SEVENTEEN

SEVENTEEN
PENSI (Pentas Seni)



Sedari pagi, suasana sekolah mulai riweuh. Semua orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Hari ini, puncak acara Pentas Seni. Para panitia dan semua orang yang terlibat bergerak cepat membereskan semua agar nanti malam semua berjalan lancar.


Tak hanya panggung tempat pertunjukan, mereka juga menyediakan booth untuk beberapa pelajar yang ingin menjual hasil kreasinya. Apa saja yang dipasarkan bermacam-macam jenis, dari makanan hingga hasil kerajinan tangan. Bahkan aksesoris dan pernak-pernik wanita pun ada.


Sebagian keuntungan dari penjualan, akan masuk ke kas sekolah untuk kegiatan amal atau kegiatan outdoor yang biasanya akan diadakan setahun sekali. Untuk itulah, booth diberikan secara gratis, peminatnya harus mengajukan proposal untuk mendapatkannya.


Rini mengelap keringatnya dengan tangan. Dia mengambil satu booth untuk berjualan snack dan minuman. Ada thai tea dan french fries sebagai menu andalannya. Ada juga makanan ringan sebagai pelengkap. Para peserta dan pengunjung, pasti akan merasa haus dan lapar selama acara berlangsung.


Gadis itu dengan teliti menyusun dan menumpuk barang jualann-nya di meja. Setelah selesai semua, dia akan istirahat sebentar. Mandi dan berganti pakaian di toilet sekolah. Untunglah kamar mandinya bersih. Perlengkapan mandi dan lainnya, sudah dia persiapkan dalam tas.


Semua panitia harus standby di lokasi acara dari awal sampai selesai. Syukurlah, bapaknya memberikan ijin, dengan syarat tertentu. Bapak yang tadi pagi mengantarnya ke sekolah. Memantaunya sebentar saat mulai mengerjakan booth kemudian pulang. Syarat terakhir adalah malam nanti, gadis itu harus sudah pulang maksimal jam sepuluh malam. Selesai atau tidaknya acara.


Gadis itu menyanggupi. Terpenting setelah acara ini, mungkin dia tidak akan lagi menjadi panitia dalam kegiatan apa pun. Kapok, capek. Makan hati, terutama saat berhubungan dengan lelaki itu.


"Hei." Tampak seorang anak lelaki menghampirinya. Rini menoleh, dan mendapatkan si abang dengan senyum manisnya, sembari tangannya menyodorkan sebotol air mineral.


"Makasih, Bang." tangannya terulur mengambil. Kemudian berusaha membukanya. Ternyata susah juga. Mungkin karena tangannya berkeringat, jadi terasa licin. Biasanya juga gampang saja. Apa karena nervous juga?


"Sini, gue bukain." Si abang meraih botol. Tak lupa tangannya sengaja disenggolkan sehingga jemari mereka bersentuhan.


"Eh." Rini membuang muka. Si abang malah makin menjadi, menggenggam tangannya. Gadis itu merasa jengah. Dia berusaha melepaskannya.


"Kamu kenapa sih?"


"Abang mau bukain tutup botol, atau?"


Belum sempat si abang menjawab, terdengar suara seorang batuk.


Uhuk!


Mereka menoleh, kemudian serentak membuang muka saat melihat siapa yang sedari tadi diam-diam memperhatikan.


"Rin. Gue ke kantin dulu yak. Haus." Maya berjalan berpamitan.


"Belom kelar nih. Bantuin dulu napah." tampak kekecewaan di raut wajahnya. Belum selesai malah mau pergi. Katanya Maya mau nolongin semua sampai rapi.


"Gerah gue, berasa obat nyamuk." Maya tertawa geli melihat tampang sahabatnya yang polos itu.


"Obat nyamuk apaan? Aku ga ada beli."


"Etdah, kagak ngerti juga dia." Maya berkata dalam hati, sembari menahan tawa. Geli.


Sementara si abang tersenyum-senyum sambil memberikan kode supaya Maya segera menyingkir. Sedari tadi dia sudah ingin mendekati gadis itu. Hanya saja bodygurad-nya ngeri. Jangkung, hitam dan berkumis lebat. "Calon mertua, sangar beud." Si abang membatin.


"Udah dulu ya. Lu di temenin si BangKe aja." Maya berteriak sambil berlalu.


BangKe? Dasar mereka berdua ini. Si abang hanya menggelengkan kepala. Awas saja, tunggu pembalasan dari gue.


"Sini, gue bantuin. Lu mau nyusun apa lagi?" Dia menawarkan diri. Kasian juga si mungil ini. Kecil body-nya, tapi malah harus mengangkat kardus.


"Ga usah, Bang. Udah kelar kok."


"Tadi katanya belum."


"Nanti aja dibantuin Maya. Abang kan sibuk, banyak kerjaan lain."


"Engga kok. Udah beres kerjaan gue. Pengen sama lu aja."


Ayey! Gombal nih.


"Ya udah, abang tolong susun snack ini aja di meja." Rini membuka kardus. Merobek perekatnya dengan cutter.


Si abang semakin senang. Berhasil nih. Pelan-pelan saja ya, tidak usah terburu-buru.


Berdua merek asyik meletakkan satu persatu barang-barang di meja. Rini memberikan perintah di mana posisinya. Si abang hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, sambil tangannya bekerja.


Sesekali menyenggolkan bahunya. Sengaja menggoda.


"Apaan sih, Bang?"


"Kagak. Iseng aja gue "


"Diliatin yang laen, ga enak tau."


"Tau apaan?"


"Taulah."


"Ih, ga jelas."


"Kalau deket lu, emang hawanya begitu gue."


Gadis itu terdiam dan merona. Sesekali pandangan matanya melirik ke depan atau ke samping kiri kanan. Ternyata banyak para murid lain yang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik kemudian tertawa.


Si BangKe memang benar-benar deh.


"Lu kok ngambil booth sih? Ga capek apa nanti melayani pembeli."


"Hasilnya lumayan, Bang. Bisa buat nambah bayar uang sekolah. Sama aku mau nabung dikit."


"Bukannya, lu dapet beasiswa?"


"Iya, tapi tetap aja aku butuh."


"Bokap lu?"


"Buat berobat ibu. Butuh biaya banyak. Makanya aku suka cepat pulang, jarang main. Jagain ibu di rumah."


Oh, kini dia mengerti. Mengapa sikap orang tua Rini begitu ketat. Gadis ini punya tanggung jawab, tidak hanya sebagai murid di sekolah tapi juga bakti kepada orang tua di rumah.


"Kalau ada apa-apa lu cerita ya. Gue siap bantu. Ga usah sungkan." si abang kembali memegang tangannya.


Rini dengan sedikit kasar menariknya.


"Maaf, Bang. Bukan mahram."


Ya Salam.


* * *


Ku akui, ku main hati. Ku main hati, ku main hati...


Ku tak bisa tuk memungkiri, ku main hati....


Bersamamu ku rasakan, Yang tak pernah kurasakan sebelumnya....


Pencarianku berakhir, karna ku tlah temukan,


Dirimu....


Semua ikut bernyanyi. Larut dalam lirik dan nada lagu itu. Para pengunjung sangat antusias dengan adanya group band ini sebagai salah satu pengisi acara.


Terbaek memang. Tidak salah panitia menghadirkannya sebagai hiburan penutup. Para pengunjung merasa betah dan memilih untuk bertahan hanya untuk menyaksikannya.


Tiba-tiba panggung menjadi hening. Sesesorang naik keatas panggung. Mengambil microphone dan berkata dengan lantang


"Gue mau ucapkan makasih banyak kepada kalian semua atas bantuannya sehingga acara ini berjalan lancar dan sukses."


Pengunjung bertepuk tangan dan bersorak riuh. Sebagian bersuit-suit tanda berterima kasih kepada panitia.


"Sebagai penutup, gue pengen nyanyi. Lagu ini buat cewek yang pake baju biru di ujung sana." Dia menunjuk seseorang.


Panggung menjadi gelap. Lampu sorot mengarah ke tempat yang tunjuk oleh si lelaki tadi.


Semua mata berpaling. Gadis itu, yang di hadiahkan lagu, malah tidak menyadari sama sekali bahwa dialah orang yang di tunjuk. Dia malah asyik bermain handphone karena orang-tuanya sudah meminta untuk segera pulang.


Lagu dinyanyikan dengan cantik. Suara lelaki itu sangat merdu. Banyak yang tidak menyangka jika dia bisa bernyanyi.


Si gadis masih saja terus mondar-mandir hingga lagu itu selesai di nyanyikan. Benar-benar tidak menyadarinya sama sekali.


Siapa gadis itu?


Siapa pula lelaki yang bernyanyi tadi?