SEVENTEEN

SEVENTEEN
Si BangKe



Bruk!


Gadis itu menghempaskan setumpuk kertas di meja. Amarahnya meluap. Kesal setengah mati.


"Dasar BangKe." Dia mengumpat, entah untuk yang ke berapa kalinya. Jika berhadapan dengan yang satu ini, emosinya mendadak meluap-luap. Bagai api yang di siram bensin. Membakar semua yang ada di dekatnya.


"Hus. Jangan ngomong gitu. Nanti orangnya datang, bisa berabe kita." Maya, sahabat karibnya mengingatkan. Dalam situasi begini, ssekalioun hati panas, tapi kepala harus tetap dingin. Ada perbedaan pendapat pun harus di dibicarakan dengan baik-baik. Musyawarah untuk mufakat.


"Biarin, aku sebel." Gadis itu menghentak-hentakkan kaki. "Liat nih. Proposal sebanyak ini kita yang disuruh seleksi. Terus dia ngapain? Tebar pesona sama cewek-cewek?" Tangannya menunjuk kertas-kertas yang berhamburan. Maya hanya bisa menggelengkan kepala, sembari membantu membereskan sebagian kertas yang berserakan di lantai.


"Udahlah. Kerjain aja. Ga usah ngedumel." Dia menumpuk kertas-kertas itu menjadi satu. Mengambil tali dan mengikatnya. Biar kalau Rini mengamuk lagi, itu berkas masih aman tidak bergerak sedikitpun. Bahaya kalau sampai hilang, bisa kena semprot lagi sama si BangKe itu.


"Ini kan kerjaannya dia. Kita mana ngerti yang mana yang mau di approve." Mulut Rini tak berhenti sejak tadi. Mungkin, cewek-cewek memang begitu ya. Beluh sah, kalau seharian belum ngedumel.


"Lu liat-liat aja dulu. Kalau mirip, reject aja. Beres."


"Aku ga mau ngerjain. Biar aja dia yang ngurusin. Emangnya aku ga punya kerjaan lain apa? Belum tugas-tugas dari sekolah. Pelajaran. Arghhh!" Dia meremas-remas rambut panjangnya. Penampakannya juga sudah seperti nenek lampir. Rambut acak-acakan.


Ehem!


Kedua gadis itu menoleh. Wajah mereka langsung berubah saat melihat siapa orang yang sedang berdiri di belakang.


"Pada ngobrol apaan nih?" Lelaki itu bertanya. Ada gelagat aneh dari dua temannya ini. Dia mencurigai sesuatu.


"Eh, engga bang. Ini gue lagi nyiapin buat konsumsi. Kalau Rini lagi milih-milih proposal." Maya menunjuk gadis di depannya.


Rini, sahabatnya balas mencibir. Maya jadi berubah kalau si abang ini datang. Lempeng. Memang BangKe dia, gadis itu membatin.


"Udah beres?" Lelaki itu memandang ke arah yang di tunjuk. Melihat seraut wajah cantik di hadapannya yang ctampak menunduk. Tak berani juga sebenarnya.


Gadis itu, Rini. Salah satu anggota OSIS yang ditunjuk untuk jadi panitia di event ini. Sekolah mereka akan mengadakan pentas seni. Menjadi suatu kebanggaan sebenarnya bagi mereka. Hanya saja, karena sekolah ini salah satu yang ter-favorit, mereka harus benar-benar mempersiapkannya. Tidak boleh asal-asalan.


Ada banyak orang yang berpartisipasi pada event. Para guru dan murid-murid, yang walau pun bukan pengurus organisasi, mereka ikut terlibat di dalamnya. Bahkan, penjaga sekolah, ibu-ibu kantin juga ikut meramaikan. Sekolah nampak sibuk dan ramai mendekati hari H.


"Belum, Bang. Masih seleksi." Agak takut juga sebenarnya dia saat berhadapan dengan abang yang satu ini. Galak. Judes kalau ngomong. Tidak sesuai dengan tampangnya yang telihat baik-baik.


Eh iya, di luar sana dia memang begitu. Kalem dan mempesona. Hanya pengurus OSIS lah yang tau kelakuannya bagaimana kepada sesama anggota.


Si abang ini ketua yang baru, kakak kelas mereka. Menggantikan pengurus lama karena sudah lulus dan masuk uiversitas.


Dia terpilih karena memenangkan olympiade sains tingat propinsi tahun lalu. Selain itu, setelah di polling, hasil suaranya memang yang paling banyak. Pemilihnya, pastilah para ciwi-ciwi pengagum rahasianya.


"Terus, kenapa pada gosip? Waktunya udah deket loh yah. Jangan kebanyakan main, inget tanggung jawab." Si abang melipat tangan di dada. Gaya khas-nya, yang semua orang juga tahu jika sedang dalam mode songong.


"Tapi, aku juga kan ga tau yang mana yang mau diloloskan. Ini kan kerjaan lu, Bang." Rini mencoba ber-argumen. Bukan untuk ribut, hanya memberikan alternatif. Dia sendiri juga tidak sanggup mengerjakan semuanya, sebanyak itu.


"Dipilih-pilih aja mana yang layak. Setor ke gue. Nanti gue seleksi lagi. Gampang kan?"


"Ini ada 50 proposal bang. Aku harus selesaikan 3 hari? Gila aja!"


"Ya terserah lu aja gimana caranya. Gue taunya terima bersih."


"Udah. Seminggu ini lu fokus aja dulu sama event kita, yang lain biarin aja dulu."


"Ga bisa bang. Mading itu tanggung jawab aku. Udah seminggu engga di update. Anak-anak pada nanyain. Mereka minta aku bahas olympiade sains bulan lalu. Kan udah ga up to date lagi kalau aku bahasnya bulan depan."


"Penting mana sama event kita? Sekolah kita ini percontohan loh ya. Kalau sukses, sekolah yang lain bakalan ikutan."


"Ya lu bantuin kita juga lah. Masa semua diserahkan ke kita."


"Lu pikir gue ga kerja? Yang cari sponsor sama donatur siapa kalau bukan gue? Kalian cuma diminta bantuin sedikit aja udah ngeluh. Gue keliling tau ke kantor-kantor. Ada yang nolak, ada yang nerima. Emang perlu gue jelasin semuanya ke kalian?" Nada suara si abang mulai meninggi.


Maya yang sedari tadi hanya menyimak, merasa deg-degan. Apakah pembicaraan dua orang ini akan semakin panas yang mengakibatkan pecah perang dunia kelima, atau hanya berlalu begitu saja. Pengalaman yang sebelum-sebelumnya, sudah pecah perang dunia ketiga dan keempat. Sehingga harus dilerai dari pihak guru, dan kemudian terjadilah gencatan senjata.


"Emang kurang banyak banget ya bang dananya. Kenapa ga pake dana kas sekolah aja." Maya ikut bertanya. Sejak tadi dia hanya memperhatikan dua orang ini berdebat. Dia berasa jadi obat nyamuk.


"Jelas lah kurang. Kita mau undang dari luar juga kok. Bukan hanya siswa di sekolah ini."


Kedua gadis itu terdiam saling berpandangan.


"Anak-anak ekskul seni juga udah pada pinter, ga usah pake ngundang "Tundra and The Backbone" juga kali."


Rini tau, si abang ini sangat terobsesi dengan group band yang satu itu. Sampai bela-belain nge-lobby kemana-mana buat bayar mereka.


"Kita jualan tiket masuk ya. Orang luar yang mau ikutan harus bayar. Keuntungannya juga buat sekolah, buat kita-kita juga. Jadi gue kudu ngundang group band itu biar peminatnya makin rame."


"Kan bisa ambil band lain. Biar murah bayarnya."


"Ini gue juga udah nego kok minta mereka jangan masang tarif tinggi. Namanya juga acara anak sekolahan. Mereka setuju aja."


Huh, alasan. Paling juga entar dia yang joget-joget sama ikutan nyanyi. Banyak kok group band lain yang bagus, bayarannya lebih murah. Kenapa itu juga yang dipilih. Terserah dia, suka-sukanya aja. Rini membatin dalam hati.


"Ya udah beresin semua kerjaan kalian. Gue minta tepat waktu. Lagian ini juga udah pernah dibahas waktu rapat sama dewan guru. Ga perlu gue ulang." Lelaki itu berjalan keluar ruangan.


Dia harus memastikan semuanya berjalan lancar. Sekilas, orang mungkin melihatnya hanya berjalan-jalan mengecek segala sesuatunya. Tapi, di balik itu semua, tanggung jawabnya besar.


"Lu cocok deh sama si abang. Kayak tom and jerry. Ribut mulu, tapi suka cari-carian kalau salah satu ga ada." Maya tersenyum geli.


Rini mendelik. Matanya melotot. Enak aja, aku sama si BangKe itu?


"Lu aja kali May. Lu kan kalem, dia sengak. Lu yang cocok. Aku mah ga selera yang model begituan."


"Eits, awas takabur lu. Entar lu suka beneran."


"Ga bakal!"


"Ish, lu benci sama dia. Entar lama-lama jadi benar-benar cinta." Maya tergelak melihat tingkah sahabatnya.


Rini memang sejak awal tidak akur dengan si abang ini. Selalu saja ribut setiap ada kegiatan. Kalau anggota OSIS yang lain hanya meng-iyakan semua keputusan si abang, Rini berbeda. Dia akan menyampaikan pendapatnya jika itu bertentangan. Inilah yang sering membuat keributan saat rapat berlangsung.


Eh, eh. Dari tadi ngomongin si abang. Sebenarnya siapa sih yang dipanggil si BangKe ini?