SEVENTEEN

SEVENTEEN
Jeonghan - 1



"Siapa dia?"


Lisa melihat seseorang berjalan melintasi kelasnya. Dia sangat tampan. Ah tidak, mungkin karena terlalu tampan, ia terlihat cantik. Lisa tidak bisa tidak terkesan atas presensi orang itu.


"Namanya Jeonghan, yah dia memang populer," ucap Rose menjelaskan. Tangannya memangku kepalanya sambil masih melihat keluar kelas.


Guru yang mengajar kelas Lisa nampak sangat lelah. Bahkan beliau hampir tertidur di mejanya. Ia hanya masuk untuk memberikan tugas yang harus dikumpulkan hari ini juga. Lalu, dia merasa berhak untuk tidur di jamnya mengajar. Sungguh contoh yang baik.


Lisa memutar pulpen yang berada di antara jemarinya. Ia masih menatap tempat dimana lelaki tadi menghilang. Entah kenapa, Lisa merasa suka melihat itu. Padahal tak ada yang istimewa. Hanya lorong kelas kosong, yang beberapa saat lalu dilewati oleh Jeonghan.


"Hei anak baru, ngelamun terus! Mau bapak hukum?!" tegur sang guru mengagetkan Lisa.


...***...


Kini berakhirlah Lisa di lapangan futsal yang kosong. Ia diminta untuk membersihkan tempat ini. Ya, ini adalah hukuman bagi Lisa yang melamun di kelas. Padahal dia sudah selesai mengerjakan tugas dari sleepy teacher itu. Lisa telah menyematkan julukan baru untuk si guru yang menyebalkan.


Namun, saat Lisa baru saja akan berjalan menuju ruang peralatan kebersihan, ia melihat seseorang tergeletak di pinggir lapangan. Lisa pun berpikiran buruk. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada lelaki ini. Tunggu! Bukankah dia adalah siswa yang sama yang membuatnya melamun di kelas?


"Hei," Lisa bingung harus memanggil apa. Bahkan ia tak tahu kelas berapa orang ini.


Lisa menggoyangkan tubuh pria itu perlahan. Apakah orang ini sedang pingsan? Lisa pun panik akibat pemikirannya sendiri.


"Hei, Jeonghan!" tanpa sengaja Lisa sedikit berteriak.


Jeonghan membuka matanya. Ia nampak malas. Fans lainnya lagi kah? Begitu batin Jeonghan. Ia menghela nafas kasar. Nampak sekali jika ia merasa kesal.


Melihat ekspresi itu membuat Lisa sedikit menciut. Salahnya memang yang sembarangan membangunkan orang yang sedang tertidur. Namun ya bukan salah Lisa jika ia sampai salah paham. Jeonghan tidur persis seperti orang mati.


"Gue dihukum guru buat bersihin lapangan, kalo lo tidur di sini, nanti lo keganggu," cicit Lisa masih merasa sungkan.


Jeonghan bangkit tak peduli. Ia berlalu masih dengan tatapan malasnya. Ia berjalan pergi meninggalkan Lisa yang masih duduk di posisi yang sama, di dekat ia tertidur tadi.


"Orang itu udah kayak gak ada semangat hidup," Lisa bergumam kecil. Namun masih cukup keras untuk mencapai telinga lelaki tampan sekaligus cantik itu.


Jeonghan menghentikan langkahnya. Ya, mungkin mati pilihan bagus. Dia yang memang sedang kesal, serasa tak bisa menoleransi apapun lagi. Emosi tiba-tiba menguasai dada lelaki itu. Tangannya mengepal kuat di sampingnya. Matanya terpejam erat hanya agar ia tak membanting apapun yang ada di dekatnya.


Lisa merasa heran atas diamnya Jeonghan. Ia merasa bersalah karena mungkin saja Jeonghan mendengar kalimatnya barusan.


"Maaf,"


Ia menunduk, benar-benar merasa bersalah. Mereka hanya sebatas orang asing. Dan Lisa merasa ia sudah kelewatan.


Jeonghan berbalik dan menatap Lisa tajam. Kepalanya miring dengan wajah datar. Namun ada kilatan emosi di mata pria itu. Lisa pun bergidik dibuatnya. Ia pun semakin menundukkan kepala. Dadanya bergemuruh kencang, Lisa merasa sangat gugup sekarang.


"Lo tahu apa yang paling menyebalkan di dunia ini?" Jeonghan mengucapkannya dengan nada yang sangat dingin. Wajahnya masih sangat datar, namun matanya menggelap. Suasana nampak tenang namun justru terasa semakin mencekam. Lisa yang ketakutan tanpa sadar melangkah mundur.


Lisa terkesiap. Perasaan bersalahnya semakin membesar seolah menyesakkannya. Bahkan kata-katanya telah tercekal di kerongkongan. Ia mati kutu, bahkan sebelum bisa melawan.


"Maaf, gue pikir lo gak denger," Lisa mencicit takut, "dan tadi, gue khawatir ngeliat lo ngegeletak di lantai, gue," Lisa tercekat, kepala bodohnya merasa bahwa tak seharusnya ia mencari alasan yang malah terdengar sangat menyebalkan.


Jeonghan tersenyum miring. Bahkan mungkin ia ingin terbahak mendengar penuturan gadis di hadapannya. Bagaimana bisa orang asing sepertinya berusaha masuk sejauh ini?


"lo tahu, 'seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan'. Lo tahu artinya?"


"Minke" otak beku Lisa lagi-lagi tak bisa diajak kerja sama. Ia pun memukul mulutnya perlahan, masih sambil menunduk. Dalam hati ia merutuki segala tingkah dan perkataannya barusan.


"Gue tanya artinya, bukan kutipan dari siapa," Jeonghan melunak melihat tingkah Lisa yang terlihat sangat serba salah. Mungkinkah dia merasa bersalah? Jeonghan tak tahu. Mungkin ia tak perlu tahu, karena sebenarnya ia tak benar-benar peduli.


"Maaf, gue gak seharusnya nge-judge lo bahkan saat gue sama sekali gak kenal sama lo," Lisa memberanikan diri menatap Jeonghan. Ia telah pasrah. Bagaimana pun, benar dia telah salah. Cara laki-laki di depannya dalam menyerangnya memang sangat menyebalkan. Tapi Lisa tak bisa protes.


Jeonghan hanya menatap Lisa sesaat. Tatapannya masih sangat dingin menusuk. Tapi sesungguhnya sudah tak semenyeramkan sebelumnya. Setidaknya, Jeonghan masih bisa membedakan permintaan maaf yang tulus dan tidak.


...***...


Ekspektasi, harapan, ah tidak, lebih parah lagi, tuntutan atas setiap jalan yang musti dipilih dalam hidup, memenjarakan setiap inci kehidupan Jeonghan. Ia harus begini, begitu, menjadi ini dan itu, bersikap begini, begitu dan seterusnya. Ia sudah sangat muak. Namun, entah bagaimana ia bisa menjadi begitu pengecut. Selalu merasa takut untuk melarikan diri.


Dan ia semakin hancur, saat sahabat satu-satunya pergi. Hong Jisoo, satu-satunya hal yang ia miliki. Jisoo adalah dunianya, rumah tempat ia pulang. Seseorang yang mengerti segala tentangnya. Seseorang yang sedemikian baik, tulus dan pengertian. Namun, semua lenyap saat kematian merenggutnya.


Jadi mengapa Jisoo tak membawanya serta? Mengapa ia harus ditinggalkan? Dunia ini bukankah terlalu kejam untuknya yang rapuh? Jeonghan bahkan sudah kehabisan air mata untuk sekedar menangis, meluapkan segala gejolak dalam hatinya.


"Jisoo ya, tak bisakah kau datang menjemputku?" Jeonghan bergumam lemah, "aku rindu,"


Angin sore membelai wajah Jeonghan yang kurus. Matanya yang kuyu menutup rapat. Ia membiarkan rambutnya dipermainkan oleh angin. Sungguh, ia telah sangat lelah. Ia membiarkan tubuhnya bersandar pada dinding halte yang penuh coretan.


"Jeonghan,"


Jeonghan merasa terkejut saat ia mendengar suara perempuan memanggilnya. Namun, saat mengingat suara siapa itu, Ia sontak menghela nafas. Belum lama mereka berdebat. Cukup sengit, jika ia mengingat kata-kata tajam yang telah ia lontarkan pada gadis itu. Namun, memang tak sebaiknya kau melanggar batasanmu. Dan sekarang apa lagi? Apakah ia akan kembali melewati batasannya?


Saat membuka mata, Jeonghan melihat Lisa masih berdiri di depannya. Raut wajahnya nampak canggung. Ia tak bisa menebak, apa mau gadis cantik di hadapannya ini.


"Maaf, gue gak maksud buat ganggu. Gue nemuin ini di lapangan tadi. Gue rasa ini punya lo," Lisa terlihat sangat kikuk. Namun ketulusan terpancar di matanya. Ia bahkan masih sangat merasa bersalah. Dan kalimat tajam Jeonghan telah menamparnya dengan parah.


Sebuah gelang terbuat dari manik-manik yang sudah kusam berada di tangan Lisa yang terulur. Jeonghan terkesiap melihat gelangnya, gelang pemberian Jisoo. Gelang yang dibuat sendiri oleh Jisoo untuknya. Benar, gelang itu sangat berharga bagi Jeonghan. Itu adalah hartanya.


Namun entah mengapa Jeonghan tak segera mengambilnya. Ada satu perasaan mencengkam yang tiba-tiba menindihnya. Gelang itu hanya membuatnya menjadi semakin rindu. Merasa jauh lebih kehilangan, bahkan lukanya seolah seperti baru ditorehkan beberapa saat lalu. Ia tak sanggup untuk jatuh kesekian kalinya. Pandangannya menggelap dan tubuhnya limbung ke depan. Untung saja, Lisa dengan sigap menangkapnya.


...****************...