
Jeonghan duduk di atas kasur, di kamar asing yang dipenuhi dengan pernak-pernik perempuan. Ia mendengus sebal. Bahkan sudah sedemikian menyedihkannya, hingga ia harus berakhir di kamar ini. Jeonghan merasa kesal.
Ia berjalan perlahan ke arah jendela, membukanya, menikmati angin malam yang ternyata lumayan bisa menghiburnya. Rasa dingin yang mulai menerpa kulitnya ia abaikan begitu saja. Jeonghan ingin begini dulu, entah sampai kapan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Belum cukup malam untuk seorang Lisa. Ia telah selesai menulis surat izin untuk Jeonghan. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia lebih memilih membolos saja. Ia bingung memikirkan alasan apa yang harus ia pakai untuk izin.
Selesai menulis, Lisa pun terpikir lelaki yang sekarang menempati kamarnya. Sebenarnya, apa yang Jeonghan pernah lalui? Apakah memang seperti itulah sifatnya? Lisa tak habis pikir, betapa sensitifnya Jeonghan terhadapnya.
...***...
"Ada yang pengen lo makan?"
Lisa bertanya begitu melihat Jeonghan keluar dari kamarnya. Tanpa basa-basi, atau sekedar ucapan selamat pagi.
"Anter gue balik,"
Begitu pula dengan Jeonghan, ia juga tak ingin repot-repot berbasa-basi, apalagi makan. Ia tak bernafsu. Ia hanya ingin pulang. Semakin lama ia berada di rumah Lisa, ia merasa semakin aneh.
"Sarapan dulu," jawab Lisa tanpa melihat Jeonghan. Tangannya masih sibuk mengoleskan selai coklat pada roti panggang di hadapannya, "Seinget gue, lo semalam juga ga makan apa-apa. Sorry gue lupa nawarin lo makan semalem,"
Jeonghan menatap Lisa dengan tatapan yang sulit dimengerti. Ada kilat marah di sana, namun mungkin juga sebenarnya Jeonghan tidak ingin terlalu peduli. Kali ini, ia tak ingin berdebat.
Lisa membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk serta sepiring penuh roti panggang dengan coklat ke meja makan. Ia juga meletakkan satu piring kosong di depan Jeonghan. Lalu memberinya roti yang tampaknya enak. Harum roti yang baru dipanggang menggugah rasa lapar untuk muncul.
"Makan. Abis ini gue anterin," ucap Lisa begitu melihat Jeonghan tak bergeming.
Jeonghan pun menyesap jus-nya perlahan. Lalu memgambil roti dan menggigitnya. Ia melihat Lisa duduk di hadapannya, sibuk dengan makanan di tangannya, dan tidak melihat ke arahnya sama sekali.
"Lo gak perlu anterin gue sampe depan rumah, cukup turunin gue ke halte terdekat," ucap Jeonghan akhirnya.
Lisa pun memandang Jeonghan sesaat. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Lo udah ngerasa baik-baik aja?" tanya Lisa masih belum yakin.
Jeonghan diam dan hanya melanjutkan sarapannya. Bahkan ia tak berniat untuk melihat Lisa sama sekali. Mereka memang hanya dua orang asing yang tak sengaja terlibat sedikit kecelakaan.
Lisa menghela nafas lelah, "jawab Jeonghan," ucap Lisa menahan kekesalannya.
"Stop! Jangan ngomong itu," ucap Lisa begitu Jeonghan hendak membuka mulutnya.
"Ckk.. Memang lo pikir gue mau ngomong apa?" tanya Jeonghan kesal. Kenapa wanita ini juga sok tahu sekali. Jeonghan tak percaya ada yang bisa baca pikiran di dunia ini.
"Gue yakin lo bakal jawab sesuatu kayak, 'jangan campuri urusan gue' atau 'apa peduli lo' yah yang gitu-gitu.." ucap Lisa dengan muka mengejek menirukan wajah kesal Jeonghan.
Jeonghan sendiri menatap jengah ke arah Lisa. "Gue baik-baik aja. " jawabnya akhirnya.
Jeonghan melihat Lisa dengan tatapan bertanya. Apa urusannya Lisa yang berhubungan dengan dirinya? Jeonghan tak bisa mengerti itu.
Merasa sedang dipelotototin oleh manusia jutek di hadapannya, Lisa pun mendongak. Menatap mata sayu Jeonghan, lalu ia mengedikkan bahu. "Lo pikir deh, gimana gue bisa tenang tanpa kepikiran lo yang mungkin aja pingsan lagi karena harus desek-desekan di bus. Asal lo tahu, salah satu hobi cewek adalah overthinking.."
"Jadi daripada gue mau ngelakuin apa-apa ga enak, gak tenang, gue merasa akan lebih baik kalau gue anterin lo, dan pastiin lo bisa sampe rumah dengan aman dan selamat," imbuh Lisa.
Jeonghan tak tahan untuk tidak mentertawakan pikiran aneh Lisa. Dan ia pun terbahak. Ini membuat Lisa terkejut. Lisa terkesiap melihat tawa Jeonghan. Biasanya senyum saja tidak pernah, tapi ini adalah tawa. Dan tawa asli. Bukan tawa sinis menyeramkan dan terkesan jahat.
"Lo memang aneh," ucap Jeonghan setelah tawanya reda.
"Sayangnya gue gak merasa tertarik buat ngebikin lo ngerasa tenang," lanjut Jeonghan sambil melihat perubahan ekspresi Lisa. Perempuan cantik di hadapannya itu kini tampak kesal lagi. "Dan dengan senang hati, gue bakalan bikin lo mikirin gue sepanjang hari ini, besok, lusa,"
Memang butuh kesabaran super besar untuk bisa menghadapi manusia semacam Jeonghan. Untungnya stok kesabaran Lisa masih ada. Tidak banyak, tapi masih ada.
"Lo ngomong gitu udah kayak lagi ngerayu, tahu gak?" ucap Lisa sinis.
Alis Jeonghan terangkat sebelah, dan Lisa tak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan. Ia beranjak dan membereskan sisa-sia sarapan mereka.
"Thanks, btw," ucap Jeonghan pelan.
Sepertinya hatinya mulai melembut. Jeonghan mungkin terlalu sensitif sehingga ia menilai Lisa sembarangan di awal pertemuan mereka. Meski pun memang ada hal-hal yang menurutnya Lisa tetap salah. Sudahlah, seharusnya tak perlu diperpanjang lagi bukan? batin Jeonghan.
"Ada hal yang gue gak pengen orang lain lihat di rumah gue," tambah Jeonghan sangat pelan namun masih cukup kencang untuk sampai di telinga Lisa.
Lisa menghela nafas kembali. Ia paham sekarang. Dan hatinya juga ikut melembut seiring membaiknya sikap Jeonghan padanya.
"Okay, paling engga izinin gue nganterin lo sampe halte terdekat, gerbang komplek, gang atau dimana pun yang jaraknya gak akan terlalu jauh dari rumah lo," terdengar rasa khawatir di setiap kata yang Lisa ucapkan.
Jeonghan terdiam beberapa saat. Ia menatap Lisa dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. Sepertinya Jeonghan sedang menilai Lisa luar dalam. Mencari tahu tentang apa pun tentang Lisa terhadapnya.
"Ok,"
Jeonghan memutus tatapan mereka dan ia beranjak dari kursinya. Ia kembali masuk ke kamar Lisa. Ia meninggalkan jaketnya di dalam.
Lisa memijat keningnya perlahan. Ia merasa pening menghadapi Jeonghan. Tapi ia juga merasa tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Ada satu perasaan yang terus mendorong Lisa untuk terus peduli dengan Jeonghan. Lisa sendiri juga tak mengerti.
Lisa masih termenung di dapurnya saat Jeonghan keluar dari kamar dengan jaketnya.
"Jadi lo niat nganterin gue gak?" tanya Jeonghan melihat Lisa yang melamun.
Lisa terlonjak, "Ah ya, bentar, gue ganti baju sama ambil kunci mobil,"
Jeonghan hanya mengangguk singkat. Ia duduk di sebuah bangku yang menghadap jendela. Jeonghan menghela nafas, apakah tak apa jika ia dekat dengan orang lain lagi?