
Lisa dan Vernon sedang berjalan bersisian menuju kafe terdekat. Meski Vernon bisa saja parkir mobil di depan kafe, tapi ia lebih memilih parkir di depan Indomaret ujung jalan. Yah, Lisa memang membeli sesuatu tadi.
"Nih," Lisa menyodorkan sebuah permen kenyal bermerk yupi padanya.
"Berterimakasih sama gue udah usaha ciptain suasana yang lebih romantis buat kita," Lisa berucap tengil.
"Jangan bilang kamu ke Indomaret cuma beli yupi," tanya Vernon takjub.
"Kamu?" Lisa menghentikan langkahnya Sayangnya terlihat jelas di wajahnya jika ia sama sekali tak keberatan dengan sebutan itu.
Vernon membelai rambut Lisa perlahan. Ia juga seperti sedang berusaha merapikan anak-anak rambut Lisa yang tertiup angin. Namun, tentu saja itu hanya akal-akalan yang dimiliki Vernon.
"Kamu gak keberatan kan?" meski tahu jawabannya, Vernon tetap bertanya iseng.
"Aku keberatan," namun Lisa tersenyum.
"Bertolak belakang sekali," Vernon menyentil dahi Lisa pelan. "dasar" lalu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda.
"Jadi, soal yupi," Vernon tersenyum jahil, "kamu sengaja?"
"Tentu," jawab Lisa berani. Dan Lisa tertawa pada detik berikutnya. Vernon semakin merasa gemas. Bolehkah jika Lisa hanya buat dirinya sendiri saja.
...***...
Kafe sedang tidak terlalu ramai. Memang ini bukan weekend, jadi hanya beberapa pemuda saja yang berlalu lalang.
"Lisa,"
Vernon memberanikan diri untuk menatap gadis cantik di hadapannya.
"Menurut kamu, apakah pernyataan official itu penting?"
Lisa tahu apa yang Vernon maksud. Lisa mengangguk. Baginya, memang bukan yang penting-penting sekali. Tapi, Lisa hanya ingin melihat respon Vernon. Ia ingin tahu, apa yang akan Vernon lakukan.
"So," Vernon sengaja menjeda kalimatnya, "Haruskah kita," Vernon kembali berhenti, kini ia tersenyum.
Lisa memiringkan kepalanya. Ia tersenyum, masih menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Vernon selanjutnya. Namun, Vernon masih saja bertahan dengan posisinya.
"Apa?" tanya Lisa mengalah.
"Hari ini, malam ini, detik ini, kamu adalah pacar aku," ucap Vernon tanpa ragu. "Selamanya," ucap Vernon lagi.
"Selamanya?" Lisa mengernyit, "Apakah kamu ga ada niat nikahin aku? kalau gitu mending kita putus sekarang," ucap Lisa sudah dengan sebutan 'kamu'.
Mendengar kalimat profokatif Lisa, malah membuat Vernon tertawa. Mungkin Vernon hanya sedang senang karena Lisa menggunakan kata kamu.
"Jadi kamu mau nikah sama aku?" Vernon tersenyum jahil, "Bahkan kita masih SMA Lisa," Vernon masih berniat menjahili Lisa.
"Aku benar-benar menyerah kali ini," Lisa mengangkat tangan dan melanjutkan jalannya menuju kafe tujuan utama mereka malam ini. Aih bukankah pernyataan dari Vernon sangat tidak romantis? Vernon tertawa gemas melihat Lisa yang mulai merajuk. Ia berjalan cepat untuk mengejar Lisa yang sudah beberapa langkah ada di hadapannya.
"Lamaran seperti apa yang kau suka?" Vernon masih belum berniat melepaskan Lisa.
"Apakah menggodaku adalah hobimu yang baru?" Lisa berhenti dan melihat tepat di mata Vernon. Sebenarnya ada sekilas senyum yang sedang Lisa tahan sebisanya.
"Baiklah, aku tak akan mengatakannya lagi,"
Namun Lisa malah terdiam. Mungkin ia tak menyangka jika Vernon akan menyerah secepat ini. Sungguh tidak ada perjuangan sama sekali. Ah jadi apa yang kau inginkan sebenarnya gadis kecil? Lisa menggeleng sendiri dengan segala perang batinnya yang beberapa detik lalu terjadi.
Vernon bukannya tak menyadari jika Lisa sedikit kecewa dengan sikapnya yang menyerah begitu cepat. Tapi, ini adalah strategi menggoda yang sesungguhnya. Sistem tarik ulur, kau tahu? Maka semuanya akan menjadi lebih baik ke depannya. Tidak ada kebosanan. Apakah Vernon sangat berpengalaman? Entahlah, mungkin bakat alami.
Seolah tidak ada yang terjadi, Vernon dan Lisa kembali berjalan beriringan. Lisa sudah lapar. Ia ingin memakan sesuatu. Mungkin sebaiknya mereka mulai mempercepat langkah mereka. Drama hari ini sampai di sini saja.
...***...
Vernon tersenyum, ia mengusap sedikit saus yang menempel di sudut bibir Lisa. Tentu saja Lisa terkejut dengan perlakuan Vernon. Lisa menjadi berdebar. Mungkin wajahnya telah memerah saat ini. Ia pun memalingkan wajahnya agar Vernon tak memiliki kesempatan untuk menggodanya lagi. Namun yang ia dapati adalah tawa Vernon yang terdengar merdu di telinganya.
"Kenapa pacar aku gemesin banget sih?" Vernon masih menatap Lisa dengan senyuman yang sampai ke matanya. Ia terlihat sangat bahagia.
"Berhentilah bersikap terlalu cheesy Vernon. Itu bukan gayamu sama sekali," protes Lisa akhirnya. Namun senyum tertahan terlihat jelas di wajah cantiknya. Vernon kembali tertawa.
"Bukankah kau hanya sedang bersikap malu-malu sekarang?" ucap Vernon, "memang beginilah seharusnya cinta monyet itu, malu-malu dan mendebarkan" ia menampilkan wajah polos tanpa dosa membuat Lisa mendecih.
"Kau sedang berpura-pura menjadi orang dewasa sekarang?" Lisa melihat sisi lain Vernon, betapa ia sangat suka menggoda.
"Lisa, rasanya kita sedikit lebih sering berdebat ketika sudah pacaran," protes Vernon, pura-pura merajuk.
"Karena mendadak kau berubah menjadi seorang penggoda kekanakan, Sayang," balas Lisa dengan kedipan matanya. Mendapat panggilan sayang membuat Vernon terdiam sejenak. Kali ini harus ia akui, ia kalah telak.
...***...
Langit terlihat cukup mendung pagi ini. Membuat suasana sedikit gloomy. Namun sepertinya ada seseorang yang memiliki mataharinya sendiri. Ia tersenyum sangat cerah. Benar-benar tidak terlihat seperti dirinya. Hal ini membuat teman-temannya merasa heran. Terutama Rose.
"Hei, lo kerasukan apa gimana sih?" tanya Rose menatap Vernon heran.
Vernon sendiri malah berjalan terus menuju ke bangkunya. Ia benar-benar tak mendengar apa yang Rose katakan. Kini kepalanya sedang sangat penuh dengan bayangan perempuan yang semalam ia temui. Siapa lagi jika bukan Lisa.
Melihat Vernon mengabaikannya membuat Rose mengernyit sebal. Dan apa tadi, Vernon seolah tak melihatnya. Apakah ia tembus pandang? Rose bukan hantu, Rose masih yakin akan hal itu.
"Vernon" Rose menepuk bahu Vernon cukup keras.
Vernon terkejut dengan pukulan tersebut. Ia melihat heran ke arah Rose. Di wajahnya terpampang jelas pertanyaan tentang maksud pukulan tadi. Sedangkan Rose malah terlihat bersungut-sungut.
"Sekarang lo udah bisa lihat gue?" protes Rose. Sedangkan Vernon malah menaikkan alisnya. Ia sama sekali tak merasa bersalah.
"Cerita sama gue, lo kenapa?" tanya Rose setelah mereka telah duduk di bangku.
Ditanya seperti itu membuat Vernon sedikit bingung. Ia merasa tak ada yang salah dengan dirinya. Lalu apa maksud Rose bertanya seperti itu padanya? Bukankah justru Rose yang aneh. Sedangkan Rose yang melihat Vernon malah seperti orang bingung, membuatnya sedikit frustasi.
"Lo tau gak sih, kayak gimana bentuk lo sekarang?" tanya Rose dengan menekan kejengkelannya. Bagaimana ia memiliki teman seperti Vernon?
"Lo pertama datang udah senyum-senyum gak jelas, ceriaa banget," jelas Rose, "Terus lo bahkan gak dengerin gue ngomong pas di depan kelas," Rose mulai tak bisa menutupi emosinya, "Terus lo dengan polosnya bilang gak ada yang salah sama diri lo?" Rose menatap Vernon cukup tajam.
"Ah gue tahu, lo udah baikan sama Lisa?" tebak Rose tepat sasaran. Ah tapi memangnya kapan mereka bertengkar?
"Gak salah sih, tapi lebih tepatnya, gue jadian sama Lisa," kini Vernon bahkan tak menutupi binar di matanya.
Mendengar itu, Rose tak bisa tak terkejut. Ia sama sekali tak menyangka akan secepat ini. Bukankah baru kemarin ia bilang untuk rela melepaskan Vernon. Dan apa ini? Bahkan mereka telah membuat kemajuan sepesat ini? Apakah memang benar dirinyalah penghambat hubungan mereka selama ini. Itu membuat Rose merasa tak nyaman. Ia sedikit merasa bersalah.
Melihat Rose hanya terdiam, membuat Vernon merasa jika Rose belum bisa sepenuhnya melepaskannya. Bukan Vernon terlalu percaya diri. Yahh bukankah memang Rose sendiri yang telah mengakuinya? Jadi, Vernon hanya sekedar merasa saja.
Rose tersadar dari kecanggungan itu.Ia berdeham untuk menghilangkan kegugupannya. Sungguh, ia hanya sedang merasa bersalah, bukan karena ada hal lainnya.
"Sorry," ucap Rose, ia sedikit bingung bagaimana menjelaskan kecanggungannya. "Gue cuma kaget. Jadi gue beneran jadi penghalang hubungan kalian selama ini ya," Rose meringis, tatapannya menunjukkan betapa ia merasa bersalah.
Vernon merasa lega. Lalu ia menggeleng, ia bermaksud untuk menghibur Rose, "Yah, engga juga sih" Vernon bingung merangkai kata.
"Okay, berarti kita harus makan bertiga. Kalian yang traktir," ucap Rose akhinnya dengan keceriaan yang sungguh-sungguh ingin ia perlihatkan. Ia tidak ingin memperpanjang kecanggunangan di antara mereka.
"Ayo, mau kapan?" Vernon tersenyum lega.
...*********T A M A T*********...