SEVENTEEN

SEVENTEEN
Joshua - 6



Hari telah menjadi gelap. Tapi, Lisa masih ada di sekolah. Ia telah melewatkan makan malam. Perutnya terasa perih. Diskusi panjang tentang pensi di SMA Pertiwi cukup alot. Rupanya anak SMA Pertiwi ingin Lisa ikut tampil. Namun, Lisa tidak bisa. Bagaimanapun ia sudah kelas tiga. Namun, banyak sekali yang ingin mencoba dance tema teatrikal.


"Lisa," Jeka duduk di samping Lisa.


"Tumben pacar lo ga nyamperin," Lisa menjadi semakin kesal karena Jeka. Padahal ia sudah sangat lelah.


"Lo beneran pacaran sama Joshua?" tanya Jeka terus terang.


Lisa menghembuskan nafas kasar. Itu bukan hal yang penting. Padahal ia sudah sangat pusing dengan perkara tampil dan tidak tampil. Memang apa perlunya Jeka nanya yang kayak gitu.


"Lisa," Lisa menoleh pada suara lembut di balik pintu. Ia merindukan senyuman teduh milik lelaki itu.


"Udah selesai?" Lisa hanya mengangguk sambil meraih tangan Joshua untuk digandeng.


"Ayo pulang. Aku capek dan laper juga," Lisa berlalu tak sabar ingin segera bertemu kasur.


Jeka melihat itu semua dengan tatapan sedih, kecewa dan marah. Mungkin ia tersinggung, atau bisa saja ia merasa iri. Harusnya dia lah yang ada di posisi Joshua saat ini.


Kala itu, ia masih sekitar kelas 5-6 SD. Ada sebuah lomba dance yang ia ikuti. Jeka beserta satu anak lainnya, menjadi perwakilan kabupaten setempat untuk lomba di tingkat provinsi. Dan seseorang yang lainnya itu adalah Lisa.


Mereka berlatih setiap hari, saat pulang sekolah. Mereka terus bersama hingga malam hampir tiba. Menurutnya, ia dan Lisa sudah sangat dekat. Tapi nyatanya semudah itu saja Lisa melupakannya.


...***...


"Josh," Lisa menoleh pada Joshua. Lengan Joshua ia dekatkan pada dirinya. Ia merebahkan kepalanya pada pundak Joshua. Sementara tangannya masih menggenggam jemari Joshua.


"Capek?" Lisa mengangguk.


"Aku capek banget, lahir dan batin," Lisa menggumam, namun Joshua masih bisa mendengarnya.


"Aku laper tapi rasanya udah ga punya tenaga buat makan," Lisa melanjutkan.


Joshua nampak khawatir. Ia tidak ingin Lisa sakit. Namun, ia mengerti betapa lelahnya Lisa. Ia menepikan mobilnya agar dapat lebih fokus pada Lisa.


"Makan apel sama segelas susu hangat mau?" Joshua memeluk Lisa sambil menepuk-nepuk pelan pundak Lisa. "Biar ga kosong banget perutnya, hm," lanjut Joshua. Lisa mengangguk saja.


"Gini bentar lagi ya, Shuaya," kata Lisa cepat begitu Joshua akan segera melajukan mobilnya lagi. Joshua kembali memeluk Lisa.


"Josh.." yang dipanggil hanya berdehem.


"Hari ini, Jeka aneh deh," Joshua mengerutkan kening.


"Masa dia bilang suka aku. Menurutmu aku salah denger ga?" Joshua tiba-tiba merasa takut.


"Memangnya kenapa dia tiba-tiba ngomong suka?" tanya Joshua. Lisa mengedikkan bahu. Ia sudah lupa. Hari ini otaknya terasa penuh. Ia lelah. Jadi apapun yang Jeka katakan seperti masuk dan keluar dari telinganya tanpa meninggalkan bekas.


"Lisa, kita pulang ya," kata Joshua sembari mengendurkan pelukan mereka. "Kamu harus makan dan tidur yang nyaman," pinta Joshua.


"Di sini nyaman kok," tunjuk Lisa pada bahu Joshua. Joshua tersenyum dan menggusak poni Lisa pelan.


"Tapi kita pulang aja ya, biar kamu bisa bersih-bersih badan, makan terus tidur yang lebih bener," bujuk Joshua.


"Kamu nginep ya," saat lelah, Lisa bisa menjadi semanja ini. Joshua mengangguk sebagai jawaban.


...***...


Lisa tertidur dengan berbantal paha sang Mama. Joshua ikut duduk di sana. Tangannya terus mengambil keripik yang sengaja Mamanya Lisa siapkan di ruang keluarga ini.


"Iya Ma, sama Bunda juga," Joshua tersenyum. Tak lama sang Bunda datang, lalu kedua ibu itu pun malah sibuk sendiri. Bahkan kepala Lisa telah dipindahkan ke bantal. Joshua menggeleng pelan dengan sikap kedua ibunya ini. Setiap bertemu, maka hal lain menjadi terlupakan.


Joshua mengalihkan atensinya pada sosok Lisa. Lisa mendengkur halus, nampak sangat nyenyak. Tangan Joshua mengusap kepala Lisa dengan lembut. Lalu Joshua mengangkat tubuh Lisa perlahan. Ia berniat memindahkan Lisa ke kasurnya agar lebih nyaman.


Joshua kembali ke kamarnya. Di rumah Lisa, ia memang telah memiliki kamarnya sendiri. Begitu pula sebaliknya, di rumah Joshua, Lisa juga telah memiliki kamarnya sendiri. Malam ini, Joshua akan tidur bersama sang Bunda. Ia merasa sangat lelah. Namun, pikirannya masih belum mengizinkannya untuk terlelap.


...***...


Minggu pagi yang cerah, Lisa sudah mendengar suara yang sangat familiar. Itu suara Bunda. Sepertinya beliau sedang ngobrol bareng Mama. Begitu pikir Lisa.


Lisa menuruni anak tangga. Ia berniat untuk mencari Joshua. Jika sepagi ini sudah ada Bunda, berarti Joshua juga ada di sini. Dengan semangat Lisa berlari menuju kamar Joshua.


"Joshuaa," Lisa mengetuk pintu.


Meskipun Lisa dan Joshua sudah sangat dekat, mereka akan selalu mengetuk pintu kamar masing-masing. Mereka sadar jika banyak hal privasi yang tidak bisa mereka langgar. Bayangkan betapa canggungnya jika hal-hal semacam itu terjadi. Mereka ingin menghindarinya.


"Masuk," terdengar suara parau milik Joshua.


"Baru bangun?" tanya Lisa begitu masuk ke kamar Joshua.


Joshua mengangguk. Nampaknya ia masih sangat mengantuk. Matanya bahkan masih enggan terbuka. Joshua bersandar pada head board kasurnya. Sebentar lagi akan kembali menuju alam mimpi.


Lisa tersenyum melihat Joshua. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Joshua yang masih sangat ngantuk itu. Namun, Joshua malah kembali membuka matanya.


"Kenapa? Hm?" Joshua bertanya lembut.


Lisa menggeleng. "Kalo masih mau tidur, tidur lagi aja. Aku temenin,"


Joshua tersenyum, "udah ga ngantuk," bohong Joshua.


Lisa mencebik lucu. Ia tidak bisa percaya kata-kata Joshua. Apanya yang udah ga ngantuk. Itu kelopak mata aja susah banget kebukanya.


"Sarapan aja yuk," Joshua tahu jika Lisa tidak percaya padanya. "Mau?" tanya Joshua. Lisa menghela nafas sebelum mengangguk. Dia memang sudah sedikit lapar. Semalam ia melewatkan makan malam.


...***...


"Kamu masih mikirin Jeka?" Joshua menghampiri Lisa yang sedang termenung.


"Enggak, kayaknya aku ga pernah mikirin dia deh," Lisa merasa aneh. Joshua hanya tersenyum sambil mendudukkan dirinya di sisi kanan Lisa.


"jadi lagi mikirin apa?" tanya Joshua lembut.


"Pensi," jawab Lisa kehilangan semangat.


"Panitia acara yang minta club dance sekolah kita tampil di sana tuh karena aku. Mereka maunya aku ikut tampil," jawab Lisa lesu.


"Dance tema teatrikal, menarik kan?" terang Lisa. "Tapi kalau sekolah sampai tahu aku terlibat, bisa disuruh keluar aku dari club dance selamanya," keluh Lisa kembali.


"Lisa, kamu harus punya prioritas. Walaupun temanya menarik, tapi kan kamu ada prioritas lain. Aku yakin, sebenarnya yang paling mengganjal kamu tuh anak-anak club dance kita kan?" tebak Joshua tepat sasaran.


"Kalian tuh bukan anak kecil Lisa. Kamu bisa omongin ini semua. Syukur jika panitia pensi masih mengizinkan kalian tampil. Tapi kamu juga harus siapin mental anak-anak untuk kemungkinan terburuknya. Lagi pula, mereka udah harus belajar lepas dari kamu loh," ceramah Joshua panjang lebar. Lisa nampak merenung.


...****************...