SEVENTEEN

SEVENTEEN
Gengsi



Sudah setengah jam dan angkutan umum yang biasa ditumpanginya belum juga muncul. Perutnya sudah keroncongan sedari tadi. Cacing-cacing di dalam sana meraung-raung minta makan. Cuaca yang cukup panas di siang hari ini, membuat banyak keringat meleleh. Dari dahi turun ke kerah baju. Basah.


Tin... tin... tin...


Rini menoleh. Sebuah sepeda motor berhenti di depannya. Pengendaranya membuka kaca helm. Gadis itu membuang muka setelah tau siapa di baliknya.


"Bareng gue, yuk." Lelaki itu menawarkan tumpangan untuk pulang bersama. Tidak tega juga dia melihat gadis itu duduk sendirian, sedangkan teman-teman yang lain sudah pulang.


"Ga usah bang. Makasih. Bentar lagi angkotnya lewat kok." Rini menolak. Jangankan pulang bareng si BangKe ini. Melihat wajahnya saja dia eneg. Jauh-jauh sana, bikin dosa aja. Pengen ngatain.


"Udah siang nih, kasian lu panas nunggu di sini. Gue anterin pulang dah." Lelaki itu bersikeras. Sekolah sudah mulai sepi, hanya ada penjaga dan beberapa guru yang masih menyelesaikan pekerjaan. Ada halte di depan sekolah yang di sediakan oleh pemerintah untuk para siswa-siswi yang berangkat menggunakan angkutan umum. Rini adalah salah satunya.


"Makasih. Jalan aja duluan bang," tolaknya halus.


"Ga usah jual mahal. Lu pasti laper kan? Gue juga. Ayok dah. Ga usah pake lama." Si abang bersikeras. Perintahnya tidak boleh dibantah. Dia tidak suka, dan si cewek ini beneran menggemaskan. Sok jual mahal. Gengsian.


"Kok maksa sih? Lagian rumah kita kan beda arah. Ga usah sok perhatian deh." Wajahnya mulai cemberut. Saat rapat OSIS, lelaki itu boleh saja memaksakan kehendak dan semua orang harus mematuhi dengan alasan demi kebaikan bersama. Tapi kali ini, tidak bisa. Rini berhak menolak.


"Gue ada keperluan di daerah situ, deket rumah lu. Jadi sekalian jalan aja." Lelaki itu turun dari motor. Mengeluarkan helm dari jok belakang. Nekat


"Nih pake. Ga usah nolak. Lu gue anterin pulang." Sambil mengulurkan helm, wajahnya mengulum senyum. Rini makin cantik aja kalau ngambek gitu.


Gadis itu masih terdiam. Pura-pura tidak mendengar. Kepalanya celingak-celinguk, pura-pura melihat. Mana tau ada angkot yang lewat. Kalau tidak ada juga, terpaksalah dia ikut. Malas ribut.


Si abang yang melihat kelakuannya tertawa dalam hati. Masih ngambek juga nih anak gara-gara kemarin. Dia maklum sih, namanya cewek yang begitu. Sensitif. Tapi, Rini ada benarnya juga, harusnya dia ikut terlibat dalam pemilihan proposal untuk pentas seni nanti. Peserta yang nantinya akan tampil, haruslah yang berbobot, supaya tidak memalukan.


"Ayok." Lelaki itu menarik tangannya. Memakaikan helm. Menyuruhnya naik ke motor. Setengah memaksa.


Rini hanya menuruti. Malas berurusan dengan orang ini. Mending ikut saja.


"Rumah lu daerah "situ" kan?" Dia bertanya.


"Iya. Kok abang tau?" Gadis itu mengangguk. Dia sudah duduk dengan cantik di atas motor. Tangannya memegang tas. Tidak mungkin juga dia memeluk si BangKe ini. Tidak rela.


"Gue pernah liat lu pas kebetulan lewat situ." si abang mengambil posisi. Siap jalan, Bang.


"Oh."


Hening. Tidak ada percakapan sama sekali setelah itu. Si abang mulai melajukan kendaraannya. Melihat Rini yang sedari tadi diam saja, niat isengnya muncul. Dia tiba-tiba mengerem dan berhenti mendadak. Otomatis, gadis yang sedari tadi memegang tas sebagai pegangan, menjadi oleng dan akhirnya memeluk tubuhnya karena kaget.


Asyik, gue dipeluk. Si abang bersorak dalam hati.


"Kenapa lu berhenti mendadak, Bang?"


""Noh, ada kucing lewat. Hampir aja gue tabrak. Untung ga jatoh kita." si abang pura-pura menghela napas lega. Padahal ....


"Yaudah cepetan dikit, Bang. Nanti aku dimarahin Bapak. Udah di tunggu dari tadi."


"Apa kita mampir makan dulu, ada bakso deket sini?"


"Ga usah. Pulang aja. Kasian bapak sendirian." Rini menolak ajakannya secara halus.


"Tapi lu pegangan sama gue ya. Ntar, kalau nyerempet lagi bahaya. Gue bisa kena marah bokap lu, kalau anaknya sampai lecet."


"Apaan?"


"Engga, Bang."


"Yang kenceng pegangannya. Ntar lu jatoh, gue ga sadar." Si abang semakin menjadi saja. Padahal Rini sedari tadi sudah merutuk dalam hati.


"Ya udah cepetan jalan. Abang kebanyakan ngobrol. Laper tau." Rini menepuk punggungnya.


Semakin merekah senyuman si abang saat jari lentik itu menyentuh bagian belakang tubuhnya. Dengan segera dilajukannya motor matic kesayangannya, melibas jalanan ibu kota.


Sepanjang perjalanan mereka memilih diam. Rini yang merasa sungkan, tidak nyaman berada di dekatnya. Si abang sih cuek saja, ada cewek cantik nempel dibelakang, siapa yang tidak senang sih?


"Rumah lu yang mana?" Si abang berhenti di depan sebuah gang. Waktu itu saat lewat, dia hanya sekilas melihat gadis ini masuk ke dalam. Dia juga tidak mengikuti sampai ke rumah.


"Udah, di sini aja. Ga usah sampai rumah. Ga enak di lihat tetangga." sanggahnya.


"Biar sekalian aja gue anter. Masa' lu jalan kaki. Kan jauh."


"Nanti bapak marah."


"Kenapa begitu?"


"Bapak ga suka aku pacar-pacaran."


"Emang kita pacaran?" si abang memancing di air keruh, sepertinya.


Dasar BangKe. Lagi, Rini merutuk dalam hati. Wajahnya merona. Malu. Salah bicara dia. Kan jadinya malu.


"Enggg .... Maksud aku, Bapak suka salah paham. Kalau ada yang anter pulang dikiranya, aku pacaran gitu." Sambil berkata wajahnya mencuri-curi pandang ke wajah si abang.


"Kalau gitu, kita pacaran aja beneran, biar bokap lu ga salah paham." Si abang mengucapkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh. Tapi sepertinya, Rini tak terlalu menanggapinya.


"Aku engga boleh pacaran, Bang."


"Emang kenapa?"


"Eh, udah dulu ya, Bang. Makasih udah dianter sampai sini. Bye." Gadis itu menyerahkan helm kemudian berlari masuk gang. Sudah telat hampir tiga puluh menit dari waktu yang seharusnya dia sampai di rumah.


Kalau sampai Bapak marah bisa gawat. Nanti mau ijin keluar buat kerja kelompok juga susah. Mana, dia panitia event pula. Sesekali kadang mereka mengadakan pertemuan di luar jam sekolah. Sekalian nongkrong. Refreshing kata anak-anak. Ada juga yang alasan sih, biar bisa nge-date sama pacarnya. Banyak yang cinlok sejak dibentuknya panitia pensi. Karena event-nya besar, panitianya juga ramai.


Sementara itu, si abang hanya terpaku melihatnya dari kejauhan. Sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal, dia tersenyum sendiri. Kenapa tadi keceplosan?


Sebenarnya dia serius sih. Ah, tapi biar sajalah. Mungkin moment-nya kurang tepat. Mana dia dan Rini sering berselisih paham pula. Gadis itu pasti illfeel melihatnya.


BangKe. BangKe. Sebutan gadis itu untuknya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala jika tak sengaja mendengar kalimat itu keluar dari bibir cantik seorang gadis.


Tega juga dia, ngasih nama panggilan itu. Si abang segera berlalu. Besok, atau mungkin nanti, dia akan melakukan pedekate secara berkala dengan gadis ini. Secara belum terlalu mengenalnya dengan baik.


Dia benar-benar penasaran kali ini.