SEVENTEEN

SEVENTEEN
Nembak



Anak lelaki itu berlari sekuat tenaga. Mengejar si gadis impiannya. Harus cepat. harus dia nyatakan malam ini. Beberapa kali dia mendapati banyak anak lelaki lain yang juga mengincarnya. Karena itulah dia terus saja mendekatinya.


Dia tidak mau kesalip, ketikung, atau apapun yang sejenis itu. Gadis itu ingin dimilikinya sebagai kekasih. Rasa itu sudah lama dia simpan dalam hati, belum berani diungkapkan. Untunglah, diadakan acara pentas seni di sekolah. Si gadis idaman itu di tunjuk sebagai salah satu panitia.


Hanya saja dia sedikit kecewa. Gadis itu lebih suka bertengkar dengannya meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Sehingga, mereka berdua sering dibilang seperti tom and jerry karena selalu ribut.


Tadi dia mempersembahkan lagu terakhir itu untuk gadisnya. Hanya sepertinya dia tidak sadar. Malah asyik bermain ponsel. Sengaja dia mengundang Tundra and The Backbone, karena lagu band itu sangat sesuai dengan perasaannya.


Seribu wanita


Yang pernah singgah


Hanya datang dan pergi


Dan tak ada hati


Kau pun datang


Ada yang berbeda


Mengapa begini


Apa yang terjadi


Tak pernah sebelumnya


Tak pernah ku duga


Ku akui ku main hati


Ku main hati


Ku tak bisa


Untuk memungkiri


Ku main hati


Bersamamu ku rasakan


Yang tak pernah kurasakan


Sebelumnya


Pencarianku berakhir


Karna ku tlah temukan


Dirimu ....


"Rini, tunggu!" Anak lelaki itu memanggil.


Gadis itu menoleh. Melihat siapa gerangan yang baru saja memanggilnya. Ternyata si abang rupanya. Mau apa lagi sih dia?


"Ya, ada apa?" Dia berhenti dan berbalik.


"Gue mau ngomong." Si abang menarik tangannya. Mengajaknya duduk.


Sekalipun waktu acara persiapan, si abang sempat membantunya sewaktu membereskan booth untuk berjualan, dia tetap saja risih.


"Makasih bantuannya. Pensi kita sukses. Banyak pengunjung yang datang. Pak kepsek muji-muji terus." Si abang mengatakan itu dengan mata berbinar-binar.


"Sama-sama, Bang. Namanya juga kerja tim, saling tolong menolong," jawabnya dingin. Sebenarnya dia juga tidak ingin begitu. Hanya saja, telepon dari bapak yang sedari tadi berdering, menyuruhnya pulang membuatnya tidak konsentrasi. Booth saja dia tutup lebih cepat karena ingin ikut menyaksikan band ternama itu. Sengaja dihadirkan sebagai penutup acara, sehingga para peserta tidak segera beranjak pulang.


Bapak tadi sempat datang mengambil barang-barang kemudian menyuruhnya ikut pulang bersama. Tapi dia memohon supaya di ijinkan pulang agak sedikit larut. Dia panitia, tanggung jawabnya haruslah sampai acara selesai. Itu juga dapat keringanan, jam sepuluh malam sudah cabut.


"Lu pinter milih proposalnya. Yang tampil tadi bagus-bagus. Gue baru tau anak-anak pada banyak yang punya bakat seni. Ga salah lu ditunjuk buat ngerjain bagian itu." Si abang menatapnya dengan wajah penuh cinta. Gadis itu nampak cantik malam ini. Walau hanya dengan memakai kaos panitia dan name-tag.


Hanya saja kali ini berbeda. Rambut yang biasa dia ikat, sekarang di gerainya. Dia juga sedikit memoles wajahnya dengan make-up natural. Jantung si abang semakin berdegup kencang saat melihat gadis itu datang kembali, setelah sempat ijin meninggalkan tempat acara tadi. Ternyata dia diam-diam berdandan sedikit.


"Kan lu juga bantu seleksi akhirnya. Aku cuma ngejalanin tugas," jawab Rini singkat. Ini si abang mau ngomong apalagi sih sebenarnya. Dia udah ditungguin bapak dari tadi, eh malah di tarik ke sini. Ngajak ngomong gaje begini lagi. Tidak bisa besok aja ya?


"Sorry gue suka marah-marah ga jelas. Biasanya deket hari H, jadi agak takut gitu. Takut acaranya ga sesuai sama ekspektasi gue." Oh, si abang mau minta maaf sebenarnya. Merasa tidak enak hati karena sering berselilsih paham.


"Iya, Bang. Aku juga minta maap." Raut wajah Rini terlihat sangat gelisah. Dia sampai meng-silent- kan bunyi ponsel, tidak enak jika berdering terus saat berbicara dengan si abang. Sudah pasti nanti pas pulang, kena marah bapak kalau begini keadaannya.


"Gue juga tau, lu suka ngata-ngatain gue di belakang." So abang tersenyum. Tidak marah. Mana mungkin dia marah dengan bidadarinya.


Eh? Si abang tau? Matek aku, Rini membatin. Keringat dingin mulai dia rasakan di telapak tangannya. Rasa gugup tiba-tiba saja menyelimuti. Aduh, gimana dong?


"Lu sering manggil gue BangKe, singkatan abang Kellan. Ya kan?" Si abang menodongnya dengan sebuah pertanyaan yang mengena hati. Ooow, kamu ketahuan, Rini.


"Eh, sorry. Aku ga bermaksud ...."


"Rin, gue ...." Kellan mencoba memegang tangannya, tapi gadis itu menolaknya. Ada rasa kecewa. Sudah beberapa kali dia ingin menyentuh gadis ini. Hanya memegang tangan pun susah beud. Butuh perjuangan.


"Ada lagi, Bang? Aku mau pulang nih. Bapak udah nelepon dari tadi."


"Gue, suka sama lu. Gue mau kita jadian." Kellan menarik tangannya. Kali ini menggenggamnya dengan kuat. Matanya menatap wajah gadis itu dengan dalam. Sungguh-sungguh dan menunggu jawaban.


Rini membuang muka dan hanya menanggapinya dengan tertawa. Lucu si abang. Sudah sebulan ini marah-marah terus kepadanya. Bertingkah aneh-aneh, sekarang malah menyatakan suka? Ini dia lagi nembak, atau bercanda?


"Kok ketawa sih. Gue beneran suka sama lu. Gue pengen kita pacaran. Gue sayang sama lu." Kellan masih menatap wajah cantik gadisnya. Tangannya masih menggenggam erat, sekalipun Rini berusaha melepasnya.


"Lepasin tangan abang." Dia menolak.


"Kenapa ga boleh? Kan cuma pegang tangan. Habisnya gue kangen terus," jawab Kellan jujur.


Lagi-lagi Rini hanya tertawa. Kemudian menarik paksa tangannya. Kellan merasa sedikit kecewa. Ada banyak cewek di sekolah yang menyukainya. Hanya saja, dia memang tidak tertarik. Rini, sosok gadis yang sederhana. Tidak neko-neko. Kellan mulai memperhatikannya saat acara Rohis tahun lalu. Gadis itu nampak cantik dengan hijab. Wajahnya terlihat berbeda. Terlihat teduh, dan ayu. Hanya sayang, setelah itu dia melepasnya.


Padahal Kellan ini berkata. Jangan melepasnya, kamu lebih cantik tertutup. Tapi dia tidak berani berkata itu, karena dia bukan siapa-siapanya waktu itu. Saat ini pun belum, masih berusaha. Susah sekali mendapatkannya.


"Aku balik dulu ya bang. Udah malem." Gadis itu melambaikan tangan. Berjalan meninggalkan si lelaki yang masih terpaku karena tak mendapatkan respon apa pun.


"GUE BENERAN SUKA! LU NERIMA GUE GAK?" teriaknya diantara kebisingan orang yang berlalu lalang.


Gadis itu berhenti sejenak. Kemudian tersenyum manis. Entah dia akan menjawab iya atau tidak, sendirinya masih belum bisa memutuskan. Kellan merupakan cowok idaman para gadis di sekolah. Dekat dengan dia berarti dekat dengan gosip. Itu yang Rini tidak mau. Dia hanya ingin tenang bersekolah, menyelesaikan pendidikan, dan segera mencari pekerjaan, untuk membantu ekonomi keluarganya.


Melihat senyuman Rini saat menolehkan wajahnya tadi, entah mengapa Kellan merasa gadis itu telah menerimanya.


"Rini, lu ga perlu ngomong apapun. Gue udah tau jawabannya." Kellan tersenyum.