SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 1



Lisa sedang bingung dengan undangan yang ada di tangannya. Ia berjalan dan tampak tak fokus. Berkali-kali terdengar helaan nafas berat darinya.


"Bagaimana ini?" Lisa merenggut kesal.


Lisa yang berjalan dengan menunduk pun tak sengaja menabrak seseorang. Orang yang asing. Ia telah sekolah di sini selama satu setengah tahun, namun ia tak pernah melihat laki-laki yang sedang meringis di depannya ini.


"Ah, maaf," Lisa segera membantu lelaki tersebut untuk berdiri, "Apakah ada yang terluka?" tanya Lisa panik.


"Tidak apa.. Tidak apa," Laki-laki tersebut menjawab dengan panik karena Lisa tak berhenti memutar-mutar tubuhnya.


"Ah ya, maaf," Lisa melepaskan laki-laki itu setelah menyadari apa yang ia lakukan. "Aku sedang tidak fokus, jadi," Lisa membungkuk kembali untuk meminta maaf.


"Sudahlah," ujar lelaki tersebut sembari tersenyum manis.


"Aku murid baru di sini, dan sedang mencari ruang kepala sekolah," ujarnya.


"Akan ku antar," Lisa berbalik dan segera berjalan mendahului si murid baru. Ia masih merasa bersalah. Dan apa tadi? Senyumnya sangat manis, hingga Lisa yang sudah tak fokus menjadi semakin kehilangan fokusnya.


Melihat Lisa yang salah tingkah pun membuat Minghao kembali tertawa kecil. Gadis itu, selain cantik juga sangat lucu. Ia berjalan mengikuti langkah Lisa.


"Menurutmu bukankah seharusnya kita berkenalan terlebih dahulu?" ucap Minghao karena Lisa berjalan semakin cepat.


Lisa terkejut. Benar juga, tapi memangnya harus? Entah Lisa tak bisa berpikir.


"Minghao,"


Lisa mendongak pada laki-laki manis dan tinggi di hadapannya. Ia bisa lihat senyum manis yang masih bertengger di bibirnya. Membuat Lisa ikut tersenyum dan menyebutkan namanya.


"Nama yang cantik," ucap Minghao kalem. Lisa pun menunduk malu dan berterimakasih dengan suara pelan.


"Ayo ku antar ke ruang kepala sekolah," ucap lisa akhirnya. Ia ingin segera kabur agar debaran jantungnya bisa normal kembali.


...***...


"Hai, kita ketemu lagi, Lisa," Minghao menghampiri Lisa yang sedang duduk berdua di kantin bersama dengan Rose sahabatnya.


"Ah ya, hai," Lisa menyambut Minghao dengan gugup.


"Boleh ikut duduk di sini? Tempat lain penuh," ucapnya sedikit berbohong. Di ujung lainnya, ia melihat ada beberapa bangku kosong. Tapi tentu saja ia akan lebih memilih duduk bersama Lisa. Ia juga belum mengenal satu teman pun di sekolah barunya ini.


"Oh ya, perkenalkan ini Rose temanku," Lisa memperkenalkan mereka. Mereka pun berbasa-basi sedikit.


"Kamu di kelas mana?" tanya Rose ramah.


"Sebelas IPA dua," jawab Minghao.


Lisa dan Rose hanya mengangguk saja. Mereka tetangga kelas. Dan info ini juga telah di ketahui Minghao karena ia melihat Lisa saat akan ke kantin tadi. Minghao pun tersenyum. Mereka makan dengan cukup sunyi. Mungkin canggung.


...***...


"Jadi gimana pensinya Sa?" tanya Rose memecah keheningan di antara mereka.


"Kenapa lo ingetin soal itu lagi sih?" Lisa mengerang frustasi. Ia ingin makan dengan tenang tanpa harus memikirkan beban pikiran yang sejak pagi mengganggunya.


"Hehe, maaf," Rose hanya tersenyum merasa bersalah.


"Ada apa?" tanya Minghao penasaran.


"Tapi masalahnya, tema tarian yang diminta adalah pasangan," terang Rose. "Itu sama sekali bukan bidang Lisa," Rose menutup ceritanya dengan sedikit dramatis dari nada suaranya.


Minghao mengangguk mengerti, "akan ku bantu," jawabnya tanpa ragu.


Lisa dan Rose menatap heran pada Minghao. Apakah ia benar-benar bisa membantu? Bantuan semcam apa? Jangan katakan bantu doa ya, atau Lisa akan benar-benar menendangnya. Lisa sedang tidak mood untuk bercanda.


"Aku bisa sedikit dance," Minghao mengatakannya setelah melihat ekspresi kedua orang di hadapannya.


Lisa hanya mengangguk. Ia tak ingin terlalu berharap, namun ia juga tak bisa langsung menilai apakah Minghao benar-benar bisa atau sekedar membual. Ia akan memberi kesempatan pada Minghao untuk menunjukkannya setelah pulang sekolah nanti. Begitu cukup adil kan.


...***...


"Lo yakin mau sama Minghao?" tanya Rose sambil membereskan perlengkapan sekolahnya. Ia bersiap untuk pulang.


Lisa hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rose. "Gue kan belum kenal dia Rose, kita gak tau potensi yang dia punya," jawab Lisa akhirnya. "gak adil kalau kita langsung nge-judge dia gak bisa, sementara kita gak tahu apa-apa,"


"Yaudah, gue pulang duluan. Good luck ya," pamit Rose sambil berlari keluar kelas.


Lisa mengikuti langkah Rose untuk keluar dari kelas. Rupanya di depan kelasnya sudah ada Minghao yang sedang menunggunya. Ia kan tak tahu dimana ruang dance. Jadi ia harus bareng dengan Lisa, begitulah batin Minghao.


"Lisa, aku minta nomor kamu boleh?" tanya Minghao. "Tadi aku mau langsung ke ruang dance, tapi gak tahu itu dimana," lanjut Minghao memberi alasan.


"Boleh kok," jawab Lisa sambil mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.


Minghao tersenyum menatap nomor Lisa yang tersimpan di dalam kontaknya. Ia segera memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam sakunya dan berjalan beriringan dengan Lisa di sepanjang koridor sekolah menuju ruang latihan dance.


"Kamu udah tahu lagu apa yang mau kamu pake untuk dance-nya nanti?" tanya Minghao memecah kesuanyian.


Lisa menggeleng. Jujur ia saja masih bingung dengan siapa ia harus berpasangan. Dan terus terang, ia sedikit kesulitan untuk membuat koreografinya. Jadi, ia sama sekali tidak kepikiran hal lainnya. Lebih tepatnya ia tak sempat memikirkannya.


"Memang kapan pensinya?" tanya Minghao.


" Minggu depan" jawab Lisa dengan sorot mata pasrah.


Minghao tersenyum melihat Lisa mau jujur dengan perasaannya saat ini di hadapannya. Ia bisa mengerti kegugupan gadis di sampingnya.


"Nanti kita pikirin sama-sama ya," ucap Minghao tenang.


Meskipun Lisa masih belum tahu kemampuan Minghao, namun ia cukup tersentuh dengan sikap yang pria itu tunjukkan. Dan perasaan tenang pun menyelinap di hatinya. Kerisauan yang sedari pagi mengganggunya, entah bagaimana, perlahan mulai menghilang.


"Gimana kalau lagu faded dimedley sama lagu attention?" Minghao sudah memiliki sidikit bayangan koreografi untuk kedua lagu tersebut. "Kita tidak harus terus menari berpasangan kan?" ucap Minghao lagi.


"Yah, ku rasa begitu. Kita bisa menari bersama di sela-sela tampilan," jawab Lisa.


Minghao mengangguk setuju. Bukankah malah akan membosankan jika sepanjang lagu kau menempel dengan pasanganmu. Ini bukan pertunjukan dansa.


"Jadi kamu juga suka dance?" tanya Lisa akhinya.


"Em, sangat suka," jawab Minghao dengan tersenyum. Ada binar di matanya yang terlihat oleh Lisa. Hal itu membuat Lisa mempercayai Minghao, meskipun ia belum melihat seperti apa tarian pria di sebelahnya ini.


"Nanti sekalian aja gabung sama ekskul ini," tawar Lisa.


"Boleh?" tanya Minghao iseng. Ia tahu jika Lisa masih meragukan kemampuannya. Dan hal itu wajar saja, mereka kan memang baru saling mengenal tadi pagi. Bahkan Minghao sendiri juga kan tidak tahu seperti apa kemampuan Lisa dalam menari. Tapi mereka tidak saling men-judge satu sama lain. Ini menunjukkan jika Lisa cukup baik dan dewasa. Minghao suka.


...****************...