
"Ada apa?"
Minghao akhirnya bertanya juga. Lisa menoleh padanya, dan mendapati senyum Minghao yang manis dan terlihat baik hati itu. Ia tersihir.
"Hei," Minghao menepuk puncak kepala Lisa perlahan, karena Lisa tidak segera menjawab pertanyaannya.
"Menurut kamu, apa yang kurang dari tampilan kita?" tanya Lisa akhirnya.
Minghao mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat apa saja yang terjadi selama latihan tadi. Ia yakin, chemistry mereka seharusnya sudah bonding sejak semalam. Namun, memang ada yang aneh dengan mereka hari ini.
"Apa kamu selama latihan memikirkan sesuatu?" tanya Minghao.
"Engga juga sih," Lisa menunduk, "Tapi jujur aja aku malu," ketika dance berpasangan, jarak mereka memang cukup dekat satu sama lain.
Minghao mengangguk paham. Masalahnya bukan chemistry, tapi rasa sungkan Lisa padanya.
"Lisa percaya sama aku gak?" tanya Minghao.
Lisa menoleh, ia menatap aneh pada teman barunya itu. Ia heran, kemana arah pertanyaan Minghao?
Minghao tersenyum melihat Lisa yang kebingungan, "Lisa, aku pengen kamu percaya sama aku," Minghao kembali melirik Lisa di tengah konsentrasinya menyetir.
"Mungkin emang aneh, karena kita baru kenal kemarin. Tapi, dicoba pelan-pelan ya,"
Lisa memikirkan kalimat Minghao. Ia pun menyadari sesuatu yang salah di antara mereka. Bahwa Lisa memang masih memiliki rasa sungkan, sehingga ia tanpa sadar memberi jarak pada hubungan ini.
"Kamu capek gak kalo kita makan malam bareng hari ini?" kini Lisa yang mencoba berinisiatif. Dua hari terakhir ini menjadi hari-hari penuh senyum bagi Minghao. Entah mengapa, Lisa selalu berhasil menerbitkan senyumnya.
"Ayok, jam tujuh ya," itu artinya Minghao hanya sempat pulang sebentar banget sebelum harus berangkat kembali ke rumah Lisa.
"Beneran gak akan capek?" tanya Lisa, ia sedikit khawatir.
"Aku kuat kok," Minghao kembali tersenyum.
...***...
Lisa dan Rose duduk di sebuah kafetaria. Mereka tampak sangat lelah. Tak jauh dari mereka, terlihat Minghao membawa nampan berisi pesanan mereka.
"Kayaknya udah paling bener yang pertama tadi aja deh," Rose menyarankan pada Lisa. Lisa mengangguk setuju.
"Agak mahal sih, tapi ya udahlah," jawab Lisa pasrah.
Minghao ikut duduk di hadapan Lisa. Ia membagikan minuman sesuai pesanan masing-masing.
"Jadinya yang pertama tadi aja?" tanya Minghao memastikan apa yang ia dengar tidak salah. Ia sungguh takjub dengan para perempuan yang berbelanja. Bagaimana mereka bisa membandingkan pada setiap toko, lalu pada akhirnya akan tetap kembali pada pilihan pertama.
"Agak di luar budget sih," dengus Lisa.
Mereka sedang mencari outfit untuk mereka pakai di pensi nanti. Dan karena ini tampil di sekolah lain, mereka lebih memperhatikan tampilan mereka. Mereka tak ingin tampil memalukan di hadapan orang lain kan.
"Abis ini kita langsung ke sana aja, terus kita cari tempat yang lebih adem sekalian makan siang. Aku yang traktir," Minghao berusaha menghibur kedua teman barunya ini.
"Minghao memang yang terbaik," Rose menjawab dengan senang.
"Gimana persiapan dance kalian?" tanya Rose sedikit memecah kesunyian.
"Semuanya udah okay,"
Mereka sengaja latihan tertutup. Bahkan Rose sendiri belum pernah melihat tampilan mereka. Katanya biar jadi kejutan. Apalagi seorang Lisa yang baru pertama kali melakukan dance berpasangan seperti sekarang. Ini menjadi marketing yang baik, banyak murid dari sekolah mereka yang berniat menonton penampilan mereka nanti. Anggap saja supporter gratis.
...***...
Minghao turun dari mobil. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengantar Lisa sampai depan pintu. Kadang bahkan ia sempat menyalami orang tua Lisa sebelum berpamitan. Sungguh anak yang sangat baik.
"Malam ini istirahat ya, biar besok bagus staminanya," ucap Minghao di depan pintu rumah Lisa.
"Kamu juga," Lisa tersenyum.
Minghao menepuk kepala Lisa lembut. Dia sangat cantik. Bahkan setelah lepek seharian keliling pasar. Ini membuat Minghao tersenyum. Lisa sendiri sudah berdebar tak jelas mendapatkan perlakuan lembut oleh Minghao. Badan Minghao yang menjulang di depannya, memudahkannya menutupi rona merah di wajahnya.
"Aku pulang ya," pamit Minghao akhirnya yang dijawab Lisa dengan anggukan.
"Hati-hati,"
...***...
Lisa dan Minghao tampil saat masih cukup pagi. Namun, anak-anak sekolah Lisa sudah berdatangan. Tampilan mereka disambut dengan riuhnya tepuk tangan penonton. Dan tentu saja Rose, suporter utama di barisan depan. Ia bahkan tak berhenti meneriakkan nama Lisa dan Minghao bergantian.
Saat intro lagu faded berputar, Lisa dan Minghao telah berdiri di atas panggung. Lisa mengenakan make up tipis. Ia nampak sangat cantik. Rambunya bergelombang dengan beberapa hair pin di sisi kanannya. Minghao sendiri nampak sangat tampan dengan kemeja yang hanya dimasukkan separuh.
Penampilan mereka cukup intens. Tatapan mata, ekspresi, gerakan yang sangat dekat satu sama lain, membuat nafas penonton tercekat. Mereka merasakan rasa sakit, kehilangan dan rindu yang terpancar antara Lisa dan Minghao. Koreo yang kuat juga menjadi daya tarik yang membuat para gadis memekik takjub, berdebar dan terharu menjadi satu.
Namun, saat lagu berubah tone. Musik itu menjadi lebih ceria dengan masuknya intro lagu attention. Minghao sempat mundur ke belakang lapangan. Ia digantikan dengan beberapa penari latar. Lalu, senyum Lisa terbit saat menjelang reff. Lompatan kecil Lisa mengundang teriakan. Dan ketika Minghao kembali ke panggung lalu menari bersama Lisa, dengan senyuman yang sangat manis, dibumbui lirikan atraktif dari Lisa membuat penonton semakin histeris.
Tampilan mereka sangat sukses. Penonton bergemuruh mengiringi mereka turun panggung. Rasanya kurang panjang. Mereka bahkan sudah ingin menonton ulang tampilan mereka. Rose bahkan telah menangis sepanjang penampilan sahabatnya. Ia merasa sangat bangga. Bahkan orang-orang yang tak mengenal Lisa dan Minghao juga merasakan euforia itu. Nama Lisa dan Minghao menjadi perbincangan sepanjang hari itu. Bahkan mungkin untuk seminggu ke depan.
"Capek?" Minghao mengelap lembut keringat yang muncul di dahi gadis itu.
Lisa mengangguk dengan senyuman yang lebar. Ia tak menyangka akan mendapatkan sambutan yang seantusias ini. Mereka berhasil. Ia telah melewati semuanya. Ini berkat Minghao.
"Terimakasih," ucap Lisa mulai berkaca-kaca, "semuanya berkat kamu"
"Kamu juga bekerja keras," Minghao tersenyum manis. Ia menyerahkan sebotol air mineral pada Lisa. Mereka berencana istirahat sebentar sebelum mencari Rose.
Namun rupanya Rose lah yang tak sabar menyusul mereka ke back stage. Ia menghambur dalam pelukan Lisa. Ia telah menangis. Betapa ia sangat bangga. Sahabatnya sungguh keren.
"Gila lo keren bangeeettt," Lisa terbahak mendengar ucapan Rose.
"Gue doang yang keren? Minghao nya enggak?" tanya Lisa mengalihkan topik agar tangisnya tak pecah lagi.
"Minghao juga keren banget," Rose melepaskan pelukan Lisa untuk menatap Minghao, "Kalian berdua pecah banget, gila," Rose terlihat sangat antusias.
Mereka berdua pun tertawa. Dan terimakasih untuk dukungannya juga. Lalu mereka beranjak keluar. Mungkin mereka akan membeli beberapa cemilan sambil melihat-lihat pensi ini.
...****************...