SEVENTEEN

SEVENTEEN
DK - 11



"Deka?"


Lisa masih terpaku di tempatnya. Apakah ia bermimpi? Apakah ia terlalu rindu hingga berhalusinasi? Apakah ini nyata?


Deka berdiri di depan pintu Lisa dengan senyumannya yang masih sangat Lisa ingat. Ia merentangkan tangan. Ada satu koper yang tak Lisa sadari ada di samping Deka.


"Kangen gak?"


Kini suara Deka yang menyapa rungu Lisa. Air mata Lisa menetes perlahan. Bahkan tanpa Lisa sadari. Tampang terkejut Lisa yang sangat nyata, membuat Deka memajukan dirinya untuk merengkuh Lisa ke dalam pelukannya.


"Gue kangen, Sa," bisik Deka lirih pada telinga Lisa. Dan detik itu juga, Lisa sadar, ini nyata. Deka ada di depannya. Sedang memeluknya, mengatakan rindu. Akhirnya air mata Lisa semakin deras. Lisa menangis sejadinya. Deka semakin memeluk Lisa erat.


...***...


"Gue dari bandara sengaja langsung ke sini, tadi gue lari-lari tau," ucap Deka sambil mengusap air mata Lisa. Padahal ia sendiri sedang menangis hebat.


"Lo kemana aja?" keluh Lisa akhirnya.


"Maaf ya," Deka mengelus rambut Lisa lembut.


Lisa dan Deka duduk di ruang tamu Lisa yang minimalis. Kopernya masih setia di depan pintu. Ada banyak tanya, juga begitu banyak cerita, masing-masing bingung mana yang harus mereka dulukan. Akhirnya mereka hanya saling diam.


"Ah oleh-oleh," akhirnya Deka beranjak menuju kopernya. Lisa masih asik mengamati Deka. Seolah jika ia berkedip, maka Deka akan menghilang lagi.


"Tadaaa," ucap Deka sembari mengeluarkan satu kantong kertas dari dalam kopernya.


Lisa tidak peduli dengan oleh-olehnya. Sekarang ia telah yakin Deka ada bersamanya, ia nyata.


"Cerita sama gue, lo kemana aja?" tanya Lisa akhirnya. Tangan Lisa menggenggam lengan Deka. Mereka duduk lesehan di karpet ruang tamu Lisa.


"Maafin gue ya, Sa," tatapan Deka melembut. "Waktu itu benar-benar cepet banget, bahkan gue sempet bingung juga,"


Lisa tak mengerti. Apa yang cepet banget?


"Ah, maksud gue, setelah kepsek manggil itu," terang Deka. Lisa mengangguk mengerti.


"Gue selama ini ada di Australia, gue tampil di drama musikalnya Austin, lo kenal kan produser favorit gue?" Lisa menatap Deka tak percaya.


"Selama ini, gue di karantina. Ga boleh bawa Hp. Sebenernya gue juga pergi bareng Pak Amin, wali kelas kita waktu kelas sebelas. Jadi gue ga ketinggalan pelajaran juga,"


"Maaf gue ga sempet ngabarin lo," raut wajah Deka menjadi sedih. Lisa memeluk Deka erat. Ia mengerti. Bahkan Lisa sama sekali tak marah. Lisa seneng bisa ketemu Deka lagi.


"Besok gue udah mulai sekolah kayak biasa," tambah Deka setelah pelukan Lisa terlepas.


"Siap-siap lo diamuk Rose," kini Lisa sudah bisa bercanda.


"Yah, lo belain gue lah," wajah tengil Deka telah kembali. Merek tertawa berdua.


"Gue balik ya, sampai ketemu besok di sekolah. Mau gue jemput?" pamit Deka.


Lisa menggeleng. "Gue pengen lihat lo diamuk Rose," jawab Lisa iseng. Deka hanya tersenyum. Ia memeluk Lisa sekilas, lalu menuju mobil fasilitas rumah produksi Austin yang sejak tadi menunggunya.


...***...


Seperti biasa, Lisa akan berangkat sekolah bersama dengan Rose. Setiap pagi, Rose akan datang ke rumah Lisa. Membawakan makanan hangat yang dimasak oleh ibunya. Rose pada akhirnya tahu jika selama ini Lisa selalu sendiri. Mbak yang jagain rumah Lisa juga datengnya siang, untuk masak makan siang atau malam buat Lisa, sembari beberes. Maka, Rose lah yang mengambil alih tugas siapapun itu untuk merawat Lisa. Padahal Lisa tak memintanya. Namun, semenjak Lisa terpuruk karena menghilangnya Deka, Rose tak pernah meninggalkan Lisa.


Hari masih sangat pagi saat Lisa dan Rose memasuki ruang kelas mereka. Sebenernya, jika Rose sedikit teliti, maka Rose akan melihat perbedaan yang cukup besar pada diri Lisa. Lisa tak sesendu sebelumnya.


"Selamat pagi, temen-temenku yang cantik,"


"Deka, sialan lo," Amukan Rose tak terelakkan.


Menyadari dirinya sedang dalam bahaya, Deka segera menghindar. Dan mereka berdua pun kejar-kejaran. Di mata semua yang melihat perseteruan itu, sangat terlihat jika Rose sungguh-sungguh ingin menghajar Deka. Rose tak sedang bercanda. Jadi inikah maksud Lisa dengan amukan Rose? Lisa yang melihat dua sahabatnya itu hanya bisa tertawa. Ia sungguh merasa sangat lega.


"Ampun.. Ampun, okay," Deka masih berlutut di hadapan Rose juga Lisa dengan tatapan memelas. Rose terlihat masih sangat geram.


"Rose, udah ya," Lisa akhirnya merasa kasihan pada Deka.


"Lisa, dia pergi, ninggalin lo, ngilang gitu aja, terus lo bilang udah ke gue?" Rose gemas atas pemikiran Lisa. Maksud Rose adalah, jangan terlalu pemaaf lah.


"Gue udah bikin dia nangis kok semalem," jawab Lisa sambil nyengir. Rose pun terkejut.


"Jadi ini lo udah tahu kalo Deka udah pulang?" Lisa hanya mengangguk.


"Wahhh bener-bener kalian berdua," Rose merasa dihianati.


"Gue gak mau tau, lo wajib traktir kita selama satu minggu full!" tunjuk Rose pada Deka dengan tatapan super galak.


"Okay, deal.. Tapi maafin gue," kini Deka tersenyum.


"Setelah traktirannya selesai," Rose masih merasa kesal.


...***...


"Lisa,"


Deka duduk di samping Lisa. Sore ini, langit nampak cerah. Mereka sedang belajar bersama mengingat waktu ujian nasional sudah semakin dekat.


"Gue gak tahu apa yang bakal kita lewati nanti setelah kita lulus," Deka menggenggam tangan Lisa.


"Entah beasiswa kita keterima atau engga," Deka nampak serius.


"Entah kita bakal pisah kampus atau engga," Deka mengusap lembut tangan Lisa.


"Gue ga mau lagi jauh-jauh dari Lo," tatapan Deka semakin dalam di mata Lisa.


"Gue mau terus sama lo, jadi seseorang yang spesial di hidup lo,"


"lo mau bareng-bareng terus sama gue?" tanya Deka.


"Walaupun misal lo harus ngubur mimpi lo?" tanya Lisa. Deka mengangguk mantap.


"Lisa, berkarya bisa dimana aja kok, gak musti di disney," kini Deka tersenyum.


"Deka, gue mau kok sama lo. Ayok kita raih mimpi kita sama-sama. Bareng atau engga, gue gak keberatan asal hati lo terus sama gue," kini Lisa yang menatap Deka serius.


"Gue gak mau, keputusan naif lo sekarang, buat ngubur mimpi lo demi gue jadi penyesalan buat lo," tambah Lisa.


"Jadi, ayok kita sama-sama kejar mimpi kita,"


"Semoga semesta mengamini buat kita tetel sama-sama. Tapi, kalaupun harus pisah, lo janji sama gue buat tetep komunikasi sama gue. Hati lo harus tetep sama gue," Lisa menatap Deka serius.


"Lo mau kan?"


"Gue mau," Deka memeluk Lisa erat. "Gue mau Lisa.. Gue mau," Deka bahkan sudah menangis.


...********T A M A T********...