SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 9



Seperti biasa, saat jam istirahat berdentang, maka kantin akan dipenuhi oleh sebagian besar siswa dan siswi yang ingin makan. Termasuk di antaranya ada Lisa, Rose dan juga Minghao. Mereka duduk di hadapan makanan masing-masing. Lisa dan Rose yang sibuk bergosip tentang beberapa  hal yang terjadi di sekolah mereka, sementara Minghao nampak khusuk mendengarkan celotehan dua gadis di hadapannya.


"Oh ya," Lisa tiba-tiba mengingat sesuatu, "gimana videonya?" tanyanya pada Minghao yang sedari tadi hanya diam menyimak.


"Masih diedit," jawab Minghao masih sibuk dengan makanannya, "aku baru selesai rekam lagunya," akhirnya ia menatap Lisa yang duduk tepat di depannya.


"Lagu apa? Video apa?" tanya Rose bingung. Sepertinya ia tertinggal banyak hal. Tidak ada yang menceritakan apa pun padanya tentang ini.


"Gue belajar genre dance baru hehe," jawab Lisa menutupi perasaan tersipunya. Entah kenapa, pengalamannya hari itu selalu berhasil mengepakkan sayap kupu-kupu di perutnya.


"Emang apa?" tanya Rose masih tak mengerti.


"Nanti juga tahu, Rose," Minghao menengahi. Ia tidak ingin Rose menggali lebih jauh dari ini. Ia tak ingin pertanyaan Rose malah menimbulkan kecurigaan Lisa yang sebelumnya dapat dihindarinya dengan baik. Maka sangat bijak baginya untuk mengakhiri kekepoan Rose ini.


Rose masih mengerutkan keningnya. Sangat terlihat jelas di wajahnya jika ia tak sabar untuk tahu lebih banyak. Bagaimana bisa ia ditinggalkan sendirian dalam ketidak tahuan? Ugh Rose rasa memang tidak ada yang bisa mengalahkan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Ia sebaiknya segera mengalah, atau ia akan menyesal menghadapi kemungkinan lovey dovey diantara mereka.


Sedangkan Lisa menghindari percakapan demi tidak membuat wajahnya semakin merah karena kenangan tentang sabtu lalu yang mulai membanjiri kepalanya. Dan Minghao sendiri masih ingin menyimpan rahasianya rapat. Entah karena apa. Mungkin ia takut. Meski ia juga tak tahu apa yang musti ia takutkan. Bukankah tingkahnya sekarang malah seperti seorang pengecut. Terdengar sangat bukan dirinya. Dan ia benci pada kenyataan ini.


***


"Lisa, lo beneran ga mau ngasih tau gue soal dance lo sama Minghao?" tanya Rose masih penasaran. Kini mereka telah ada di kelas. Tentu saja Minghao sudah tidak ada di antara mereka. Lisa menatap Rose jengah, anak ini kalau udah penasaran jadi lebih menyebalkan.


"Cuma cover dance-nya can i have this dance-nya high school musical. Lo tahu kan?" kata Lisa akhirnya.


Rose membulatkan matanya. Tentu saja ia tahu seperti apa dance yang dimaksud Lisa. Pantas saja tadi ia merasakan kecanggungan saat ia bertanya tentang ini. Rose kini lebih memahami sikap teman-temannya yang aneh beberapa saat lalu. Bahkan ia sendiri ikut tersipu membayangkan Lisa dan Minghao menarikan dance yang sangat romantis itu. Ah tidak hanya romantis, tapi juga sangat manis. Rose adalah fans disney sejati.


"Gue jadi pengen lihat," ucap Rose cemberut.


"Iya, nanti kalau videonya udah jadi ya," kata Lisa.


"Lah ngapain kalian rekam itu?" tanya Rose.


"Gak tahu ya, Minghao yang ngajakin. Gue sih seneng-seneng aja. Gue jadi punya dokumentasi dance cover gue kan," jawab Lisa asal.


"Iya juga sih," kini Rose bersemangat lagi. Ia juga ikut tak sabar akan jadi seperti apa jika dance itu dibawakan oleh Lisa dan Minghao.


"Kalian modifikasi gak dancenya?" tanya Rose sambil berbisik, ia masih kepo. Sementara seorang guru sudah memasuki kelas.


Lisa menggeleng, "Gue juga pengen yang versi originalnya sih, jadi ya," Lisa tersenyum yang dimengerti Rose juga. Mereka adalah gadis yang tumbuh bersama para pangeran disney. Tentu saja mereka tak akan merusak sesuatu yang memang sudah indah dan manis itu.


***


"Halo,"


Minghao segera menyapa seseorang yang ia telepon begitu panggilan mereka tersambung. Namun ada jeda sejenak, hingga suara dari ujung sana mengejutkan Minghao dari lamunannya.


"Lisa, ini videonya baru selesai satu, yang cover dance itu," ucap Minghao merasa sedikit ragu. Tapi mungkin tak apa, ini bisa menjadi alasan baginya untuk bertemu Lisa lagi. Sebisa mungkin ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Lisa.


"Aku kerumah kamu aja ya," Minghao mengatakannya begitu melihat jam di meja belajarnya yang masih menunjukkan pukul tujuh malam. Jarak rumah mereka tak begitu jauh. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit saja jika menggunakan sepeda motor.


Minghao segera bersiap begitu Lisa menyetujui ajakannya untuk bertemu. Ia melewatkan makan malam. Namun yang tak ia sadari adalah, perasaan ayahnya yang semakin merasa bersalah. Dan sikapnya dianggap sebagai bentuk protes atas sesuatu yang tak bisa sang ayah wujudkan. Minghao melupakan hal ini begitu saja. Pikirannya kini hanya penuh oleh Lisa saja.


"Nak," Sang ibu memanggil ketika Minghao sedang mengenakan sepatunya. Di dalam tasnya telah berisi laptop yang akan ia gunakan menonton bersama Lisa.


"Ma maaf ya, nanti Hao akan makan malam di luar bersama teman," ucapnya sambil mencium pipi sang ibu dengan sedikit terburu. Sang ibu hanya bisa menghela nafasnya. Ia menjadi pihak yang paling serba salah di sini. Ia tak bisa memihak pada keinginan suami atau anaknya. Dan melihat perasaan tak nyaman di masing-masing pihak malah semakin membuat hatinya sedih.


***


"Hao, aku terharu.." Lisa menutup mulutnya, ia menatap Minghao, "Bukankah kita berdua sangat keren?" kini Lisa tertawa bersama dengan Minghao. Kalimat yang sangat percaya diri itu tidak biasanya keluar dari Lisa. Hal itu mengejutkan bagi keduanya.


"Kita berdua sangat manis kan di sana?" tanya Minghao sambil menyendok nasi goreng yang tadi sengaja ia bawa atas permintaan Lisa. Kini ia sedang menikmati makan malam bersama Lisa di ruang tamu gadis itu.


"Aku sudah mirip sama Vanessa Hudgens ga?" tanya Lisa sambil mengedipkan mata berkali-kali.


"Kau bahkan lebih imut dan manis," ucap Minghao jujur. Lisa menjadi tersipu. Sebuah pertanyaan yang salah. Tapi ia tak menyesal. Lisa justru merasa sangat senang.


"Gimana lagu satunya?" tanya Lisa.


"Bentar lagi, aku kesulitan merekam suaraku," kata Minghao memberi alasan. "Ku rasa aku bukan penyanyi yang baik," ucap Minghao berusaha bercanda. Dan Lisa tertawa kecil.


"Aku jadi pengen denger kamu nyanyi deh," ucap Lisa memandang Minghao dengan tatapan berharap. Lisa berpikir betapa berbakatnya laki-laki di hadapannya. Adakah yang tak bisa ia lakukan?


"Mau aku nyanyikan sesuatu?" tanya Minghao dengan senyumnya. Lisa mengangguk dengan semangat. Tapi sayangnya Minghao menggeleng.


"Tidak, aku tak terlalu  pandai menyanyi, Lisa," Minghao menatap Lisa yang sedang cemberut. Lalu Minghao tertawa, "nanti juga kan bakalan denger," ucap Minghao mengalah.


"Baiklah," Lisa menghela nafas, "Mungkin menyanyi jadi satu-satunya kelemahanmu," Lisa tertawa jahil.


"Apa?" Minghao tak yakin dengan apa yang Lisa maksud. Lisa malah semakin tertawa melihat reaksi Minghao. Terkadang Minghao bisa menjadi sangat menggemaskan memang. Seperti adik kecil yang sangat manis. Tapi bukankah mereka seumuran? Ugh Lisa merasa tua sekarang.