
Tak seperti biasanya, hari ini Minghao sengaja membawa laptopnya ke sekolah. Ada sesuatu yang sedang ia kerjakan. Ia harus segera menyelesaikan itu. Karena mungkin itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling berharga yang akan ia bawa kemana pun ia akan pergi.
Beruntung, hari ini ada beberapa mata pelajaran yang kosong. Bahkan saat jam istirahat, ia absen ke kantin. Padahal ia selalu ingin menhabiskan waktu yang lebih banyak dengan Lisa, salah satunya adalah kegiatannya di jam istirahat. Kali ini, ia merasa hal yang sedang ia kerjakan lebih penting.
Minghao terlalu sibuk dengan laptop-nya, hingga ia tak sadar beberapa pesan masuk di ponselnya. Pesan dari Lisa. Lisa sendiri sedikit merasa cemas. Ia takut jika Minghao mungkin kelelahan karena mereka pulang dari Bandung terlalu larut. Dan tak seperti biasanya, istirahat kali ini Minghao tak menghampirinya.
Minghao menarik nafas panjang ketika ia mendengar bel pulang berbunyi. Ia melihat ponselnya dan melihat belasan pesan dari Lisa dan beberapa dari Rose. Ia mengerti jika kedua temannya akan mencemaskannya. Ia sedikit merasa bersalah karena terlalu sibuk sehingga lupa dengan ponselnya. Ia membalas pesan-pesan tersebut sebelum kembali berkutat pada laptopnya. Ia merasa pekerjaannya akan segera selesai, sedikit lagi. Lalu ia akan segera pulang ke rumah.
***
"Jadi ada yang ingin dibahas sama Ayah?"
Ayah Minghao bertanya begitu makanan di piring mereka tandas. Minghao nampak merenung sebentar. Apa yang harus ia tanyakan, bisakah ia meminta untuk tinggal. Rasanya itu permintaan yang mustahil. Ia memang tidak memiliki hal yang ingin ia katakan. Hanya saja rasa enggan terlihat jelas di wajahnya. Dan sang Ayah bisa melihat itu. Oleh karena itu ia bertanya.
"Apa aku bisa tinggal?"
Minghao memberanikan diri untuk menatap mata ayahnya. Ini adalah pertama kalinya ia mengungkapkan apa yang ia inginkan pada ayahnya. Selama ini, ia cenderung menjadi anak yang penurut. Lagi pula apa pun yang diminta ayahnya belum pernah bertentangan dengan apa yang ia inginkan. Jadi ia menjalani semuanya dengan biasa saja.
"Kenapa?" tanya sang Ayah singkat.
"Ini bahkan belum genap dua bulan, ayah," Minghao mencoba memberi alasan yang masuk akal, "aku merasa sedikit lelah jika harus memulai dari awal lagi,"
Sang ayah mengangguk. Ia bisa sepenuhnya memahami apa perasaan sang anak. Memang terasa melelahkan. Bahkan ia tahu jika sang anak bahkan tak pernah memiliki teman. Namun, banyak pertimbangan lain yang tentu saja membuatnya berat hati. Bagaimana pun, Minghao adalah anak satu-satunya yang ia miliki. Bukankah itu membuatnya terlalu berharga?
***
Minghao kembali menghadap laptopnya. Ia melanjutkan apa yang sudah ia kerjakan bahkan sejak semalam. Kepalanya sedang dipenuhi dengan berbagai macam ide dan inspirasi yang mengalir dari apa yang ia rasakan. Semuanya ingin ia tuang di sana.
Tanpa terasa ini sudah masuk waktu tengah malam. Minghao meregangkan tubuhnya. Akhirnya selesai juga. Namun, perjalanannya masih panjang. Masih banyak hal yang harus ia lakukan sebelum waktunya berakhir.
Masih belum berniat untuk tidur, ia melanjutkan duduknya. Kini ia membuka halaman lain dari layar laptopnya. Ia mengetikkan beberapa kata yang lahir dari dalam hatinya. Lahir dari perasaan yang terus menghantui dua malam terakhir. Perasaan rindu yang tiba-tiba merebak, menghantam Minghao hingga sesak.
Hai Lisa..
Di sana aku berbaring dengan tenang di langit yang bertaburan bintang
Gelombang tak beraturan yang tanpa sadar mengikuti angin,
Ini seperti mimpi,
atau benar ini mimpi?
Tidur nyenyak ini membuatnya begitu akrab
Aku sudah terlalu lama hanyut,
Sehingga tak dapat lagi melihat ujungnya
Saat musim dingin tiba,
Senyum orang-orang disembunyikan oleh syal mereka
Aku rindu menjadi seberkas cahaya dan membelai wajahnya
Di saat bunga mekar dan berekspresi,
Langit berwarna biru transparan menyerupai matanya
Siluet dari bayangan dan pantulan dunia tersimpan di dalam kepala ku
Jangan berhenti..
Mendengarkan deburan ombak yang menerpa bebatuan secara berdampingan seperti bisikan telingaku
Terkadang terlalu ceroboh,
Terkadang terlalu berhati-hati,
Seakan mereka takut aku akan terbangun dari mimpi ini
Bawa aku bersamamu untuk pergi menemukannya,
Berapa banyak langkah yang harus berada di bawah kakiku
Mulai hari ini matahari dan bulan akan terus bersama
Di sebelah kota ada lautan,
Kita ganti kata dengan pelukan kita
Bawa aku bersamamu untuk pergi menemukannya,
Milikku satu-satunya,
Senyumku,
Air mataku,
Dan nafasku
Kastil abadi dan pulau yang sepi,
Semuanya sepi tanpa peringatan
Aku bisa mencapainya
Agar bisa menghalangi ombak untuknya,
Aku harus menjadi menara setinggi apa?
Laut menahan matahari yang terbenam,
Kota yang diselimuti warna malam bersinar dalam kegelapan pekat
Siluet dari pantulan bayangannya terukir di hatiku
Aku bisa mencapainya..
Apakah bisa?
(Lirik lagu solo The8 berjudul Hai Cheng)
***
"Lisa,"
Minghao berlari menghampiri Lisa yang sudah bersiap untuk pulang. Lisa berhenti sejenak untuk menunggu Minghao mendekat. Kemarin ia sama sekali tak melihat Minghao, akhirnya ia bertemu dengannya lagi. Tadi saat jam istirahat, Minghao juga tidak menghampirinya seperti biasa. hal itu membuat Lisa sempat berfikir macam-macam. Itu tidak menyenangkan.
"Mau pulang?" Minghao langsung bertanya begitu jaraknya dengan Lisa sudah dekat, "Ada waktu? Aku memiliki koreo baru, mau membantuku?"
Lisa sempat menunjukkan wajah bingung. Memangnya ada acara apa? Ah atau mungkin ini memang kebiasaan Minghao untuk membuat koreo dan menari. Yang ia tahu, Minghao memang suka sekali menari. Sama dengan dirinya. Maka tanpa berpikir panjang, Lisa mengiyakan ajakan Minghao. Mereka berjalan bersama menuju ruang latihan dance. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal latihan, sehingga mereka bisa bebas menggunakan ruangan itu untuk mereka sendiri.
Minghao menuju pojok ruangan dimana biasanya pengaturan audio. Ia memutar musik yang ia kerjakan selama dua hari sebelumnya. Ya, hanya musik dan melodi saja. Tanpa lirik lagu. Meski pun liriknya telah ia buat, namun ia tak ingin membuat Lisa berpikir terlalu banyak.
"Lihat aku ya,"
Minghao meletakkan tasnya di dekat Lisa duduk. Ia melakukan tarian dansa yang seharusnya dilakukan berdua. Meski begitu, Minghao tetap menari dengan sangat indah. Wajahnya nampak sedih mengikuti mood musik yang terputar. Waktu berjalan sangat lambat. Lisa terbuai oleh pemandangan yang ada di hadapannya kini. Diam-diam ia merasakan rasa nyeri di hatinya yang entah datang dari mana. Penampilan Minghao membuatnya merasa sedih.
"Ini aku buat untuk dua orang," ucap Minghao begitu demo tariannya berakhir, "Namun mungkin kita akan menarikannya dengan sangat dekat, apakah tak apa?" Minghao menatap Lisa sungguh-sungguh.
Lisa mengangguk. Ia merasa seperti terhipnotis. Bahkan ia tak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Tapi, ia tahu jika ia mau. Ia sama sekali tak merasa keberatan.
"Ajari aku agar tak menginjak kakimu," ucap Lisa memecah gelembung pikiran yang mulai berat.
Minghao tersenyum dan mengangguk.
"Kita akan latihan dimana? Jika di sini, takutnya gerbang keburu ditutup," bagaimana pun hari memang sudah terlanjur sore.