SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 1



Katakanlah, apa yang bisa membuatmu tak menyukai Vernon? Bule campuran Indo-Amerika yang ganteng banget, tapi sekaligus juga keren dan berprestasi. Walaupun masih SMA, Vernon adalah photographer yang cukup dikenal. Bahkan dia udah punya beberapa gig yang lumayan gede. But yet, dia juga jago dance, jago nyanyi, nge-rap juga. Itu kenapa cewek-cewek biasanya selalu histeris kalau ketemu Vernon.


"Vernon, photo-nya udah semua?"


"Belum, tinggal photoin main model aja. Kemana dia?"


"Cari aja, biasanya dia nongkrong bareng anak-anak cowok," lalu Vernon menunjukkan tanda okay menggunakan jarinya.


Ini adalah salah satu gig Vernon yang lumayan gede bagi photographer yang masih SMA ini. Dia ditunjuk sebagai photographer utama untuk peluncuran design baru dari salah satu rumah mode di Jakarta. Walau tergolong masih sangat muda, tapi ke-profesionalan Vernon patut diacungi jempol.


"Vernon, come in," ini suara main model ceweknya. Ia melihat Vernon yang asik ngambil gambar candid acara ini, mengarahkan kameranya pada model yang seharusnya memang jadi object photo-nya dari tadi.


"Gue denger lo bisa nyanyi, ayo party dulu lah," ujar sang model itu.


Vernon tersenyum, ia pun masuk ke ruangan dimana live music sedang berlangsung. Beberapa orang menyambutnya, bahkan sempat berbasa-basi. Terus terang, Vernon tak benar-benar tahu, siapa mereka. Namun, karena pekerjaan ia harus ramah.


"Vernon tampil ya," tanpa menunggu Vernon mengiyakan, sang main model telah menuju panggung dan memanggil Vernon untuk menampilkan satu atau dua lagu.


"Baiklah, lagi pula ia rasa photo yang ia ambil untuk acara ini sudah lebih dari cukup," batin Vernon sambil melangkah menuju panggung.


...***...


"Lo tahu ga? Masa majalah sekolah kita ngundang anak sekolah lain buat jadi covernya," gerutu seorang editor majalah sekolah.


Vernon mengernyitkan keningnya. Bukankah majalah sekolah biasanya mengangkat tema-tema internal ya? Kenapa malah ada anak luar sekolah yang musti masuk ke majalah sekolah mereka?


"Gue bener-bener gak ngerti sama cara berpikir Pak Dandi deh," si editor masih saja menggerutu. Ia bahkan tak segan menatap Vernon jengkel.


"Ya lo jangan marah sama gue, gue cuma photographer," Vernon melambaikan kamera ke arah temannya itu.


"Nih," si editor itu menyodorkan lembar jadwal photoshoot bareng anak luar sekolah itu. "Gue ga rela deh, Vernon," gerutunya. "Kayak sekolah kita kekurangan murid berprestasi aja loh," Ia masih nampak kesal.


Vernon mengangguk setuju. Memangnya anak ini siapa sih, sampai majalah sekolahnya harus banget meliput dia. Malahan dijadiin cover. Yang mana artinya, dia akan jadi berita utama majalahnya kan.


Well, Vernon memang sudah menjadi photographer profesional. Tapi ia tetap aktif menjadi photographer untuk majalah sekolahnya. Bahkan ini sudah ia lakukan sejak kelas sepuluh. Meski saat ini Vernon sudah tak terlalu aktif, karena ia adalah siswa kelas dua belas yang musti fokus belajar. Namun jika ada hal penting, maka Vernon lah yang akan menjadi photographer-nya. Seperti sekarang, ia ditunjuk sebagai photographer anak SMA sebelah yang bakalan jadi cover di majalah sekolahnya.


...***...


"Jadi yang mana orangnya?"


Vernon menatap ke penjuru ruangan. Ia sedang bersama dengan penulis artikel di majalah sekolahnya. Rencananya, si penulis akan merangkap menjadi pewawancara juga.


Rose ikut celingukan. Rose, si penulis artikel, pun belum pernah ketemu sama orang yang bakal ia wawancara. Namun ia sudah melakukan riset kecil-kecilan sebagai bahan wawancaranya. Jadi, ia sudah melihat photo gadis itu melalui akun instagramnya.


"Ah itu dia,"


Seorang perempuan, yang memiliki kesan misterius namun entah bagaimana ia seperti magnet berjalan yang menarik semua atensi padanya tanpa ia harus mencoba. Vernon sudah bertemu berbagai macam karakter juga berbagai macam wajah yang cantik berkat profesinya. Namun, perempuan ini berbeda. Vernon tak bisa menjelaskan bagaimana, tapi gadis itu seperti penyihir. Tak ada satu pun yang bisa melewatkan pesonanya.


"Halo gue Lisa," dia tersenyum ramah.


Rose dan Vernon semakin tercengang. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki aura sekuat itu bisa tersenyum semanis ini? Sempat terbata akhirnya Rose membalas senyumannya dan menjabat tangan Lisa. Ia pun memperkenalkan dirinya juga Venon.


"Mau mulai sekarang?" tanya Lisa setelah basa-basi singkat bersama Vernon dan Rose.


...***...


Vernon tak pernah menyangka jika photoshoot akan selesai jauh lebih cepat dari perkiraannya. Bahkan beberapa kali ia berurusan dengan model profesional pun suka ada aja dramanya. Lisa, dia bukan hanya berbakat dalam bidang modeling, namun ekspresi wajahnya dan pancaran auranya belum ada yang bisa ngalahin. Ini, sejauh apa yang Vernon tahu.


"Lisa, gue yang wawancara," Rose menghampiri Lisa.


"Btw, gue kasar ga kalau nanya, kenapa lo yang musti jadi cover majalah gue?" Lisa terkejut dengan pertanyaan Rose yang cukup frontal. Begitu pula Vernon. Apa yang ada di pikiran gadis itu? Begitu pikirnya.


"Ah, Em, jujur gue juga gak tahu, hehe," Lisa tersenyum canggung.


"Sorry.. Sorry.. Temen gue cuma penasaran. Gue harap lo gak tersinggung," kata-kata Vernon terdengar tulus.


"Its okay," Lisa malah tertawa. "Karena gue pun merasa aneh, apalagi kalian," Lisa masih tersenyum lebar.


Vernon kembali terkesiap. Seharusnya ia mengambil gambar itu. Pasti hasilnya bagus sekali. Tapi bukankah tadi aksi reaksi spontan, jadi Vernon mana kepikiran.


"Lisa, gue minta maaf kalo gue kasar," Rose tersenyum canggung.


"Gimana kalo gue mulai dari ceritain diri gue aja?" ujar Lisa menengahi. "Biar lo ada bahan pertanyaan selanjutnya,"


Rose mengangguk cepat. Bukan ide yang buruk sebenarnya. Lalu, Vernon, ia mengambil tempat duduk tak jauh dari sana. Berusaha menangkap momen melalui kameranya.


"Gue siswi kelas dua belas di SMA Taruna Bakti," Lisa mengawali perkenalannya. "Awal mula gue bisa ditawari untuk jadi cover majalah sekolah adalah, karena brand gue kali ya," Lisa tersenyum cantik sekali.


"Kalau kalian tahu berita tentang Selena Gomes yang pake baju rancangan anak Indonesia, itu adalah design gue," Lisa menambahkan.


"Semenjak itu, beberapa sekolah nawarin gue buat diwawancara kayak gini juga," Lisa bisa melihat ekspresi terkejut dari teman-teman baru di depannya.


"Sebenarnya gue kaget waktu dapet telepon dari wakil kepala sekolah kalian. Karena hype berita tentang gue kan udah lewat sebulan yang lalu," Lisa melanjutkan. "Tapi berhubung kalian sendiri gak tahu mau wawancara tentang apa ke gue, yah gue nebak aja, mungkin tentang itu," Lisa menutup penjelasannya dengan senyumannya yang cantik.


...****************...