
Rini
Suara raungan motor terdengar di depan rumah. Aku yang sedari tadi masih bersiap-siap mengintip dari balik jendela kamar. Siapa sih yang datang bertamu pagi-pagi begini?
"Rini! Ada temanmu datang." Suara
Bapak menggelegar menggema seisi rumah. Mendengarnya saja membuat aku ketakutan. Bapak memang begitu, dalam mendidik sangat displin, karena itulah aku segan kepadanya. Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya.
Aku segera keluar dari kamar danĀ melihat ke luar. Mulutku menganga saat melihat siapa yang datang. Lelaki itu nampak santai saat membuka helm dan jaketnya. Berjalan menuju rumah.
"Assalamualaikum." Dia mengucap salam.
"Wa ..."
"Walaikumsalam."
Kata-kataku terpotong saat hendak menjawab. Ternyata ada bapak duluan yang menyambut kedatangannya.
Aku bersembunyi di balik pintu. Mengintip, melihat apa yang akan dilakukan bapak kepadanya. Bukan pertama kalinya ada lelaki yang datang mencari ku. Semua terusir dengan tampang sangar dan mulut kasar bapak.
"Om." Kulihat dia mengambil tangan bapak dan menciumnya.
"Hem." Bapak menganggukkan kepala, diam, tak berkata apa pun.
"Rini ada, Om?" Dia bertanya. Tangannya sesekali melirik jam tangan, takut terlambat sepertinya.
"Mau berangkat bareng?" tanya bapak dengan nada suara yang dingin.
"Kalau om izinkan." Dia memandang wajah Bapak dengan sedikit ragu.
"Boleh."
Uhuk!
Aku tersedak mendengarnya. Bapak ngasih izin? Mimpi apa aku semalam.
"Rini, keluar! Jangan sembunyi di balik pintu. Ini ada temanmu datang kok ndak disambut."
Jantungku serasa mau copot saat mendengar Bapak mengucapkan hal itu.
"Bang." Aku menyapanya. "Ngapain abang ke sini?"
"Ya jemput kamu lah. Pakai nanya lagi. Sudah sana ambil tas sama jaket. Nanti terlambat ke sekolah." Bapak berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ibuk gimana, Pak?" tanyaku ragu. Aku belum selesai mengurusnya.
"Nanti biar bapak yang ngurus sebelum berangkat ke toko." Bapak menjawab sebelum tubuhnya menghilang dari balik pintu.
Si BangKe tersenyum menang. Hebat dia, bisa menaklukan bapak. Aku saja putri kandungnya sendiri kadang mati kutu jika berhadapan dengan beliau.
"Masuk, Bang. Aku siap-siap." Kubuka pintu lebih lebar. Tak enak rasanya berbincang sambil berdiri di luar.
Dia membuka sepatu dan melangkahkan kaki. Aku bergegas masuk ke kamar, mengambil tas, dan sekilas mematut diri di cermin.
Sudah cantik, Rini.
Setelah selesai aku beralih menuju ke kamar Ibu, mengetuk pintu dan berpamitan berangkat.
Hati-hati begitu pesannya. Aku melihat bapak dengan telaten menyuapinya makan. Sekali pun kondisi fisik Ibu semakin hari semakin memburuk, Bapak tetap sabar merawatnya. Kami terus berjuang demi kesembuhannya.
"Ayo, Bang." Aku mengajaknya berangkat. Dia terdiam entah apa yang dipikirkannya. Dia menatapku tak berkedip.
Aku menjadi salah tingkah. Apa penampilanku ada yang aneh? Aku mencium kerah baju, masih harum. Lalu mengapa dia bersikap seperti itu?
"Bang. Kenapa diam? Nanti kita telat." Aku menarik lengan bajunya.
"Eh, iya." jawabnya. Dia merona. Aku melihatnya dengan jelas. Wajah itu, menjadi kemerahan saat tak sengaja aku menyentuh lengannya tadi.
Kami berdua berboncengan. Aku meletakkan tas di tengah, diantara aku dan dia. Menjaga saja, jangan sampai seperti kejadian waktu itu, aku terpaksa memeluknya karena motor yang tiba-tiba saja berhenti mendadak.
"Bang, berhenti di sini aja." Aku menepuk bahunya. Aku merasa tak enak jika dilihat yang lain. Dekat dengan Kellan bisa menjadi bahan gosip satu sekolahan.
Dia terkenal, penggemarnya banyak. Aku tidak mau di bully oleh mereka. Apalah aku hanya gadis biasa. Lagi pula, memang aku punya hubungan apa dengan dia? Tidak ada kan.
"Kenapa? Lu ga suka gue anterin?"
"Bukan gitu, Bang. Ga enak sama yang lain."
"Sama siapa?"
"Pacar abang. Sama fans-nya. Aku turun di sini aja."
"Enggalah. Gue belum punya pacar. Biasa aja."
"Jangan, Bang. Berhenti di sini pokoknya."
"Ga usah. Nanti bapak marah."
"Tadi engga, kok."
"Udah, ya." Aku berlari menuju gerbang. Sementara itu, motornya melaju, melewati ku begitu saja. Lima menit lagi sebelum bel berbunyi. Jika sampai terlambat, bersiap-siap kena skors. Siswa tetap diberikan izin untuk masuk kelas, tapi pulangnya harus tetap menjalani hukuman. Aku pernah, membersihkan toilet belakang.
"Baru datang. Untung ga telat." Maya menghampiriku.
"Iya, nih. Kesiangan."
"Alah, bo'ong." Wajahnya penuh selidik. "Tadi bareng sama BangKe, kan?" bisiknya.
Aku terkejut. Dari mana dia tahu?
"Engga."
Maya tersenyum-senyum sambil menyenggol lenganku. Akhirnya aku menceritakan semuanya sejak awal kedatangan Kellan ke rumah. Sikap Bapak yang tidak biasanya, malah ramah dan mencair.
"Si BangKe kan suka sama lu. Masih ga ngerti juga?"
Aku membuang muka. Malu. Entah.
"Ga tau."
"Semua orang di sekolah ini juga udah pada tau kalau dia ngincer elu." Maya melingkarkan lengannya di bahuku. Matanya dikedipkan, sengaja menggodaku.
"Apaan, sih?"
"Udah terima aja. Kasian dia."
"Aku ga boleh pacaran sama bapak." Aku menatap wajah Maya dalam.
Ada amanah orang tua yang harus aku jaga. Pesan bapak, anak perempuan harus pandai menjaga diri. Lelaki, jika suka pada wanita, biasanya selalu ingin berdekatan, ingin menyentuh. Itulah yang selalu bapak tekankan. Nanti akan tiba masanya, aku menikah dan hidup bersama dengan lelaki yang sudah halal menjadi pasanganku. Semua sentuhan itu, boleh dilakukan jika sudah sah ijab dan kabul.
"Elah. Lu polos amat."
"Aku cuma berusaha taat."
Teng!
Bel berbunyi. Para siswa siswi berjalan masuk ke dalam kelas. Mereka berebutan seperti anak kecil.
Aku mengeluarkan beberapa buku paket. Hari ini Selasa, berarti mata pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Pelajaran yang bagiku cukup sulit dipahami karena banyak sekali kosa kata yang harus di hafal sekalipun bahasa bangsa sendiri.
Dengan tenang aku menyimak satu persatu uraian yang disampaikan oleh Ibu Farida. Padahal sebenarnya, pikiranku sudah melayang entah ke mana. Ke rumah, Ibu, Bapak, dan ... Si BangKe.
* **
"Makan apa kita?" Maya menarik tanganku menuju kantin.
"Liat aja entar. Aku juga bosen makan itu terus."
Sambil berjalan kami bercerita. Macam-macam. Mulai dari gosip A ke B terus C dan akhirnya D.
"Eh tau ga, nanti buat lomba sains berikutnya, pacar lu yang ditunjuk lagi," kata Maya.
"Pacar aku? Siapa?"
"Si BangKe."
"Ih, ngawur."
"Alah, lu seneng kan ya?"
"Apaan sih. Ngawur." Aku memukul bahu Maya. Dia mengelak dan berlari. Di menjulurkan lidah. Aku ikut mengejarnya. Kali berlarian di sepanjang lorong menuju kantin.
Napasku terengah-engah. Aku memilih untuk berhenti sebentar di depan pintu masuk kantin. Sementara itu, Maya terus berjalan ke dalam meninggalkanku.
"Rini." Aku menoleh saat mendengar namaku disebut.
Lelaki itu tersenyum melihatku.
Manis sekali.
Jantungku berdetak kencang.
Wajahku merona.
"Bareng, yuk." Dia mendekatiku. Kami berjalan bersisian menuju ke dalam. Banyak pasang mata yang melihat. Aku terus menunduk, tak berani menatap mereka, sedangkan dia dengan santainya melenggang sambil mengajakku berbicara.
Bisik-bisik mulai terdengar.
Ya Tuhan. Aku belum sanggup.