha mencairkan suasana.


Mendengar Lisa sudah bisa bercanda dengannya membuat Jeka sedikit tersenyum. Hanya senyum tipis. Ia masih belum bisa tenang.


"Jadi, kita berteman?" ajak Lisa.


Jeka terkejut. Ia tidak ingin hanya berteman. Ia ingin Lisa menjadi miliknya. Tapu, Jeka mengingatkan dirinya sendiri agar tidak buru-buru. Ia pun menyambut uluran tangan Lisa.


"Aku antar pulang ya," tanya Jeka. Lisa hanya mengangguk.


...***...


Joshua sedang duduk di sebuah bangku yang berada di samping kiri rumah Lisa. Di samping nya ada pohon ketapang kencana yang menjulang tinggi, membuat teduh sekitarnya. Joshua sedang main game sembari menunggu telepon dari Lisa.


Saat sedang asik main, Joshua mendengar suara motor masuk ke pekarangan rumah Lisa. Itu Lisa sama Jeka? Joshua cukup terkejut. Terlebih Lisa banyak tersenyum saat ngobrol sama Jeka.


"Josh," Lisa melambaikan tangan ke arah Joshua. Ia tersenyum semakin cerah. Sedikit berlari, Lisa menghampiri Joshua. Di belakangnya Jeka mengikuti arah jalan Lisa.


"Ngapain?" tanya Lisa.


"Main game," Joshua memperlihatkan layar handphone-nya yang masih membuka aplikasi genshin impact. "Sama Jeka?" tanya Joshua pelan. Lisa mengangguk.


Lisa duduk di bangku yang sama dengan Joshua. Lalu mempersilahkan Jeka untuk duduk juga. Lisa pun menceritakan tentang Jeka yang ternyata adalah temannya dari sejak SD. Joshua tersenyum saja menanggapi cerita Lisa. Hatinya sedikit berdenyut tak suka.


Sebagai seseorang yang cukup peka, Joshua tahu sejak awal jika Jeka menyukai Lisa. Waktu itu, Joshua memang tidak mengerti, mengapa Jeka seperti selalu mencari gara-gara pada Lisa. Kesimpulannya waktu itu sih, mungkin hanya untuk menarik atensi Lisa saja. Yang sebenarnya cukup sukses. Lisa jadi mengetahui bahwa ada mahluk yang bernama Jeka di kelasnya.


"Lisa udah pulang nak?" Itu suara Bunda. Saat Lisa dan Jeka sering bertemu dulu, Lisa sering di antar tiga orang yang berbeda. Dua perempuan dan satunya adalah laki-laki. Saat itu, Jeka tidak tahu mereka siapa. Namun ia ingat jika salah satunya adalah wanita yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Jeka, ini Bunda," ucap Lisa. "Bunda, ini Jeka. Anak pendek yang suka latihan sama Lisa pas SD dulu. Bunda inget?" lanjut Lisa sambil tertawa menggoda Jeka.


"Halo tante," ucap Jeka.


"Oh yang suka latihan di club dance SMA Pertiwi dulu ya?" Bunda menyambut salim dari Jeka. "Wahh, sekarang jadi makin ganteng. Kamu apa kabarnya?" tanya Bunda basa-basi.


"Baik tante," jawab Jeka tersenyum.


"Bunda tinggal dulu ya," ucap Bunda.


"Loh Bunda mau kemana?" tanya Lisa.


"Ke Pak Amin, sebentar kok. Joshua Bunda pergi dulu ya," lalu Bunda beranjak dari sana.


Joshua tersenyum geli. Ia yakin saat ini Jeka sedang mengira jika Bundanya adalah mama kandung Lisa. Ia menutup game-nya, lalu ikut masuk ke dalam obrolan Jeka-Lisa. Walaupun kebanyakan ia menjadi pendengar saja.


...****************...