
Vernon terlihat sangat fokus di balik kameranya. Seorang model sedang bergaya di depan kamera Vernon. Beberapa kali, sang model mencoba untuk membuka obrolan, namun Vernon hanya menanggapi dengan dingin dan sopan.
"Hei, lo pantang menyerah banget ya," ujar make up artis yang sedang memperbaiki riasan sang model, "udah tau Vernon kaku gitu, masih aja usaha,"
"Yah, siapa tahu aja gue lagi beruntung hari ini," jawab sang model. Lalu mereka pun tertawa berdua.
Sebenarnya Vernon sering mendengar percakapan serupa. Ia sudah terbiasa. Vernon biasanya memang tidak ingin terlalu dekat dengan orang-orang yang terlibat di dunia showbiz. Hal itu karena biasanya mereka memiliki banyak kepalsuan. Tapi, entah bagaimana, semuanya menjadi berbeda ketika itu adalah Lisa. Dan saat ini, Vernon sedang sangat merindukan wanita itu.
"Apa kabar dia?" gumam Vernon sangat pelan.
...***...
Di tengah-tengah kesibukan Lisa tentang sekolah dan dunia profesionalnya, Lisa menyempatkan diri untuk ikut orang tuanya survey beberapa lokasi yang rencananya akan menjadi salah satu cabang butiknya di Bandung.
Ayah Lisa sudah memilih beberapa lokasi yang paling baik dan strategis. Lisa hanya tinggal memilih saja. Anggaplah sekalian curi-curi liburan. Kesibukannya yang sangat padat membuatnya sedikit melupakan Vernon. Terlebih Vernon sendiri juga sudah lama tidak menghubunginya.
Ketika Lisa sedang memotret beberapa spot yang ia anggap menarik, itu membuatnya kembali teringat tentang Vernon.
"Apa kabar dia?" gumam Lisa sangat pelan.
...***...
Rose baru saja pulang setelah mengantar Ayahnya ke bandara. Mereka memang memiliki beberapa janji, salah satunya adalah kunjungan satu bulan sekali. Dan pertemuan ini adalah salah satunya.
Dalam perjalanan pulang, entah kenapa Rose teringat dengan Lisa. Rasanya ia memang sudah sangat lama tidak mendengar kabar gadis cantik itu. Bahkan info pemotretan dan modeling biasanya orang lain yang memberi tahunya.
"Halo,"
Rose sedikit tergagap ketika Lisa mengangkat teleponnya. Mungkin sebenarnya ia tak mengharapkan itu. Rose masih sedikit merasa sungkan dan canggung. Atas apapun yang telah ia lakukan dan betapa egoisnya ia. Sedangkan nuraninya, selalu ingin mengatakan maaf.
"Rose?"
"Ah, ya.. Hai, Lisa," Rose terdiam sesaat, "Apa kabar?"
Betapa bodohnya? Rose mengerang frustasi diam-diam. Sementara ia mendengar Lisa mengatakan betapa baiknya ia, dan Rose juga yakin, Lisa sedang mengatakannya sambil tersenyum. Hal itu tak lantas bisa menenangkannya.
"Lisa, lo, hm... Lo gimana sama Vernon?"
Setelah percakapan Rose dan Vernon di kelas waktu itu, tak membuat kondisi mood Vernon menjadi lebih baik. Maka, Rose yakin jika hubungan mereka masih buruk.
Sepertinya Lisa sedang mengernyit heran di ujung telepon. Semacam ingin bertanya, 'kenapa tiba-tiba Vernon?' tapi rupanya Lisa menjawab,
"Gak tahu. Gue lagi super super sibuk," ucap Lisa sembari sedikit tertawa kecil demi mencairkan suasana.
"Bahkan ini, gue lagi di Bandung," lanjut Lisa.
"Ngapain?"
"Survey lokasi, rencananya gue bakal buka cabang di sini,"
Rose mengangguk-angguk. Kini ia tahu, permasalahan yang ada pada hubungan Vernon. Kenapa ia memiliki teman yang sepengecut ini?
"Lisa, seperti yang udah gue bilang tentang bokap," Rose menjeda kalimatnya. Ia mendadak merasakan kembali ketidak relaannya.
"Kayaknya gue mau mutusin buat ikut bokap," Rose tahu jika Lisa akan mengerti hanya dengan kalimat ini. Ia masih tak ingin mengutarakan secara langsung.
Lisa terdengar menghembuskan nafasnya. Tampaknya ia sedikit lelah. Rose bisa mengerti itu.
"Baiklah, apa gue harus hubungi dia setelah ini?" Lisa sesungguhnya tak tahu, hubungan seperti apa yang ia miliki bersama Vernon. Semua nampak abu-abu bagi Lisa.
Rose tak bisa tidak kesal. Ia tahu betul jika seharusnya memang Vernon lah yang bergerak. Ia sendiri yakin, Lisa sedang bingung karena ia mendadak terlibat hal-hal yang seharusnya sangat jauh. Ya, dia dan Vernon telah dengan paksa menarik Lisa pada kehidupan pribadi mereka bahkan sejak baru pertama kali saling mengenal. Terlepas dari apa pun perasaan Lisa terhadap Vernon. Ia rasa itu adalah dua hal yang berbeda.
"Gue telepon Vernon sekarang," Rose mulai membulatkan tekadnya untuk membantu dua orang temannya ini. Ia mungkin akan mengabaikan rasa perihnya.
Bahkan tanpa persetujuan Lisa, Rose telah mematikan sambungan teleponnya. Tapi ia yakin Lisa akan mengerti.
...***...
"Kenapa sih, Rosie?" Vernon mengernyit heran kala ia mendapati Rose di depan pintunya dengan muka bersungut-sungut.
"Lisa nungguin telepon lo, bege," ucap Rose kesal.
Vernon pun terkejut. Tentu saja. Itu adalah kalimat yang tak pernah ia sangka. Bukan karena Rose, hanya saja ia tak percaya diri jika Lisa dan dirinya memiliki harapan.
Melihat Vernon yang malah terdiam cukup lama, membuat Rose gemas.
"Ver, mending lo ambil hp lo dan hubungi Lisa sekarang!" titah Rose.
Vernon menjadi tersadar kembali setelah ucapan Rose yang cukup keras. Ia berlalu menuju kamarnya, hp nya terletak di sana. Dengan cepat ia menghubungi Lisa.
"Halo,"
...***...
Lisa telah kembali sebelum matahari tenggelam. Ia memang tak berniat tinggal terlalu lama. Sesampainya ia di rumah, Lisa segera merebahkan tubuhnya. Lisa masih sibuk mencerna, apa yang Vernon katakan tadi. Ia senang, tentu saja. Tapi Lisa cukup terkejut juga.
Haruskah mereka bertemu malam ini juga? Rasanya Lisa tak terlalu lelah. Atau bilang saja, lelahnya hilang jika ini tentang Vernon. Dasar orang jatuh cinta.
'Vernon gue udah balik'
Pesan singkat itulah yang akhirnya Lisa kirimkan pada Vernon. Dan tak butuh waktu lama bagi Lisa untuk mendapatkan sebuah telepon dari laki-laki itu
"Ya," Lisa tak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Gue ke rumah lo setelah lima menit," Vernon juga perlu bersiap dan lima menit ia rasa sudah cukup lama.
...***...
"Hai,"
Vernon terlihat tampan. Lisa pun tersenyum menyambutnya di depan pintu. Sesuai janji yang mereka buat beberapa menit yang lalu, Vernon dan Lisa telah merubah tampilannya, masih santai namun mereka sungguh terlihat cantik dan tampan. Mereka telah memberikan yang terbaik malam ini.
"Udah siap?"
Lisa mengangguk. Tangan Vernon pun terulur meminta Lisa menyambutnya. Lisa tersenyum, dan itu terlihat sangat cantik di mata Vernon. Dan ketika akhirnya jemari mereka saling menggenggam, membuat Vernon merasa takjub. Ia memandangi tangan mereka yang bertaut selama beberapa detik. Kupu-kupu yang berterbangan di perut mereka, bahkan semakin tak bisa diam.
"Kita mau kemana?" tanya Lisa akhirnya.
"Gue bisa kemana aja asal sama lo,"
Lisa merotasikan matanya jengah, namun detik berikutnya ia tertawa juga. Vernon tersenyum saja melihat respon Lisa. Lalu tangannya bergerak mengusap kepala Lisa penuh sayang.
...****************...