SEVENTEEN

SEVENTEEN
Joshua - 8



Semenjak hari itu, Lisa dan Jeka menjadi lebih akrab. Joshua memang tidak setiap hari menjemput Lisa. Karena rumahnya yang berlainan arah dengan Lisa. Makanya, pagi ini ia melihat Lisa berangkat sekolah bersama dengan Jeka. Joshua menarik nafas kesal.


"Waahhh.." Rose bingung dengan pemandangan Lisa dan Jeka tanpa adu mulut.


"Akhir-akhir ini gue liat, lo jadi makin akrab sih sama Jeka?" tanya Rose pengen denger gosip.


"Ternyata dia ga terlalu rese aja sih," jawab Lisa asal.


Rose hanya ngeliat Lisa aneh. Ia melihat Joshua datang dan langsung duduk di bangkunya. Biasanya walau ga berangkat bareng, Joshua pasti nyapa Lisa dulu.


"Lo marahan sama Joshua?" heran Rose.


"Engga," jawab Lisa heran. "Kan kemaren juga masih pulang bareng," lanjut Lisa.


"Lis, gue sih ya, bakalan lebih milih Joshua ketimbang Jeka," tiba-tiba Rose berbisik kalimat yang menurut Lisa aneh.


"Milih apanya sih?" tanya Lisa ga ngerti. Rose hanya mengedikkan bahu. No spoiler kawan. Begitu batin Rose.


...***...


"Shua ya," Lisa memanggil begitu telepon tersambung.


"Kangen tau," lanjut Lisa.


Di seberang telepon, Joshua sedang tersenyum getir. Akhir-akhir ini, entah bagaimana mereka menjadi semakin terpisah. Ia tidak bermaksud menghindari Lisa. Tapi selalu saja ada hal yang membuat mereka menjauh.


"Shua ya," suara Lisa terdengar lemah.


"Kalau aku lagi down banget, senyum kamu tuh udah kayak charger buat aku," Joshua memperhatikan kalimat Lisa, kata per kata.


"Tapi, Shua ya," kali ini suara Lisa terdengar sedikit merengek.


"Gimana sama kamu? Apa yang nge-charge kamu?" Lisa terdengar parau.


"Seberapa kuat hati kamu?" Lisa sedih, menyadari selama ini selalu Joshua yang menghiburnya. Setelah sekian lama hubungan mereka berjarak, Lisa menyadari betapa ia sangat bergantung pada Joshua. Perasaannya yang rindu namun juga sakit tak pernah Lisa mengerti. Mendadak, Lisa merasa takut kehilangan Joshua.


"Aku ke rumah ya," kata Joshua lembut.


"Udah jam dua belas, Josh," larang Lisa.


"Ga apa-apa, sekalian nginep," jawab Joshua sembari siap-siap.


"Ati-ati ya.." Lisa mengingatkan dengan nada sedikit ditekankan. Ia tak mau Joshua kenapa-kenapa kan.


Lisa duduk di ruang keluarga, ia sibuk melirik ke arah jam dinding. Sesekali ia melihat ke arah pintu. Entah kenapa ia merasa tidak tenang. Lisa tak sanggup memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi pada Joshua, namun dia cemas sekali.


Malam memang sudah cukup larut. Suara-suara yang ada menjadi lebih mudah terdengar di telinga Lisa. Begitu pula dengan suara kendaraan yang berhenti di depan rumahnya. Lisa yakin, suara itu terdengar dari luar pagar. Jika itu Joshua, biasanya ia akan langsung parkir di depan rumah Lisa, bukan di luar pagar. Benar saja, saat Lisa membuka pintu rumahnya, itu adalah Jeka.


"Eh Jeka, ngapain?" tanya Lisa.


"Nganterin ropang," jawab Jeka sembari mengangkat bungkusan di genggamannya. Lisa yang pikirannya sedang penuh oleh Joshua sedikit gak fokus. Ia hanya berdehem dan mengucapkan terimakasih sekenanya.


"Udah ngantuk ya?" tebak Jeka.


Saat yang bersamaan, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Lisa. Itu adalah mobil Joshua. Lisa menjadi antusias. Ia segera menyambut Joshua dengan senyumannya. Dari dalam mobil, Joshua juga tersenyum padanya.


"Hai," Joshua menyapa Lisa setelah menutup pintu mobilnya. "Jeka ngapain?" bisik Joshua. Ah Lisa lupa jika masih ada Jeka di sini.


"Je mau masuk dulu?" tawar Lisa basa-basi.


Jeka sendiri melihat aneh ke arah Joshua. Pemandangannya terlihat seperti seorang istri yang menyambut pulang suaminya. Ia pun merasa menjadi nyamuk sekarang.


"Joshua ngapain malem-malem ke sini?" tanya Jeka pada Lisa. Joshua mendengarnya, namun pura-pura tidak tahu. Ia masih berdiri di sana, bersandar pada dinding samping pintu rumah Lisa.


"Joshua mau nginep di sini," jawab Lisa jujur apa adanya. Sudah bisa dipastikan Jeka kaget.


Mendengar suara-suara di luar, Mama Lisa pun keluar buat liat ada apa. Ia membuka pintu dan mendapati anaknya bersama dua anak laki-laki. Suasananya terasa canggung dan aneh.


"Lisa," panggil sang Mama.


"Eh Ma, ini kenalin temen Lisa, Jeka," ucap Lisa. "Dia tuh yang dulu lomba dance sama aku pas SD itu Ma, yang lombanya di SMA Pertiwi itu. Mama inget ga?" lanjut Lisa.


"Oh ya ampun, apa kabar kamu nak?" sapa Mama Lisa ramah. "Ini kok pada ke sininya malem-malem banget?" tanya Mama Lisa bingung.


"Yang kemarin itu Mamaku," Joshua yang mengerti kebingungan Jeka, menjelaskan padanya.


Ha?!


Jeka semakin kaget. Apa hubungan Joshua dan Lisa ini? Mama Lisa yang melihat kebingungan dan kecanggungan di antara mereka menengahi.


"Ini udah malam nak, mungkin kita bisa lanjut ngobrol nya besok aja gimana?" tawar Mama Lisa.


"Ah, iya maaf tante. Tadinya aku cuma mau nganterin ropang aja ke Lisa. Ga niat lama-lama juga," ucap Jeka sembari pamit pada semua orang.


"Joshua nginep?" Lisa yang mengangguk. Ia pun menggandeng Joshua untuk segera masuk ke rumahnya.


"Mama mau ropang?" tanya Lisa setelah di dapur.


"Mama ngantuk nak," jawab Mama Lisa sambil menggeleng. "Josh, Mama tinggal tidur ya," Joshua mengangguk sambil tersenyum.


"Mau makan ropang dulu?" Joshua menggeleng.


"Aku ke sini bukan buat makan ropang, tapi karena tadi ada yang nelepon bilang kangen," ucap Joshua masih tersenyum.


"Hehe," Lisa menyimpan ropang ke kulkas.


"Kamu kemana aja?" tanya Lisa sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Joshua.


"Ada kok," Joshua menghela nafas.


"Lisa," Joshua menarik tangan Lisa untuk duduk berhadapan dengannya.


"Menurut kamu," Joshua bingung merangkai kata. "Emm, Lisa, aku," Joshua mengubah kalimatnya lagi. Ia mendadak kelu. Lisa malah semakin bingung.


"Joshua mau bilang apa?" tanya Lisa sembari menatap mata Joshua, favoritnya.


"Kita pacaran aja ya?" tanya Joshua tanpa basa-basi lagi.


"Kamu tadi nanya, apa yang jadi charger aku kan?" lanjut Joshua. "Charger aku itu kamu. Asal sama kamu, energiku selalu penuh lagi," Joshua mengusap kepala Lisa lembut.


Lisa kaget. Tapi ia juga seneng. Kecemasan yang Lisa rasain tadi, membuatnya sadar jika Joshua sangat penting dalam hidupnya. Sepertinya ia memang menyayangi Joshua lebih dari sekedar sahabat.


"Tapi aku punya syarat," ucap Lisa serius.


"Apa itu?" tanya Joshua heran.


"Kita jangan pernah putus ya.." ucap Lisa sungguh-sungguh. Joshua tersenyum dan menarik Lisa ke dalam pelukannya.


"Apa perlu setelah lulus SMA kita langsung nikah aja?" gurau Joshua, yang disambut pukulan pada dadanya. Joshua pun tertawa. Dalam hati ia berdoa agar tak pernah dipisahkan dari Lisa.


...***...


Pagi itu, Lisa dan Joshua berlarian bersama menuju kelas. Mereka berdua nyaris terlambat karena tidur terlalu malem. Sampai di kelas mereka tertawa-tawa, lalu berpisah menuju bangku masing-masing.


Jeka melihat pemandangan itu dengan kesal. Hari ini sepertinya akan berjalan dengan penuh kedongkolan. Begitulah batin Jeka.


"Lisa," Jeka mendahului Joshua. Ia diuntungkan dengan jarak bangku yang lebih dekat dibanding Joshua.


"Kenapa Je?" tanya Lisa sambil memasukkan uang ke sakunya. Ia memang berencana jajan ke kantin, ia lapar karena tak sempat sarapan.


"Kamu sama Joshua ada hubungan apa sih?" tanya Jeka.


"Pacaran," jawab Lisa polos.


Jeka terkejut. Jadi benar mereka memang pacaran? Tapi kenapa beberapa hari terakhir, ia bisa dekat dengan Lisa? Seolah sedang mendapat harapan palsu, Jeka merasa perih di hatinya.


"Kalau emang punya pacar, kenapa masih boleh berangkat sekolah bareng aku? Kenapa," kalimat Jeka terputus.


"Karena aku gak mau terlalu posesif Je. Aku pengen menghargai masa lalu kalian," jawab Joshua. Jeka berlalu dari sana. Perasaannya sedang kacau. Jadi untuk apa dia bela-belain pindah pas kelas tiga jika hanya untuk mendengar berita ini?


Lisa dan Joshua yang melihat Jeka pergi hanya menatap datar. Memang tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu Jeka meringankan perih hatinya. Joshua pun tersenyum ke arah Lisa,


"Yuk kantin, keburu jam istirahatnya abis," Mereka bergandengan tangan menuju kantin.


...******* TAMAT *******...