SEVENTEEN

SEVENTEEN
Seungcheol - 2



"Lisa, lo kenapa gak mau ikut OSIS sih? Padahal pacarnya ketua OSIS," tanya Rose, ia ingin jika ada rapat OSIS seperti sekarang dia punya teman. "Kan enak bisa rapat sambil pacaran," goda Rose akhirnya.


Lisa sendiri malah mencebik heran dengan kalimat Rose. Baginya ikut OSIS hanya akan merepotkan dia saja. Padahal Lisa sendiri sudah sangat sibuk. Bagaimana pun dia adalah ketua club dance di sekolahnya. Selain itu masih ada ekskul paduan suara bersama Rose. Yang mana, di ekskul tersebut, Lisa dan Rose sering sekali diminta tampil mewakili sekolah ke berbagai acara di luar sekolah.


"Lisa," Seungcheol menghampiri Lisa di bangkunya. Ia nampak lega karena Lisa belum pulang. Ia bahkan sampai berlari dari kelasnya.


"Kenapa? Kok ngos-ngosan gini?" tanya Lisa.


"Takut kamu udah pulang duluan," jawabnya jujur.


"Aku ada rapat OSIS,"


"Udah tahu," sela Lisa. Lalu ia melirik ke arah Rose yang sedang bersiap untuk rapat. Seungcheol mengangguk paham.


"Kamu pulang naik gojek, aku pesenin dan aku anter ke depan gerbang, yuk," Seungcheol mengatakan itu semua layaknya sedang nge-rap.


"Ngapain repot-repot sih? Aku bisa sendiri," protes Lisa. Namun Seungcheol tak mau dengar.


Melihat Seungcheol yang mulai keras kepala lagi, Lisa meringis menatap Rose, "Kayaknya rapat lo bakal ketunda beberapa menit deh, mending lo ngantin," ucap Lisa tanpa dosa.


Seungcheol menjentikkan jarinya ke dahi Lisa. "Mana boleh kayak gitu," protesnya. Lisa hanya mengedikkan bahu. Ia melihat Seungcheol sudah mengotak-atik hpnya. Sepertinya ia sedang memesan gojek.


...***...


Lisa duduk di antara murid baru lainnya. Beruntung Lisa masuk ke ruang auditorium tepat waktu. Atau ia akan menjadi sasaran empuk kakak kelas yang saat ini berbaris di depannya. Seorang gadis bertubuh tinggi dengan rambut pirang duduk di samping Lisa. Mereka saling melempar senyum.


"Hai, gue Rose,"


"Lisa"


Mereka kembali saling melempar senyum. Acara perkenalan singkat mereka terpaksa dihentikan karena seseorang telah memasuki ruangan. Dia adalah kakak kelas yang terlambat bersama Lisa tadi pagi. Lisa pun merasa gugup. Bagaimana jika dia masih kesal dengan Lisa yang sempat melawannya tadi?


Tidak sesuai dengan dugaan Lisa, orientasi hari ini berjalan cukup lancar. Kegiatan mereka hanyalah perkenalan singkat tentang sekolah, tentang para guru juga mereka para OSIS yang memandu mereka selama kegiatan orientasi ini diselenggarakan.


"Kantin?" tanya Rose. Saat ini sudah masuk jam makan siang. Mereka akan istirahat sebelum kembali ke ruang auditorium. Rencananya akan ada sambutan kepala sekolah sebelum mereka dapat pulang.


"Lisa"


Seseorang memanggil Lisa. Lisa sendiri sudah merasa familiar dengan suara ini. Karena ia telah bertemu dengannya  beberapa kali dalam setengah hari ini. Mengetahui siapa orang ini, tentu saja membuat Lisa menjadi sedikit lebih gugup. Ia menoleh, dan mendapati kakak kelasnya berjalan ke arahnya.


"Lo kenal sama ketua OSIS?" Rose berbisik di telinga Lisa. Beruntung tinggi mereka sejajar, jadi Rose tak perlu terlalu mendongak atau menunduk. Lisa hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Lisa. Dan respon Lisa membuat Rose menjadi semakin bingung.


"Mau makan siang?" tanyanya. Lisa otomatis mengangguk.


"Belikan satu untukku," Seungcheol menyerahkan selembar uang kepada Lisa. Lalu ia berlalu pergi. "Oh ya, antarkan ke ruang OSIS ya," tambahnya sebelum benar-benar pergi."


"Wow, gue gak tahu ketua OSIS yang karismatik tadi punya sifat kekanakan kayak gini," Rose memandang takjub pada Seungcheol yang berjalan menjauh.


Lisa mencebik sebal. Ia berjalan dengan menendang kerikil yang tak bersalah. Lisa rasa, ia perlu menyalurkan amarahnya jika tak ingin itu menjadi penyakit hati.


...***...


"Gojeknya udah dateng tuh," Seungcheol melihat ke arah motor yang mendekat. Ia memastikan dengan mencocokkan plat nomor yang tertera di aplikasinya.


"Duluan ya," pamit Lisa setelah naik ke boncengan motor abang gojek. Ia melambaikan tangan ke arah Seungcheol saat motor mulai menjauh dari gerbang sekolah.


Sore ini Lisa harus tampil di sebuah acara dance yang di selenggarakan oleh club street dance. Club ini tidak ada hubungannya dengan sekolah Lisa. Hanya kebetulan Lisa mengenal ketuanya. Dan ia diajak untuk tampil. Sudah ku bilang jika Lisa ini sangat sibuk. Maka ia akan sangat berterimakasih jika tidak perlu ikut OSIS yang hanya akan menyita waktu santainya lebih banyak.


"Abaaangg," Lisa masuk rumah dengan memanggil kakak tercintanya. Mereka hanya tinggal berdua, sementara orang tua mereka sedang berada di Thailand. Ayah Lisa adalah seorang chef yang terkenal di sana. Mereka memiliki perusahaan F&B serta beberapa resto yang berada di Thailand, Indonesia dan Switzerland.


Rumah nampak sangat sepi. Lisa tidak melihat ada tanda kehidupan di sana. Lisa mengernyit heran. Abangnya sudah janji akan mengantarnya sore ini. Tapi kemana dia?


...***...


Seungcheol melihat di aplikasi gojek jika Lisa telah sampai ke rumahnya. Namun tak ada tanda-tanda Lisa akan menghubunginya. Hal itu membuat Seungcheol menjadi kesal. Dia sudah beberapa kali mengingatkan Lisa untuk segera mengabarinya jika telah sampai di tempat tujuannya. Seungcheol memang terlalu menyayangi Lisa sehingga harus selalu memastikan jika gadis itu baik-baik saja.


Melihat ketua OSIS mulai kehilangan fokusnya, wakil ketua OSIS pun mengambil alih rapat hari ini. Ia melanjutkan menerangkan ide-ide yang telah tertampung untuk acara HUT sekolah yang sebentar lagi akan mereka gelar.


Seungcheol pun izin sebentar untuk menelepon Lisa di luar ruang rapat. Ia segera beranjak pergi begitu sang wakil mengangguk. Taehyung, sang wakil OSIS, melihat punggung Seungcheol yang semakin menjauh. Ia menarik nafas pelan untuk meredakan kekesalannya karena Seungcheol selalu mengandalkan dirinya.


"Lisa,"


Tanpa salam atau basa-basi lainnya, Seungcheol sudah bersiap untuk mengomeli Lisa. Namun, gadis itu yang sudah sangat mengenal sifat pacarnya langsung memotong apapun yang ingin Seungcheol katakan.


"Aku lagi nyari Bang Ian, di rumah gak ada orang," Lisa mengatakannya sambil mengganti bajunya untuk latihan. "padahal dia janji mau anterin aku latihan dance," ucap Lisa masih menahan kesal.


"Yaudah, tunggu di rumah, aku ke sana sekarang," ucap Seungcheol akhirnya.


"Heh, kamu kan lagi rapat!" Lisa kaget dengan reaksi Seungcheol. Ia mengatakan itu bukan untuk membuatnya mau mengantarkan Lisa. Lisa hanya sedang berkeluh kesah.


"Cheory ya, abis ini aku telpon Bang Ian ya.. Masih ada waktu kok," ucap Lisa dengan lembut agar Seungcheol tak memarahinya lagi karena ia mungkin akan salah paham.


Seungcheol mendengus kasar, "kabari aku lagi nanti, mengerti?" ada nada ancaman di setiap kata yang Seungcheol ucapkan.


"Iya pacarku," ucap Lisa sengaja menggoda Seungcheol agar tak marah-marah selalu. Dan diam-diam Seungcheol tersenyum di lorong sekolah yang mulai sepi.


...****************...