SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 2



Minghao memutar salah satu lagu Seventeen. Ia mempercepat hingga ke bagian chorus dan menarikan koreografi mereka dengan apik. Gerakan, power, ekspresi, tidak ada yang bisa membuat kecewa. Lisa melihatnya pun terkagum. Lalu ia pun bergabung dengan Minghao. Bagaimana pun ia juga harus membiarkan Minghao melihat kemampuannya. Hingga mereka menyelesaikan lagu itu dengan nafas yang sedikit tersengal. Koreo Seventeen memang tak pernah mudah.


Kini mereka berakhir dengan saling mengagumi satu sama lain. Tak salah memang jika club ini menjadikan Lisa sebagai leader mereka. Bahkan penampilan Lisa seolah memiliki magis tersendiri yang dapat menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Semacam membuatmu tak akan bisa berkedip. Yang bisa kau lakukan hanya tenggelam dalam kekaguman terhadap Lisa.


"Jadi, kamu bakal bantu aku buat bikin koreo-nya kan?" tanya Lisa. Ia tertular Minghao, menyebut diri mereka dengan 'aku' 'kamu'. Namun, entah kenapa Lisa tak keberatan sama sekali.


Minghao mengangguk sambil tersenyum, "Jadi kamu setuju pake lagu faded sama attention?" tanya Minghao.


"Apa saja. Aku percaya padamu," Lisa ikut tersenyum.


"Akan ku buat malam ini,"


"Butuh bantuan?" entah kenapa Lisa menanyakannya. Jika pun Minghao butuh bantuannya, apakah mereka akan bertemu malam-malam?


"Boleh"


Dan jawaban Minghao malah diluar prediksi Lisa. Ia pikir Minghao akan menolak tawaran basa-basinya. Rupanya Lisa sendirilah yang terjebak. Lisa pun mengangguk saja.


"Jam tujuh ya," ucap Lisa mengalah.


"Nanti aku jemput," Minghao senang sekali sepertinya.


...***...


"Aku sudah menyelesaikan mixing lagu yang kita butuhkan," ucap Minghao begitu mobilnya berjalan menjauhi rumah Lisa.


Rencananya mereka akan membuat koreografi bersama-sama di rumah Minghao. Lisa tahu, ia memang cukup nekat. Ia tidak berfikir jika mungkin saja Minghao akan menculiknya. Tapi jika dilihat, mungkin Lisa bisa menghadapi Minghao. Ia merasa, ia cukup kuat sebagai perempuan. Dan Minghao terlihat cukup kurus.


Lisa menggeleng. Apa yang ia pikirkan. Minghao yang menyetir di sampingnya pun menoleh. Ingin tahu apa yang sedang Lisa lakukan. Gerakannya cukup terlihat jelas. Apakah gadis ini sedang over thinking lagi? Minghao benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran perempuan.


"Tenang saja, ada ibuku di rumah," Minghao menepuk pelan kepala Lisa.


Lisa kaget dengan perlakuan Minghao. Namun ia lebih terkejut dengan ucapan Minghao. Apakah ia bisa membaca pikiran? Sementara Minghao malah tertawa melihat ekspresi bingung Lisa.


...***...


"Bagaimana jika begini saja? Ini akan memudahkan mu berputar," Minghao memberi contoh.


Lisa dengan keringat yang telah membasahi sebagian bajunya tetap memperhatikan gerakan yang dicontohkan oleh Minghao. Lalu ia mempraktikkannya. Mengoreksi jika ada yang kurang enak. Dan setuju jika sudah terlihat baik.


"Ku rasa lompatan kecil di bagian ini akan membuatnya terlihat lebih keren," kini Lisa lah yang memberikan masukan. Ini adalah bagian dimana dia akan menari sendiri bersama penari latar. Jadi ia rasa, ia cukup mahir di bidang ini.


"Ya.. Ya.. Itu bagus," Minghao mengangguk dengan antusias. Lisa memang nampak keren dan mempesona. Lisa pun tersenyum dengan tanggapan Minghao.


"Kita akan ulangi satu kali lagi, sambil aku rekam ya," ucap Minghao. Lisa mengangguk setuju. Mereka membutuhkan rekaman itu sebagai bahan evaluasi juga sebagai dokumentasi.


Mereka berdua melakukannya dengan sangat baik. Chemistry yang mereka bangun pun bukan main. Jika ada yang melihat penampilan mereka sekarang, tidak akan ada yang menyangka jika mereka baru saling mengenal pagi tadi.


Setelah istirahat sebentar. Handuk Lisa juga masih bertengger di pundaknya. Minghao melihat jam yang ternyata sudah cukup malam.


"Ayo, aku antar pulang," Minghao hendak berdiri untuk memanggil ibunya agar Lisa bisa berpamitan.


Lisa yang juga menyadari bahwa ini sudah lewat dari jam sembilan malam, hanya bisa mengangguk. Padahal ia masih sangat lelah. Ia ingin duduk bersandar di sofa yang nyaman ini.


...***...


Rose mengambil ponselnya dan segera menghubungi Lisa. Bukan karena Rose terlalu cemas, ia hanya penasaran. Dan jika sudah penasaran, lebih baik untuk segera dicari jawabannya. Menyimpan rasa penasaran itu sangat tidak nyaman.


"Dimana?"


"Hmm, baiklah,"


Ia duduk di bangkunya. Lisa akan segera datang. Ia tahu jika Lisa sudah ada di gerbang. Rose menunggu Lisa sambil bersenandung kecil. Benar-benar pagi yang menyenangkan untuk Rose. Entah karena apa.


"Selamat pagi, Rosie posie," ucap Lisa mengejutkan Rose yang masih asyik dengan ponselnya.


"Ish ngagetin tau," protes Rose. Sementara Lisa malah cekikikan.


"Seneng amat? Udah kelar masalah pensinya?" tanya Rose penasaran.


"Udah dong, kan ada Minghao," Lisa tertawa melihat ekspresi kaget Rose.


"Dia beneran jago dance nya?"


"Banget," jawab Lisa sambil menyipitkan matanya dramatis.


"Pengen liat dong," bujuk Rose.


"Nope," tolak Lisa tanpa basa-basi. "Ntar aja lo nonton pas pensi,"


"Yahh ngapain gue nonton pensi SMA lain," keluh Rose.


"Ya buat nonton gue lah bege," jawab Lisa ngegas. Rose malah hanya merotasikan matanya.


...***...


Hari sudah cukup sore, namun Lisa dan Minghao masih asik di ruang latihan dance. Mereka masih sibuk membahas koreo sekaligus menghapalkan gerakannya. Namun sebenarnya itu bukan masalah bagi mereka. Hanya dengan satu atau dua kali lihat gerakan sudah bisa mereka hapalkan. Namun yang menjadi PR bagi mereka berdua adalah chemistry. Menurut Lisa, masih selalu ada yang kurang, entah apa. Mereka telah mencoba berbagai gerakan, dan itu tidak berjalan baik.


Waktu untuk latihan hanya tinggal menghitung hari. Namun, membangun chemistry adalah satu hal yang membutuhkan waktu. Entahlah, Lisa sebenarnya tidak berpengalaman atas hal ini. Namun, ia melihat Minghao justru sangat tenang. Lisa menjadi sedikit kesal. Apakah Minghao tahu caranya? Ataukah dia memang tidak peduli? Keduanya tampak menyebalkan bagi Lisa. Karena jika memang Minghao tahu harus bagaimana, kenapa dia hanya diam dan tak menyarankan apa pun.


"Permisi,"


Sebuah suara terdengar dari arah pintu diiringi dengan beberapa ketukan. Lisa dan Minghao pun kompak menoleh.


"Maaf, Bapak mau mengunci gerbang, apakah kalian masih lama?" tanya pak satpam.


"Ah iya, maaf pak, kami sudah selesai," jawab Lisa, "Kami bersiap sebentar ya pak," lalu Lisa dan Minghao bergegas membereskan barangnya.


Mereka berjalan berdua. Lisa lelah dan moodnya memburuk atas pikiran negatifnya sendiri. Minghao bisa merasakan hal itu. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Lisa aku anter pulang ya," Minghao bertanya dengan nada lembut.


Lisa menghela nafas lelah. Ia tidak ingin marah-marah. Tapi ia merasa perlu membahas ini bersama Minghao. Dan Lisa tahu, jika ia bertanya sekarang, maka emosinya akan meledak. Jadi Lisa lebih memilih untuk diam, dan berjanji akan membahasnya besok ketika emosinya menjadi lebih stabil.


"Jadi, mau gak dianter pulang?" tanya Minghao lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Lisa. Lisa semakin mendengus kesal. Ah cowok memang ditakdirkan untuk selalu berada di situasi yang serba salah.


...****************...